Luar Biasa, Terdapat 4.501 Aset Kripto yang Tersebar di Seluruh Dunia

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Perdagangan aset kripto terus melambung dalam beberapa tahun terakhir. Nama Bitcoin, Ethereum hingga Dogecoin semakin familiar terdengar. Tercatat, di 2013 hanya ada 66 aset kripto jumlah tersebut berkembang menjadi 4.501 aset kripto di 2021.

"Sekarang ini ada 4.501 penyedia uang kripto di seluruh dunia. Pada 2013 jumlah penyedia uang kripto di dunia hanya 66 saja termasuk bitcoin," ujar Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Iman Sugema, dalam diskusi daring, Jakarta, Kamis (24/6/2021).

Pertambahan penyedia aset kripto berbanding terbalik dengan jumlah mata uang di dunia. Total mata uang di dunia hanya sekitar 120-an. "Sampai sekarang di dunia jumlah mata uang di dunia hanya 120 an. Dan itu terjadi sejak lama," katanya.

Adapun jenis kripto yang paling banyak diperjualbelikan adalah Bitcoin. Kemudian kedua adalah Etherium dan Ripple. Lalu di 2020 ada fenomena dogecoin yang harganya melesat dengan pesat di waktu singkat.

"Sejauh ini paling banyak mendapat peminat adalah Bitcoin. Bitcoin memagang mayoritas pasar. Bitcoin merupakan aset kripto pertama yang diluncurkan di 2009," kata Iman.

Melihat maraknya perdagangan kripto, Iman meminta pemerintah menyiapkan regulasi agar tak banyak kecurangan yang terjadi. Hal tersebut untuk meminimalisir kerugian yang mungkin terjadi ke depan.

"Sekarang dalam jangka waktu singkat ada ribuan. Ini harus ada regulasi yang lebih ketat sehingga kemudian tidak menjadi operasi penipuan. Sayang sekali kalau keunggulan teknologi ini hanya digunakan untuk spekulasi dan penipuan," tandasnya.

Reporter: Anggun P. Situmorang

Sumber: Merdeka.com

Harga Bitcoin Kembali Naik Setelah 48 Jam Anjlok

Ilustrasi Mata Uang Kripto, Mata Uang Digital. Kredit: WorldSpectrum from Pixabay
Ilustrasi Mata Uang Kripto, Mata Uang Digital. Kredit: WorldSpectrum from Pixabay

Sebelumnya, harga bitcoin kembali berada di atas USD 30.000 pada Rabu 23 Juni 2021, setelah volatilitas ekstrem yang mengganggu cryptocurrency atau uang kripto dalam beberapa bulan terakhir.

Seperti dilansir CNN, Kamis (24/6/2021), mata uang digital kembali melonjak 5,4 persen selama 24 jam terakhir. Harga bitcoin berada di angka USD 34.368 per koin, menurut CoinDesk. Angka tersebut berbalik arah dari hari sebelumnya.

Tercatat, harga bitcoin sempat jatuh di bawah USD 30.000 untuk pertama kalinya sejak akhir Januari. Meski demikian, uang kripto telah kehilangan setengah nilainya sejak mencapai level tertinggi pada April.

Tak hanya bitcoin, mata uang lain telah mengalami perubahan harga yang serupa. Ethereum dan dogecoin naik sekitar 4,8 persen dan 8,9 persen setelah terjebak dalam aksi jual di awal pekan ini.

Nilai kripto turun secara dramatis tahun ini karena berbagai alasan, termasuk kekhawatiran dampak lingkungan dari penambangan koin dan meningkatnya pengawasan pemerintah China.

Pada Senin, 21 Juni 2021, People's Bank of China mengatakan, pihaknya telah memanggil Alipay, platform pembayaran online populer yang dijalankan oleh Jack Ma's Ant Group, bersama dengan lima perusahaan pemberi pinjaman untuk menyelidiki dan mengidentifikasi secara komprehensif pertukaran dan dealer cryptocurrency.

Perkembangan tersebut memicu penurunan 12 oersen harga bitcoin selama periode 24 jam. Media pemerintah Tiongkok melaporkan, provinsi barat daya Tiongkok telah memerintahkan penghentian semua operasi penambangan kripto dan memutus pasokan listrik ke banyak fasilitas penambangan.

Sichuan adalah pusat utama untuk penambangan bitcoin. Edward Moya, analis pasar senior di Oanda, mencatat peningkatan tekanan di China dalam laporannya kepada klien minggu ini.

"Bitcoin perlu mempercepat transisi penambangan keluar dari China. Bitcoin tetap terjebak dalam kisaran USD 30.000 hingga USD 41.000, tetapi risiko penurunan menarik perhatian semua orang," ungkapnya.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel