Mabes TNI Gelar Sarasehan Bintal Ideologi dan Kejuangan TNI

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Wahyu Aji

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono, S.E., membuka acara sarasehan Bintal Ideologi dan Tradisi Kejuangan (Sarasehan Bintalid dan Trajuang) jajaran TNI Tahun 2012, di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Kamis (31/5/2012).

Dalam keterangan pers yang diterima Tribunnews.com, penyelenggaraan Sarasehan Bintalid dan Trajuang TNI diawali dengan laporan kesiapan oleh Kapusbintal TNI Brigjen TNI Drs. Ma’sum Amin, M.Pd. 

Sarasehan Bintalid dan Trajuang mengambil tema “Melalui Sarasehan Pembinaan Mental Ideologi dan Tradisi Kejuangan Tahun 2012, Kita Tingkatkan Kualitas Penghayatan dan Pengamalan Pancasila Sebagai Pilar Persatuan dan Kesatuan Bangsa”, diikuti 100 peserta terdiri dari Mabes TNI : 48 orang, TNI AD : 24 orang, TNI AL : 14 orang, TNI AU : 14 orang dan 2 orang penceramah. 

Dalam sambutannya Panglima TNI mengatakan, forum seperti ini memiliki makna dan nilai yang sangat strategis dalam rangka mencari jawaban yang tepat atas pertanyaan tentang bagaimana menanamkan kesadaran dan membentengi setiap diri Warga Negara Indonesia dalam menyaring serta menangkal berbagai ideologi yang masuk dan mempengaruhi kehidupan masyarakat, terutama yang bertentangan dengan ideologi pancasila sebagai dasar Negara Republik Indonesia.

Disadari bahwa dinamika perkembangan situasi dan kondisi saat ini, sangat dipengaruhi oleh isu-isu global dan mengakibatkan menurunnya tataran implementasi “nilai-nilai mental ideologi dan kejuangan”, yang merupakan nilai-nilai fundamental dan menjadi kesepakatan atau konsensus dasar bangsa Indonesia, atau yang lazim disebut sebagai empat pilar kebangsaan, yakni NKRI, Pancasila, UUD RI 1945 dan Bhinneka Tunggal Ika. 

Lebih lanjut Panglima TNI mengatakan, kristalisasi dari penguatan karakter bangsa akan bermuara pada terbangunnya “militansi” komponen bangsa dalam menghadapi berbagai permasalahan pembangunan nasional ke depan.

Prajurit TNI dapat dikatakan militan apabila mampu memenuhi empat standar karakter atau kualifikasi; pertama, memiliki keunggulan moral; kedua, memiliki watak pantang menyerah dan ketiga, memiliki sifat rela berkorban serta keempat, senantiasa menyatu dengan rakyat. 

Sebelum mengakhiri sambutannya, Panglima TNI memberikan penekanan, diantaranya:

Pertama, melalui sarasehan, hendaknya dapat dihasilkan pemikiran cerdas dalam mensikapi berbagai permasalahan serta tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia, baik di bidang politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan dan keamanan, maupun berbagai cobaan lain yang terjadi di tengah kehidupan masyarakat.

Kedua, jadikan sarasehan sebagai wadah aspirasi prajurit TNI dalam merumuskan kebijakan pembinaan mental ideologi dan tradisi kejuangan di lingkungan prajurit TNI.

Ketiga, tingkatkan integritas prajurit TNI dalam mentransformasikan semangat nasionalisme dan tumbuhkembangkan motivasi juang sesuai visi dan misi organisasi demi kepentingan nasional.

Keempat, optimalkan kepedulian sosial dan solidaritas kebangsaan secara nyata dan menyentuh kehidupan masyarakat dalam rangka memupuk persatuan dan kesatuan serta semangat bela negara dalam menegakkan kedaulatan NKRI. Kelima, TNI sebagai garda terdepan dan benteng terakhir tegaknya NKRI, haruslah tetap solid dan konsisten menjaga Pancasila, dasar Negara Republik Indonesia sebagai harga mati. 

Hadir pada acara tersebut,antara lain Koorsahli Panglima TNI, para Asisten Panglima TNI dan Kapuspen TNI Laksamana Muda TNI Iskandar Sitompul, S.E. Sebagai penceramah adalah mantan Panglima TNI Jenderal TNI (Purn) Endiartono Sutarto dan Dr. Muhammad Alim, S.H., M.Hum Hakim Konstitusi pada Mahkamah Konstitusi RI.

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.