Maaf Aku Belum Bisa Memberikan Menantu Idamanmu, Ayah

·Bacaan 5 menit

Fimela.com, Jakarta Membahas kisah dan cerita tentang ayah memang tak ada habisnya. Begitu banyak momen tak terlupakan yang kita miliki bersama ayah tercinta. Mulai dari momen paling bahagia hingga momen paling sedih. Setiap hal yang berkaitan dengan ayah selalu berkesan seperti tulisan kiriman Sahabat Fimela yang disertakan dalam Lomba Share Your Stories November 2021 Surat untuk Ayah berikut ini.

TERKAIT: Bagi Anak Perempuan, Ayah adalah Sosok Pahlawan Hebat Pertama di Hidupnya

TERKAIT: Di Balik Sosok Ayah yang Tampak Kuat, Ada Rasa Lelah yang Disimpan Sendiri

TERKAIT: Ayah, Sosok Paling Sabar yang Jadi Sumber Kekuatanku untuk Selalu Tegar

***

Oleh: Anggra

Awalnya, ayahku adalah sosok yang normatif. Termasuk dalam hal pernikahan. Di saat semua tetangga dan rekanannya mengunduh mantu atau bahkan menimang cucu, dia belum bisa melakukan hal yang sama, sehingga galau hatinya. Anak-anaknya yang sudah cukup umur, belum ada yang tampak akan menikah.

Sementara itu, anak perempuannya ini santai banget hidupnya padahal sudah >25 tahun, bahkan masuk kepala tiga. Ya ingin sih bertemu jodoh, melakukan dream wedding, punya anak dan foto keluarga bahagia ala-ala yang lain di media sosial. Kalau sudah berusaha tapi sama Allah SWT belum dikasih jalan, mau gimana lagi?

Kakakku laki-laki, lebih cuek lagi dari aku. Jadi sepertinya belum bisa diharapkan. Sedangkan adikku masih kuliah, jauh banget. Mau tidak mau, aku sebagai anak perempuan dan anak tengah yang jadi sasaran harapan dan impiannya.

Duluan Kamu atau Duluan Papa

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/PRPicturesProduction
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/PRPicturesProduction

Saking pernah mendesaknya, ayahku pernah berkata, "Ya sudah, kita lihat saja. Duluan kamu atau duluan papa."

Maksudnya, duluan aku yang menemukan pria idamanku, atau duluan papa yang tutup usia. Tentu saja aku takut dengan ucapan ini, tapi sejak kapan ayahku yang arif dan bijaksana pada orang lain jadi begini pada keluarganya sendiri?

Karena kesal dengan sikap ayah yang bertolak belakang dengan figurnya yang kukenal selama ini, dan aku tidak ingin hidupku semata memenuhi keinginan orang tua tapi nyatanya aku tidak bahagia, aku berkata sambil menahan air mata. "Aku paling nggak suka yang begini. Seperti semua jadi salahku. Keluarga jadi malu karena aku belum menikah. Nanti kalau ada apa-apa juga karena aku belum menikah."

Ayahku yang tadinya sudah berkobar-kobar semangat '45 yakin bahwa diskusi ini akan membuatku mau menikah dengan pria pilihannya (yang tentu saja aku tidak sreg hingga tidak berkenan), kemudian mengendurkan diri. Yah, pada akhirnya beliau mengerti bahwa keinginannya ini belum bisa disesuaikan dengan keadaan.

Bukannya tidak laku, sudah silih berganti pria dalam hidupku. Yang main-main, yang beda agama, yang brondong, yang selingkuh, yang lebih dewasa, yang dikenalkan dari rekanan jauh ayah, yang cuma nguji kesetiaan tapi nggak jadi-jadi. Capeklah aku jadinya.

Tapi, suatu hari ada seorang lelaki yang pernah kusebut dalam doaku. Entah bagaimana, dalam beberapa hari, Allah SWT membuat kami bertemu dan saling mengutarakan perasaan. "Lho, kok cepet banget, Ya Allah?" batinku.

