Lula, ikon sayap kiri Brazil dibebaskan dari hukuman penjara

Oleh AFP

Luiz Inacio Lula da Silva, ikon sayap kiri yang juga mantan presiden Brazil, keluar dari penjara Jumat setelah menjalani hukuman satu setengah tahun berada di belakang jeruji karena kasus korupsi.

Lula mengenakan T-shirt hitam dan jas, mengacungkan tinju ke udara ketika ia keluar dari markas polisi federal di Curitiba dan dengan cepat dikerumuni oleh ratusan pendukung dan wartawan.

Lula berpidato di depan kerumunan, berterima kasih kepada para pendukungnya, kolega dan pengacara, tapi suaranya kadang-kadang tenggelam oleh sorak-sorai kerumunan dan kembang api.

"Saya tidak menyangka bahwa hari ini saya bisa berada di sini berbicara dengan Anda setelah selama 580 hari selalu mengucapkan selamat pagi, selamat siang atau malam, tidak peduli apakah hujan turun atau 40 derajat (Celcius)," katanya, diapit olehnya pacarnya Rosangela da Silva, yang dia cium di atas panggung.

Lula yang sangat dinanti-nantikan sejak ditahan pada April 2018 datang beberapa jam setelah pengacaranya meminta pembebasan segera pria berusia 74 tahun itu, yang harus menjalani hukuman hampir sembilan tahun karena korupsi dan pencucian uang.

Kamis malam, Mahkamah Agung membatalkan aturan yang mewajibkan penjahat yang dihukum untuk masuk penjara setelah kehilangan banding pertama mereka. Lula adalah satu dari beberapa ribu napi yang dapat mengambil manfaat dari keputusan tersebut.

Para terpidana itu akan tetap bebas sampai mereka kehabisan hak untuk mengajukan banding - sebuah proses yang menurut kritikus bisa membutuh waktu bertahun-tahun dalam kasus-kasus yang melibatkan orang yang mampu membayar pengacara mahal.

Banyak dari mereka yang terkena dampak putusan 6-5 tersebut adalah para pemimpin politik dan bisnis yang terjebak dalam penyelidikan korupsi besar-besaran yang disebut Pencucian Mobil yang dimulai pada 2014.

Lula "sangat tenang" dan putusan Mahkamah Agung memberinya "harapan bahwa akan ada keadilan," kata pengacaranya Cristiano Zanin sebelumnya.

Lula, yang memimpin Brasil dari 2003 hingga 2010, menerima banyak ucapan terima kasih jutaan warga Brasil karena mendistribusikan kembali kekayaan untuk menarik mereka keluar dari kemiskinan, dihukum penjara delapan tahun dan 10 bulan karena korupsi.

Dia dijatuhi hukuman hampir 13 tahun penjara pada bulan Februari dalam kasus korupsi terpisah dan masih menghadapi setengah lusin pengadilan korupsi.

Lula membantah semua tuduhan itu, dengan alasan bahwa mereka bermotivasi politik untuk menjauhkannya dari pemilihan presiden 2018 yang dimenangi Presiden sayap kanan Jair Bolsonaro.

"Aku datang untukmu, tunggu aku!" da Silva, pacar Lula, melalui tweet setelah Mahkamah Agung mengumumkan keputusannya.

"Jika semua yang lain melakukan ha lebih buruk dan bebas, mengapa dia tidak?" kata Eleonora Cintra, seorang warga Sao Paulo yang berusia 74 tahun kepada AFP.

Bolsonaro hanya bungkam tentang putusan pengadilan yang membebaskan musuh bebuyutannya. Namun putra-putranya telah mencuit di Twitter untuk menyerang keputusan tersebut.

"Ribuan tahanan akan dibebaskan dan menggetarkan semua orang, terlepas dari kepercayaan politik mereka, menghasilkan reaksi sosial dan ekonomi internal dan eksternal yang serius," twit Carlos Bolsonaro.

Menteri Kehakiman Sergio Moro, yang menghukum Lula ketika dia menjadi hakim pada tahun 2017, mengatakan keputusan Mahkamah Agung harus dihormati, tetapi dia mencatat "Kongres dapat memodifikasi Konstitusi atau hukum" untuk memungkinkan pemenjaraan para penjahat yang dihukum setelah banding pertama mereka.