Luhut tegaskan langkah Indonesia dukung ekonomi hijau

Nusarina Yuliastuti
·Bacaan 2 menit

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menegaskan langkah Indonesia untuk mendukung ekonomi hijau dan keberlanjutan terus dilakukan, meski berada di tengah upaya menaklukkan pandemi COVID-19.

"Kami berkomitmen pada target ini, yakni penurunan gas rumah kaca (GRK) untuk mengurangi dampak negatif perubahan iklim," katanya dalam paparan pada acara The 7th Singapore Dialogue on Sustainable World Resources (SDSWR) secara virtual, Rabu.

Indonesia menargetkan untuk mengurangi emisi GRK pada 2020 yaitu sebesar 26 persen dan meningkat 29 persen di tahun 2030. Selain itu, Indonesia juga berkewajiban menurunkan emisi karbon di sektor kehutanan sebesar 17,2 persen, sektor energi 11 persen, sektor limbah 0,32 persen dan sektor pertanian 0,13 persen dan sektor industri dan transportasi 0,11 persen.

Baca juga: Luhut: Vaksinasi COVID-19 dimulai minggu ketiga Desember

Luhut memaparkan Indonesia yang kaya akan sumber daya alam juga terus melakukan upaya restorasi dan rehabilitasi mangrove, terumbu karang hingga lahan gambut. Upaya mengurangi kebocoran sampah darat dan plastik ke laut ke laut juga dilakukan dengan mendorong program mengubah sampah menjadi energi (waste to energy) dengan pendekatan teknologi.

Pemerintah Indonesia sudah meresmikan tempat pengolahan sampah dengan sistem refuse derived fuel (RDF) di Cilacap, Jawa Tengah, pada Juli lalu, di mana sampah akan diolah menjadi briket alternatif bahan bakar pengganti batubara. Penggunaan briket sebagai bahan bakar, khususnya di industri, diyakini bisa menurunkan emisi gas buang dan metana.

"Dengan intervensi teknologi, kami telah mengembangkan waste to energy melalui RDF di Cilacap juga pilot project di Bantargebang, Bekasi," katanya.

Baca juga: Menkeu dorong transformasi ekonomi global berbasis pemulihan hijau

Demikian pula dengan pengembangan ekonomi sirkular di Indonesia yang dinilai Luhut berjalan dengan baik dengan dukungan banyak pihak.

"Soal manajemen hutan, kami begitu merawat hal ini. Beberapa pihak mengkritisi tapi beberapa kritik itu bias," imbuhnya.

Sementara itu, Menteri Keberlanjutan dan Lingkungan Singapura Grace Fu mendorong peningkatan kerja sama regional di kawasan ASEAN untuk masa depan yang lebih hijau.

Baca juga: WALHI: Indonesia perlu tingkatkan penurunan target emisi GRK

Menteri Fu mengatakan sebagian besar Asia Tenggara telah terhindar dari kebakaran dan kabut asap pada tahun ini. Meski risiko tersebut bisa terulang kembali tetap ada, perlu diambil tindakan.

"Saya ingin mengakui yang kuat kepemimpinan dan keteguhan Presiden Joko Widodo dan jajarannya yang telah berprestasi dalam mengurangi kebakaran lahan dan hutan di Indonesia. Dengan perubahan iklim, cuaca yang lebih hangat dan lebih kering di tahun yang akan datang, kerja sama regional harus terus kita tingkatkan mencapai visi ASEAN sebagai kawasan bebas asap," katanya.