Mabes Polri akan Pakai Mobil Dinas Listrik, Termasuk untuk Kapolri

Merdeka.com - Merdeka.com - Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Listyo Sigit Prabowo akan menggunakan kendaraan listrik selama melakukan kedinasan. Sebelumnya, Sigit sudah memakai mobil berbasis listrik saat berada di Bali terkait dengan kegiatan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20.

"Ya infonya sih digunakan (Kapolri mobil dinas listrik)," kata Kadiv Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo saat dihubungi, Selasa (15/11).

Dia menjelaskan, untuk Korps Bhayangkara sudah menyiapkan kendaraan listrik selama dalam melakukan kedinasan.

"Untuk Polri sendiri sudah menyiapkan kendaraan listrik untuk IKN Go Green. Untuk PJU bertahap, untuk tahun 2024, tahun 2023 diutamakan kendaraan operasional dulu," jelasnya.

Selain itu, jenderal bintang dua ini menyebut, untuk kendaraan dinas Polri berbasis listrik yang saat ini berada di Bali atau dalam kegiatan G20 sebanyak 190 unit.

"Masih sama datanya, roda empat 88 dan roda dua 92 ya. Coba cek lagi," sebutnya.

Nantinya, jika kegiatan G20 itu sudah selesai digelar di Bali, seluruh kendaraan listrik tersebut akan dibawa kembali ke Mabes Polri.

"Ya semua nanti dibawa ke Mabes, sama dengan kendaraan lantas," tutupnya.

Polri menggelar operasi Puri Agung 2022, dalam mengamankan KTT G20 di Bali. Melalui command center, Korps Bhayangkara memantau semua pengamanan KTT G20 di wilayah Nusa Dua Bali.

Sigit mengatakan, dalam command center ini terdapat 16 fitur yang tersambung. Mulai dari pengamanan jalur, serangan siber, pengamanan unjuk rasa dan teror hingga kontijensi bencana alam.

"Terkait dengan peringatan gempa. Jadi, apabila ada gempa ada alert ataupun peringatan sehingga personel kita mengikuti karena memang kita sudah persiapan kontijensi plan apabila terjadi bencana," kata Sigit.

Selain itu, dalam command center ini juga bisa mengetahui kecepatan angin. Hal ini disebut jenderal bintang empat tersebut penting jika ada delegasi dan tamu VVIP yang melintas di jalan tol.

Selanjutnya, ada kamera yang tersambung dengan CCTV dan terhubung di semua sudut baik di bandara hingga pelabuhan baik di Banyuwangi, Jawa Timur dan Nusa Tenggara Barat (NTB).

"Kamera ini dilengkapi dengan face recognition yang kita sambungkan dengan data-data dari Dukcapil dan Imigrasi. Jadi setiap masyarakat atau tamu yang turun melintasi CCTV atau kamera yang kita pasang akan muncul data-data," sebutnya.

Lebih lanjut, mantan Kabareskrim Polri ini menyampaikan, pihaknya sudah menyiapkan database terkait dengan orang-orang yang masuk daftar kepolisian, baik dalam kasus kriminal maupun teror yang bisa mengganggu jalannya KTT G20.

"Itu semua jika terekam kamera kita akan ada notifikasi dan dari situ kita sudah siapkan anggota melakukan langkah lanjut pengamanan," ujarnya.

Kemudian, ada juga monitor yang melakukan pemantauan terhadap anggota yang berjaga. Mulai dari anggota lalu lintas, sabhara, brimob dan lainnya. Hal ini penting agar jika ada kendala dalam pengamanan bisa termonitor dan mengetahui langkah selanjutnya.

"Seperti contoh personel kita yang ada di salah satu titik ini bisa terlihat dan nanti kita hubungi. Semua kegiatan personel kita bisa kita kendalikan kemudian kita bisa gerakan melalui perintah-perintah yamg akan dilaksanakan petugas yang berjaga di sini selama 24 jam memonitor semua pergerakan termasuk peristiwa-peristiwa di lapangan sehingga bisa mengambil langkah-langkah," ucapnya.

Mantan Kadiv Propam Polri ini mengungkapkan, pergelaran KTT G20 merupakan pertaruhan untuk Indonesia, khususnya masyarakat Bali. Jika semua pengamanan KTT G20 berjalan lancar, maka ke depan Indonesia bisa melaksanakan event internasional dengan baik juga.

Untuk itu, pada KTT G20 kali ini pemerintah tetap memberikan kenyamanan bagi turis baik lokal dan internasional yang hadir di Bali, di tengah penyelenggaraan KTT G20.

Ia menjelaskan, para turis tetap datang namun kegiatan delegasi tetap berjalan jika nantinya delegasi datang dan melintas maka jalur wisatawan kita atur melalui jalur lain. Jadi, di satu sisi kegiatan rangkaian berjalan baik dan di sisi lain kegiatan wisatawan terutama mancanegara bisa berjalan.

"Dua hal itu harus kita jaga. Justru di sinilah ujian bagi kita mampu tidak kita menyelenggarakan. Disatu sisi ada satu perhelatan besar KTT G20 yang menjadi pertaruhan bagi bangsa indonesia," jelasnya. [cob]