Luhut Ingin RI Punya Lembaga Khusus Modifikasi Cuaca, Berawal dari Keresahan Jokowi

Merdeka.com - Merdeka.com - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menginginkan Indonesia memiliki lembaga khusus yang menaungi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC). Luhut mulanya bercerita ketika dirinya berada di lokasi gala dinner G20 di Garuda Wisnu Kencana (GWK) Bali.

Saat itu, dia mendampingi Presiden Jokowi meninjau lokasi tersebut. Namun, hujan mendadak turun begitu lebat. Dia melihat wajah Jokowi termenung, khawatir hujan deras akan terjadi saat acara gala dinner nanti.

"Sore itu ketika mendampingi Presiden Joko Widodo meninjau lokasi Gala Dinner Kepala Negara anggota dan tamu undangan KTT G20 di pelataran Garuda Wisnu Kencana (GWK) Cultural Park, Bali, hujan mendadak turun begitu lebat. Sembari berteduh dan mendengarkan paparan dari koordinator acara khusus event Gala Dinner G20, Pak Wishnutama Kusubandio, saya melihat wajah Presiden yang termenung," kata Luhut dikutip dari akun Instagram resminya, Jumat (25/11).

"Tampaknya apa yang beliau pikirkan saat itu sama dengan yang saya pikirkan, kami ingin acaranya nanti berlangsung meriah dan semarak. Namun bagaimana jika hujan deras seperti ini malah turun di area GWK Cultural Park tanggal 15 November malam ketika acara berlangsung?" sambungnya.

Setelah mendampingi Jokowi, Luhut lalu bergegas untuk mengadakan rapat bersama tim khusus yang terdiri dari BMKG, BRIN, TNI AU, Kementerian PUPR, dan Pakar TMC Dr. Tri Handoko Seto. Tugas besar mereka untuk memastikan hujan tidak turun di GWK Cultural Park pada tanggal 15 November malam.

"Selain tugas tersebut, ada pula tugas lain yang tak kalah penting, yakni mengkondisikan cuaca agar tidak turun hujan ketika para kepala negara anggota G20 berjalan ke arah Bamboo Dome, yang terletak di outdoor area The Apurva Kempinski," ungkapnya.

Hasilnya berbuah manis. Gala Dinner KTT G20 berjalan lancar karena cuaca cerah. Atas kerja hebat tim TMC, Luhut sempat menemui Seto dan mendengar cerita perjalanannya melakukan perburuan awan di langit Bali.

"Beliau menyampaikan, ketika itu sebenarnya hujan sempat turun di wilayah Bali lainnya pada siang hari. Sejak awal, tim ini memang didesain untuk membuat skenario atau rekayasa cuaca. Ini dilakukan agar tiap agenda KTT G20, khususnya yang berada di outdoor, tidak terkendala oleh hujan," kata dia.

Dari perbincangan itu, Luhut merasa bahwa TMC perlu dimanfaatkan secara berkesinambungan. Tetapi, pemerintah harus mendukung secara penuh dari sisi anggaran dan regulasi.

"Dengan semua manfaat yang dihasilkan dari TMC ini, rasa penasaran saya muncul. Saya bertanya kepada Dr. Seto, 'apakah TMC ini bisa kita manfaatkan secara berkesinambungan?' Beliau jawab bisa, tapi syaratnya harus all out. Baik dari sisi anggaran, regulasi di mana pesawat yang digunakan tidak boleh terbang di malam hari, dan lain-lain," tuturnya.

Luhut mengakui, jika melihat mata anggaran di beberapa event pemerintah, TMC memang mendapat porsi anggaran paling kecil, padahal TMC sangat penting. Seperti contohnya pada saat pelaksanaan Gala Dinner KTT G20 tersebut, ada 4 pesawat dari TNI AU yang ditugaskan dengan berbekal suplai data dari BMKG terkait titik mana saja yang berpotensi hujan.

Menuruthya, butuh kecermatan serta perhitungan matang untuk mengetahui ketebalan awan dan berapa jumlah garam yang harus ditabur.

"Ini semua diperlukan agar hujan yang terjadi tidak menyebar. Dan yang perlu diketahui, ada 11 penerbangan yang membawa 29 ton garam untuk melakukan Teknik Modifikasi Cuaca pada saat itu. Bisa dibayangkan berapa besar anggaran yang harus dikeluarkan untuk melaksanakan operasi ini," ucapnya.

Menurut Luhut, TMC sangat saintifik dan bisa dimanfaatkan untuk banyak hal lain. Misalnya menanggulangi kebakaran hutan dan lahan, menurunkan hujan buatan untuk mengairi waduk sebelum musim kemarau tiba, mengantisipasi kekeringan, hingga untuk irigasi pertanian.

"Saya sampai pada satu kesimpulan bahwa sains dan teknologi sebesar ini perlu memiliki lembaga khusus yang menaungi Teknik Modifikasi Cuaca," kata Luhut.

Dia mengatakan, bahwa negara lain seperti Thailand punya lembaga khusus TMC dengan pertanggungjawaban kepada Raja. Dan pembuktian manfaat dari TMC juga terwujud pada Gala Dinner KTT G20 2022 di Bali, 15 November 2022 lalu, di mana acara berjalan sukses tanpa setetes pun air hujan jatuh di lokasi penyelenggaraan.

"Sebagai manusia, tugas kita hanya bekerja, hasil nya bukanlah kuasakita. Semoga ke depan bangsa Indonesia bisa semakin menguasai teknologi ini," tutup Luhut.

[ray]