Luis Arce ambil alih kepresidenan Bolivia dibawah bayang-bayang Morales

·Bacaan 3 menit

La Paz (AFP) - Ekonom sayap kiri, Luis Arce, yang mengambilalih kepresidenan Bolivia pada Minggu menghadapi tantangan untuk menyatukan masyarakat yang terpolarisasi dan membangkitkan kembali ekonomi yang babak belur akibat pandemi COVID-19.

Tetapi mungkin tantangan terbesarnya, menurut para analis, yakni menunjukkan bahwa ia benar-benar berkuasa, dan bukan sekedar boneka yang dimanipulasi oleh mantan presiden Evo Morales, tokoh dominan di partai Gerakan untuk Sosialisme.

Arce harus "mengkonsolidasikan legitimasinya sendiri di depan tokoh sekuat dan dengan media agresif seperti Evo Morales," kata ilmuwan politik, Ximena Costa kepada AFP.

Menurutnya, sejak hari pertama, Arce harus membuktikan bahwa Morales bukanlah kekuatan sesungguhnya di balik pemerintahan baru.

Ia juga harus membuktikannya seraya mengatasi kesulitan lainnya.

"Tantangan bagi pemerintah berikutnya yakni rekonsiliasi negara yang berkonflik dan menemukan solusi untuk berbagai krisis," kata analis politik, Carlos Cordero kepada AFP.

Politik Bolivia sangat terpolarisasi antara timur dan barat, kota dan pedesaan.

Dan terdapat tuduhan kebangkitan rasisme dan pengadilan yang melayani pemerintah ketimbang keadilan.

Morales menuai pujian yang luar biasa dari dalam dan luar negeri lantaran memimpin "keajaiban ekonomi" Bolivia, dengan Arce sebagai menteri keuangan dan ekonominya. PDB negara itu naik dari 9,5 miliar dolar AS menjadi 40,8 miliar dolar AS setahun dan kemiskinan berkurang dari 60 persen menjadi 37 persen. Akan tetapi Morales sering dikecam karena gayanya yang otoriter.

Karakter itulah, yang menurut sejumlah pihak membuatnya mengabaikan konstitusi, dan kekalahan dalam referendum untuk mengubah konstitusi, hingga dua kali mencalonkan diri untuk pemilihan ulang inkonstitusional.

"Kendati Luis Arce menjadi menteri Morales selama bertahun-tahun, ada harapan bahwa dia akan memimpin pemerintahan yang tidak kembali ke masa lalu, yang bukan pemerintahan otoriter seperti yang dilakukan oleh Evo Morales," kata Cordero.

Gereja Katolik mendesak Arce untuk membangun jembatan.

"Mari kita singkirkan ideologi yang memecah belah kami, yang menghadapkan dan membanjiri kami dengan polemik palsu, rasisme, nasionalisme, regionalisme, dan perebutan kekuasaan. Mari kita bangun masyarakat yang bersatu yang menghormati perbedaan kami," kata Gereja Katolik melalui pernyataan.

Bahkan satu kesulitan yang akan dihadapi Arce sebelum berupaya menyatukan negara adalah mengatasi perpecahan internal di dalam MAS, antara kaum moderat dan orang yang berharap membawa Morales kembali berkuasa.

Perpecahan internal itu terbukti dalam perselisihan mengenai kapan Morales akan kembali dari pengasingan di Argentina. Morales sudah setahun berada di Argentina sejak mengundurkan diri sebagai presiden dan melarikan diri dari Bolivia menyusul aksi protes pemilu kontroversial selama tiga pekan.

Morales tidak akan menghadiri pelantikan Arce, namun akan pulang ke tanah air pada Senin.

Kembalinya Morales akan menjadi "pertanyaan bagi pemerintahan baru," kata Costa.

Itu ingin "membuat kesepakatan internal (di dalam partai MAS) sehingga Evo Morales tidak akan kembali ke negara itu untuk beberapa waktu, sebab hal itu akan melemahkan pemerintah baru, melemahkan mereka dan membuat mereka terlihat seperti boneka dan bukan pemimpin," kata Costa .

Tantangan besar lainnya yakni menyelamatkan perekonomian.

Terdapat prospek besar bahwa Arce (57) mampu melakukan keajaiban lainnya, namun di masa lalu Bolivia mendapat keuntungan dari harga tinggi bahan baku primer.

Kini, pemerintahan baru dihadapkan pada ekonomi yang diproyeksikan anjlok lebih dari enam persen tahun ini, dengan defisit fiskal sembilan persen, penambahan utang, pendapatan pajak yang minim, dan cadangan yang menyusut.