Dasar manusia. Dikasih lama, ga mau sabar. Dikasih cepet malah bingung.

Setelah beberapa bulan, akhirnya kami jadian. Ini pacar ter-official karena kukenalkan pada ayahku dan beliau setuju. Ayah menyukainya, dia juga senang karena seolah melihat figur ayahku sebagai bapak yang ia idamkan selama ini. Karena sejak kecil, ayahnya sudah meninggal.

Hubungan kami berjalan tidak sebentar, hampir 5 tahun. Lebih lama dari sinetron viral masa kini yang sudah 1,5 tahun belum tamat atau hampir sama dengan cicilan motor. Tapi rasanya bahagia, aman dan nyaman.

Dia sosok yang aku harapkan sejak lama. Ayah pun sangat suka dengan kepribadiannya. Dengan ini, aku seperti bisa memupuskan kejadian "Duluan kamu, atau duluan papa." yang menyesakkan dada itu. Seperti win-win solution. Bahkan ayahku berkata, "Kalian ini harapanku. Kalau kalian hancur, hancur pula lah papa ini."

Walaupun kami sudah sangat cocok seperti akan jadi saja, tapi, ada sebuah kendala. Kakaknya belum menikah dan kami belum bisa melangkah. Apa pun alternatif masa kini yang ada, tidak bisa kami ajukan. Sesekali ayahku mengingatkan tentang ini, karena aku pun perempuan. Ibunya pun mengingatkannya, tidak melangkahi kakak perempuannya.

Langkah yang Terhenti

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Setelah mencoba bertahan lebih lama, akhirnya hubungan kami yang harus menyerah. Bukan beda keyakinan, bukan orang ketiga, tapi karena keadaan. Di tengah pandemi pula. Mungkin seperti kata Tulus, "Cinta banyak bentuknya, tapi tak semua bisa bersatu."

Duniaku hancur saat kami berpisah, sudah terlanjur menunggu, sudah sejauh ini, tak tahu bagaimana bilang ini ke ayah. Tapi aku ini memang anak perempuannya yang tak bisa menyembunyikan kesedihanku. Saat aku berkata bahwa aku sudah tidak bersama pasanganku lagi, aku tahu ayahku kecewa, tapi ia tak bisa menangis atau sesedih aku.

Mungkin beliau malah lebih sedih melihatku sesedih hari itu. Tapi patah hati yang seperti ini juga tak karuan rasanya, karena aku juga mengecewakannya. "Maaf ya, Pa. Tapi papa jangan kenapa-napa ya," ujarku sambil terisak-isak memeluk ayahku. Aku takut kalimat 'duluan papa' itu datang.

Seolah memahami itu, cinta pertama dalam hidupku ini berusaha tegar, menenangkan dan menguatkan aku. Mempersilakan anaknya menenangkan hati dan pikiran yang kena tsunami patah hati. Berantakan banget selama berhari-hari, minggu, bahkan bulan.

Ayahku memang berkah terbaik dalam hidupku. Walau hubungan kami memang rumit seiring aku makin dewasa dan dirinya makin lansia. Sama-sama ngototnya.

Tapi ayahku yang tadinya ikut galau karena anaknya belum menikah, kini lebih berserah. Apalagi makin ke sini di tengah pandemi, makin menyadari penggaris hidup tiap orang dan keluarga berbeda. Sekecewa apa pun aku atau ayahku dengan keadaan ini, ya beginilah kondisinya.

Lagipula, keadaan satu keluarga dengan lainnya, tidak sama dan tidak harus sama.

Buat ayahku, maaf ya aku belum bisa menjadi anak yang memberi mantu atau cucu seperti keluarga sekitar. Tapi semoga sepanjang sisa waktu kita bersama ini, setidaknya kita bisa bersama dan aku memberikan baktiku ya.

Doaku juga yang terbaik buat semua anak-anak yang berusaha menyayangi ayah mereka, serta para ayah yang berusaha mencintai keluarganya. Apa pun keadaannya. semoga kebahagiaan senantiasa menyertai. Amin.

#ElevateWomen

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel