LSPR inisiasi diskusi disabilitas atasi tantangan ekonomi & kesehatan

LSPR Institut Komunikasi dan Bisnis menginisiasi diskusi antara perwakilan Indonesia dan Jepang untuk membantu person with developmental disorder atau penyandang disabilitas perkembangan untuk bisa menghadapi berbagai tantangan.

Tantangan yang kerap dihadapi para penyandang disabilitas perkembangan itu, termasuk masalah ekonomi, kualitas hidup yang kurang baik, serta rendahnya pemahaman untuk mengakses layanan kesehatan, serta fasilitas pendukung lainnya.

"Untuk mencari solusi atas permasalahan tersebut, kami berharap kegiatan Indonesia-Japan Roundtable Discussion on Developmental Disorder dapat meningkatkan pemahaman publik mengenai situasi tentang penyandang disabilitas perkembangan di Indonesia," kata CEO dan Pendiri LSPR Institute of Communication & Business Prita Kemal Gani melalui keterangan tertulis di Jakarta, Selasa.

Ia menyebutkan salah satu isu penting yang menjadi bahan diskusi adalah mengenai riset untuk kebijakan dan implementasi terkait dengan penyandang disabilitas perkembangan di Indonesia dan Jepang.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), lanjut dia, pada tahun 2020 terdapat 22,5 juta penyandang disabilitas di Indonesia.

Beberapa poin penting yang dibahas dalam diskusi antara lain berbagi informasi dan pengalaman tentang penyandang disabilitas perkembangan, khususnya dalam konteks kebijakan dan implementasinya di Indonesia dan Jepang. Selanjutnya, mengidentifikasi isu-isu penting terkait penyandang disabilitas dan menampung suara serta aspirasi mereka.

Selain itu, juga menciptakan sinergi dan mengembangkan dukungan untuk kerja sama internasional terkait dengan disabilitas perkembangan, serta memfasilitasi pertukaran dan diskusi di tahap-tahap selanjutnya, termasuk memberikan kontribusi untuk rekomendasi pembuatan kebijakan ke depannya.

"Diskusi ini juga untuk memperkuat hubungan kerja sama antara Indonesia dan Jepang dengan berbagi pengalaman serta melakukan dialog dengan para perwakilan dari kedua negara," katanya.

Prita juga menyebut diskusi tersebut sebagai bagian dari kolaborasi kegiatan riset internasional tentang disabilitas perkembangan di Asia Tenggara.

Untuk kegiatan itu, LSPR berkolaborasi dengan The National Center for Persons with Severe Intellectual Disabilities, Nozominosono, Jepang, dan didukung oleh Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA).

Hadir pada diskusi tersebut perwakilan pemerintah Indonesia dan Jepang, yaitu dari Kementerian Sosial RI dan Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Sosial Jepang, guna mendapatkan dukungan atas inisiatif bersama membantu penyandang disabilitas, juga Komisi Nasional Disabilitas Indonesia, serta organisasi dan komunitas yang mewakili penyandang disabilitas perkembangan.

Hadir pula Wakil Pimpinan Yayasan Autisme Indonesia Doktor Adriana Soekandar Ginanjar dan Staf Khusus Presiden RI yang juga penyandang disabilitas Angkie Yudistia.

Baca juga: Isyarat Andhika untuk kesetaraan informasi di ASEAN Para Games
Baca juga: Beyonce akan hapus lirik yang dianggap singgung penyandang disabilitas

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel