LPSK Khawatir Bharada E Tertekan Jika Bertemu Ferdy Sambo saat Rekonstruksi

Merdeka.com - Merdeka.com - Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) mengkhawatirkan adanya potensi tekanan psikis yang dialami Bharada E alias Eliezer Pudihang Lumiu ketika menjalani rekonstruksi yang dilakukan Tim Khusus (Timsus) Polri, Selasa (30/8) besok.

Wakil Ketua LPSK Susilaningtias mengatakan lantaran Bharada E saat rekonstruksi yang berlangsung di rumah dinas Komplek Perumahan Polri, Duren Tiga akan bertemu dengan Irjen Ferdy Sambo serta tersangka lainnya.

"Tetap, sudah kami siapkan, kami siap (dampingi). Tetapi kami masih mempertimbangkan soal itu (hadir langsung) jangan sampai kemudian mempengaruhi kondisi psikisnya. Jangan- jangan nanti malah enggak kuat untuk menyampaikan. Ya kita lihat itu, tidak nyaman dan aman untuk mengungkap yang dia (Bharada E) tahu," ucap Susi saat ditemui di kantornya, Senin (29/8).

Oleh sebab itu, Susi mengatakan jika pihaknya sampai saat ini masih berusaha mencari jalan terbaik dengan berkoordinasi bersama Bareskrim Polri. Terkait aturan teknis rekonstruksi apakah bisa dilakukan memakai peran pengganti.

"Aku belum ngomong, belum tanya, teman-teman yang sedang ke sana koordinasi dengan Bareskrim, kita memastikan kondisi Bharada E si Richard termasuk dengan hukum ini gimana. Proses hukum acaranya gimana boleh gak memungkinkan gak, tidak secara langsung atau dibikin peran pengganti," tuturnya.

Menurutnya, meskipun ada jaminan keselamatan dari pihak kepolisian. Namun potensi tekanan psikis tetap masih ada dialami Bharada E tetap masih memungkinkan terjadi.

"Karena, kami mempertimbangkan itu, oke keselamatan bisa dijamin, kita juga mengawal mengamankan ya. Tapi masalahnya ada kondisi psikis yang pasti dihadapi Richard," ujarnya.

Padahal, Susi menilai jika sejauh ini Bharada E telah dalam kondisi baik dan komitmen dengan keterangan yang disampaikannya terkait penembakan atas perintah Ferdy Sambo. Hal itu, terjadi semenjak dirinya ditahan dan terpisah dari Mantan Kadiv Propam tersebut.

"Sejauh ini sampai kemarin sidang etik kemarin sih masih terus karena pemeriksaan tambahan sebelumnya sudah dilakukan terhadap Richard dan dia masih dalam keterangan yang sebelumnya masih komit, termasuk yang sidang etik kemarin dia masih komit," tuturnya.

"Ini kan enggak dihadapkan langsung, makanya kita belum tahu, makanya kemarin kita antisipasi supaya dia enggak ngeblank, kemudian tertekan, kami antisipasi menggunakan video conference melalui zoom," tambahnya.

Oleh karena itu, LPSK masih mendiskusikan terkait teknis rekonstruksi yang bakal menghadirkan Bharada E dengan seluruh tersangka, termasuk ke tim kuasa hukumnya.

"Kalau yang ini kan harus langsung, makanya kita diskusikan koordinasikan dengan Bareskrim, teknisnya seperti apa. Termasuk pengacara Bharada E," kata dia.

Sebelumnya, Polri berkoordinasi dengan Lembaga Perlindungan Saksi Korban (LPSK) terkait rekonstruksi kasus tewasnya Brigadir J alias Nofryansyah Yoshua Hutabarat. Koordinasi ini berkaitan dengan pengamanan terhadap Bharada Richard Eliezer yang berstatus Justice Collaborator (JC).

"Sedang dikoordinasikan dengan LPSK (pengamanan terhadap Bharada E)," kata Direktur Tindak Pidana Umum (Dir Tipidum) Bareskrim Polri, Brigjen Andi Rian saat dihubungi, Senin (29/8).

Meski begitu, Andi memastikan Polri akan memberikan pengamanan khusus terhadap Bharada E pada saat pelaksanaan rekonstruksi nanti.

Selain itu, pengamanan terhadap eks Kadiv Propam Polri Irjen Ferdy Sambo nantinya akan dilakukan sesuai dengan standar pengamanan seorang tahanan.

"(Pengamanan FS) Standar pengamanan tahanan," ujarnya.

Secara terpisah, Kadiv Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo menambahkan, pihaknya telah menyiapkan anggota untuk melakukan pengamanan dalam pelaksanaan rekonstruksi tersebut. Namun, dia belum bisa memastikan apakah pengamanan itu melibatkan personel Brimob atau tidak.

"Sudah disiapkan oleh penyidik, teknis pengamanan dan lain-lain," ujar Dedi.

Polisi menyatakan rekonstruksi dibutuhkan untuk memperjelas konstruksi peristiwa insiden berdarah pada awal Juli 2022 lalu. Direktur Tindak Pidana Umum (Dir Tipidum) Bareskrim Polri Brigjen Andi Rian mengatakan empat orang tersangka akan menggunakan baju tahanan pada saat menjalani rekonstruksi.

"Empat tersangka berstatus tahanan akan menggunakan baju tahanan," kata Andi Rian.

Sementara Putri Candrawathi tidak akan menggunakan baju tahanan. Sebab, hingga saat ini dirinya hanya baru berstatus sebagai tersangka dan bukan sebagai tahanan.

"(Karena), tersangka PC (Putri Candrawathi) bukan tahanan," ujarnya. [eko]