Lubang Hitam Berhasil Mengecoh Astronom

·Bacaan 2 menit

VIVA – Para astronom menyaksikan awan gas yang dikenal sebagai G2 berayun mendekati lubang hitam supermasif di pusat Bima Sakti pada musim panas 2014. Awan gas itu mengeluarkan percikan api yang tidak terbang. Meski begitu lubang hitam tidak 'memakan' G2 melainkan sebaliknya.

"Awan gas justru melenggang kangkung dan mampu bertahan dari kematiannya," demikian menurut keterangan para astronom, seperti dikutip dari situs Space, Minggu, 6 Juni 2021.

Baca: Intelijen Amerika Punya Pengumuman Mengejutkan

Semua astronom juga setuju bahwa lubang hitam adalah pengganggu besar. Namun, fakta berbicara lain soal awan gas, di mana lubang hitam mengabaikan benda yang berada didekatnya yang mengandung gas. "Itu adalah hal mengejutkan dan mustahil," jelas para astronom.

Mereka menyebut kemungkinan lubang hitam supermasif di pusat galaksi bukanlah seperti lubang hitam pada umumnya. Tapi bola materi gelap yang halus. Para astronom sudah lama mengira bahwa pada inti Bima Sakti, yang dikenal sebagai Sagitarius A, terdapat lubang hitam supermasif.

Para astronom tidak dapat melihat lubang hitam karena tidak memancarkan cahayanya sendiri. Sebaliknya, mereka menyimpulkan keberadaan lubang hitam dengan mengamati pergerakan sekelompok bintang yang dikenal sebagai Bintang-S.

Bintang-S mengorbit di sekitar objek pusat yang tersembunyi dan tidak terlihat. Dengan memetakan orbitnya selama bertahun-tahun maka para astronom dapat menyimpulkan massa dan ukuran objek pusat tersebut.

Kandidat yang paling mungkin untuk menjadi objek pusat tersembunyi itu adalah lubang hitam dengan perkiraan massa lebih dari 4 juta kali massa Matahari. Tapi, Bintang-S bukan satu-satunya yang berkeliaran di pusat galaksi, namun juga gumpalan gas, yang salah satunya dijuluki G2.

Setelah para astronom menemukan gumpalan itu beberapa dekade yang lalu mereka menyadari bahwa orbit G2 akan membawanya sangat dekat dengan lubang hitam, bahkan cukup dekat, sehingga gravitasi yang kuat dari lubang hitam bisa merobek awan gas itu. Setelah pendekatan terdekat G2 ke lubang hitam pada 2014, awan gas itu nampaknya bertahan seutuh-utuhnya.

Penjelasan yang paling masuk akal untuk kelangsungan hidup G2 adalah bahwa itu lebih dari sekadar awan gas biasa. Selai itu, penjelasan lainnya yang lebih radikal adalah kemungkinan lubang hitam supermasif sebenarnya bukanlah lubang hitam yang dimaksud selama ini, tapi gumpalan materi gelap yang tidak terlihat.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel