Lulusan SMK akan Dididik Jadi Ahli Keamanan Siber

Lazuardhi Utama, Misrohatun Hasanah
·Bacaan 1 menit

VIVA – Badan Siber dan Sandi Negara atau BSSN mencatat Indonesia mengalami lebih dari 325 juta serangan siber yang terjadi selama Januari hingga Oktober 2020. Dari jumlah tersebut, serangan paling dominan adalah jenis jebakan tautan phishing, distributed denial of services, dan ransomware.

Potensi kerugian ekonominya sebesar US$34,2 miliar (Rp481 triliun), atau sekitar 3,7 persen dari total Pendapatan Domestik Bruto (PDB). Tapi sayangnya, Indonesia masih kekurangan sumber daya manusia (SDM) di bidang keamanan siber.

Baca: Presiden Terpilih AS Joe Biden dalam Bahaya

"Sebenarnya bisa diatasi dengan memanfaatkan lulusan SMK dari Jurusan Teknik Komputer dan Informatika. Tapi kenyataannya lulusan SMK justru mendominasi angka pengangguran sejak tahun 2015," kata Ketua InfraDigital Foundation (IDF), Rofi Ash Siddiq, Jumat, 4 Desember 2020.

IDF bekerja sama dengan Mastercard Center for Inclusive Growth, melalui Mastercard Academy 2.0, dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat membuat rangkaian program Pelatihan Keamanan Siber (Cyber Security Training Program).

"Tujuan utama program ini adalah mengurangi angka pengangguran lulusan SMK yang berasal dari kalangan prasejahtera dengan memberikan kemampuan keamanan siber yang bisa jadi bekal bagi peserta untuk mandiri," tuturnya.

Sepanjang tahun ini, Cyber Security Training Program telah melatih 672 murid dan 80 guru dari 52 SMK di Jawa Barat. Nilai tertinggi akan disponsori untuk mengikuti sertifikasi keamanan siber, CompTIA CySA Plus, yang diterbitkan oleh perusahaan teknologi Amerika Serikat (AS).