MA India tetapkan hukuman gantung pelaku pemerkosaan

NEW DELHI (Reuters) - Mahkamah Agung India, Selasa, menolak permohonan peninjauan ulang vonis mati bagi empat pria pelaku pemerkosaan sekaligus pembunuhan terhadap seorang gadis di dalam bus di New Delhi, sehingga permohonan kepada presiden sebagai satu-satunya harapan cara yang memungkinkan.

Pelecehan yang terjadi pada 2012 terhadap mahasiswi fisioterapi di dalam bus yang sedang melaju menghebohkan India sekaligus memicu undang-undang baru melawan kekerasan seksual, termasuk vonis mati untuk pemerkosaan di beberapa kasus.

Dua pekan kemudian korban meninggal dunia di rumah sakit Singapura akibat luka parah yang dideritanya.

Pengadilan menyebutkan bahwa tidak ada alasan untuk meninjau ulang keputusan mereka yang menegakkan vonis mati bagi keempat terdakwa, yang semuanya buruh di ibu kota India.

"Kami sudah melalui petisi kuratif dan dokumen yang relevan. Pendapat kami, tidak ada kasus yang dibuat dalam parameter yang terindikasi dalam keputusan pengadilan ini," menurut pengadilan.

Keempat terdakwa itu divonis pada 2013 dan seluruh banding mereka gugur di pengadilan yang lebih tinggi. Pekan lalu pengadilan New Delhi menyebutkan bahwa para terdakwa akan dieksekusi gantung pada 22 Januari.

Keluarga korban menyambut baik putusan pengadilan.

"Saya senang. Kami ingin melihat mereka digantung. Hanya dengan cara itu lah keadilan akan diberikan untuk putri kami yang mengalami kesakitan," kata ayah korban.

Kekerasan seksual terhadap kaum perempuan menjadi masalah besar di India, dimana satu pemerkosaan terjadi setiap 20 menit. Banyak kasus yang menuai kemarahan dan rasa muak di penjuru negeri.

A. P. Singh, pengacara keempat terdakwa, mengaku pihaknya akan membaca perintah tertulis pengadilan dan memutuskan langkah selanjutnya.