Luhut Bantah Ekonomi Indonesia Dikendalikan China

Merdeka.com - Merdeka.com - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan membantah perekonomian Indonesia dikendalikan oleh China. Hal ini dibuktikan dengan kian mengecilnya defisit nilai perdagangan dengan salah satu negara raksasa ekonomi dunia tersebut.

"Kita kalo di bilang (perekonomian) dikontrol oleh China, kontrol dari mana?," ujarnya dalam acara Seminar Nasional Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut (STTAL), ditulis Kamis (26/5).

Dia menyampaikan, jarak defisit neraca perdagangan Indonesia dengan China terus mengalami penyusutan dalam dua tahun terakhir. Dia mencatat, nilai defisit perdagangan Indonesia dengan China berhasil di tekan menjadi kurang dari USD 2 miliar.

Bahkan, di awal tahun ini neraca perdagangan RI terhadap China mengalami surplus. Padahal, lanjut Menko Luhut, defisit neraca perdagangan antara Indonesia dan China pada dua sampai tiga tahun lalu tergolong tinggi.

"Trader defisit kita dengan China itu 2 sampai tahun lalu itu USD 27 miliar," bebernya.

Menurutnya, kian cemerlangnya kinerja neraca perdagangan Indonesia tak lepas dari kebijakan pemerintah terkait pengembangan industrialisasi dan hilirisasi. Antara lain dengan melarang ekspor komoditas tambang unggulan dalam bentuk mentah untuk mendorong nilai tambah.

"Petumbuhan ekspor Indonesia tertinggi di dunia, fakta itu," tutupnya.

Sebelumnya, Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia menyampaikan, pemerintah berencana mulai melarang ekspor bauksit mentah di tahun ini mengikuti jejak nikel. Selain bauksit, pemerintah juga akan menyetop ekspor timah mentah di penghujung 2022.

"Nikel kita setop, bauksit sebentar lagi akan kita setop di 2022, dan di 2022 akhir kita akan menyetop ekspor timah," ujar Menteri Bahlil dalam acara Road to G20: Investment Forum Kementerian Investasi/BKPM, Rabu (18/5).

Menteri Bahlil menyampaikan, larangan ekspor komoditas mentah terbukti efektif untuk meningkatkan nilai tambah. Hal ini tercermin dari peningkatan realisasi ekspor tambang pasca larangan ekspor nikel mentah diterapkan.

Selain itu, penerapan kebijakan larangan ekspor komoditas tambang dalam bentuk mentah diyakini akan memangkas nilai defisit neraca perdagangan yang masih terjadi. Salah satunya dengan negara ekonomi kuat seperti China.

"Sekarang defisit neraca perdagangan dengan China tidak lebih dari USD 2 miliar. Di 2022 pasti akan surplus neraca perdagangan China, ini kontribusi kita dari hilirisasi nikel," tutupnya. [azz]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel