Macam-Macam Majas, Pengertian, dan Fungsinya Menurut Ahli

·Bacaan 12 menit

Liputan6.com, Jakarta Karya sastra pasti erat kaitannya dengan gaya bahasa. Salah satunya mengandalkan macam-macam majas ini untuk memperkaya makna kalimatnya. Entah itu dalam bentuk penegasan, sindiran, perbandingan, dan pertentangan.

Ada banyak sekali macam-macam majas yang bisa dipelajari. Tak heran jika fungsinya juga mengesankan sekali. Mampu memberikan kesan mendalam meski pengungkapannya berbentuk imajinatif dan kiasan.

Menguasai macam-macam majas akan membuat karya sastra menonjol dalam sisi emosi. Banyak ahli menyebutkan, majas mampu memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulisnya secara gamblang.

Berikut Liputan6.com ulas macam-macam majas, pengertian, dan fungsinya dari berbagai sumber, Senin (2/11/2020).

Pengertian dan Fungsi Majas

Ilustrasi membaca | (dok. Pixabay.com/ThoughtCatalog/Putu Elmira)
Ilustrasi membaca | (dok. Pixabay.com/ThoughtCatalog/Putu Elmira)

Pengertian Majas

- Aminuddin

Menurut beliau pengertian majas merupakan gaya bahasa yang digunakan oleh seorang penulis dalam memaparkan gagasannya sesuai dengan tujuan dan efek tertentu yang ingin dicapai.

- Luxemburg dkk

Menurut beliau, pengertian majas adalah suatu gaya bahasa yang memberikan ciri khas pada sebuah teks. Artinya, pada saat tertentu suatu teks dapat diibaratkan seperti individu yang berbeda dengan individu yang lain.

- Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)

Menurut KBBI, pengertian majas adalah cara melukiskan sesuatu dengan jalan menyamakannya dengan sesuatu yang lain; atau dalam bentuk kiasan.

- Dr. H. G. Tarigan

Menurut beliau pengertian majas adalah cara mengungkapkan pikiran melalui gaya bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian seorang penulis.

- Goris Keraf

Menurut Goris Keraf, pengertian majas adalah suatu gaya bahasa dalam karya sastra yang disampaikan secara jujur, sopan-santun, dan menarik.

Fungsi Majas

Majas merupakan karya sastra yang kaya gaya bahasa. Hal ini juga selaras dengan fungsinya. Menurut ahli, majas membuat ungkapan menjadi lebih menarik perhatian, menyegarkan, hidup, dan terkesan lebih dalam. Berikut ini fungsi majas menurut Waluyo dalam buku berjudul Teori dan Apresiasi Puisi.

1. Menghasilkan kesenangan imajinatif.

2. Menghasilkan imaji tambahan sehingga hal-hal yang abstrak menjadi kongkrit dan menjadi dapat dinikmati pembaca.

3. Menambah intensitas perasaan pengarang dalam menyampaikan makna dan sikapnya.

4. Mengkonsentrasikan makna yang hendak di sampaikan dan cara-cara menyampaikan sesuatu dengan bahasa yang singkat.

Macam-Macam Majas Sindiran

Ilustrasi Membaca | Credit: unsplash.com/Thought
Ilustrasi Membaca | Credit: unsplash.com/Thought

Ironi

Ironi merupakan majas sindiran yang umumnya menggunakan kata kiasan dengan makna yang bertentangan dengan keadaan sebenarnya.

Contoh:

- Ruang bekerja kamu sangat rapih, sampai-sampai aku kesusahan duduk di sini.

- Sopan sekali pakaian yang kamu kenakan hingga aku juga merasa malu melihatnya.

- Wangi sekali bau badanmu. Tak ada satu orang pun yang tahan berada di dekatmu.

- Dia orang yang sangat tepat waktu. Dia hadir saat acara sudah usai dan semua tamu undangan telah bubar.

- Diah adalah anak yang paling cantik dikelasnya hingga tak ada satupun anak laki-laki meliriknya.

- Cahaya lampu itu sangat terang hingga aku tak bisa melihat wajah orang yang ada didekatku.

Sinisme

Selanjutnya, sinisme juga termasuk majas sindiran yang digunakan untuk memberi sindiran secara langsung kepada orang lain.

Contoh:

- Badan mu bau sekali, tetapi kalau disuruh mandi tidak mau.

- Untuk apa kamu memiliki rumah mewah , jika rumah itu tidak pernah kau tinggali.

- Percuma saja kau menyatakan cinta kepadaku , ujung ujungnya kau akan menyakitiku .

- Percuma saja kau sekolah tinggi tinggi , jika tidak serius belajar.

- Untuk apa kau punya gaji banyak , jika tidak bisa menikmati gajimu sama sekali .

- Percuma saja kau membuka usaha jika tidak kamu lakukan tanpa ilmu dan tidak profesional.

Sarkasme

Terakhir adalah majas sarkasme. Majas sindiran yang satu ini menggunakan kata-kata berkonotasi kasar untuk memberikan sindiran kepada orang lain.

Contoh:

- Dasar tidak becus! Kalau tidak bisa kerja, kamu hanya akan jadi sampah masyarakat.

- Dasar pemalas , sudah masuk sekolah baru mengerjakan PR.

- Anak ini tidak memiliki sopan santun , seperti tidak memiliki orang tua.

- Dasar sampah masyarakat , hanya mengganggu ketertiban umum.

- Apa kau buta ? Ada anak kecil didepanmu masih saja kau tabrak.

Macam-Macam Majas Pertentangan

Ilustrasi Membaca | Credit: unsplash.com/Thought
Ilustrasi Membaca | Credit: unsplash.com/Thought

Litotes

Litotes termasuk majas pertentangan yang umumnya menggunakan ungkapan merendahkan diri padahal fakta kenyataan yang terjadi justru sebaliknya.

Contoh:

- Silakan mampir ke gubuk kami yang sederhana ini. Kata gubuk di sini mewakili arti dari rumah.

- Jangan sungkan untuk mampir ke gubuk kami apabila Anda memiliki waktu luang.

- Silahkan mencicipi makanan sederhana yang kami sajikan.

- Ayah membeli mobil butut dengan seluruh uang yang dimilikinya.

Paradoks

Paradoks merupakan majas pertentangan yang biasanya membandingkan situasi sebenarnya dengan situasi sebaliknya yang saling bertentangan.

Contoh:

- Di tengah keramaian itu aku merasa kesepian.

- Gadis itu merasa kesepian di tengah pesta yang begitu ramai.

- Para petani kelaparan di lumbung padi.

- Sari menangis meskipun ia melihat semua orang di sekitarnya tertawa.

Antitesis

Antitesis, juga termasuk salah satu majas pertentangan. Majas antithesis biasanya memadukan pasangan kata yang memiliki arti bertentangan.

Contohnya:

- Semua orang sama di mata hukum, tak peduli tua-muda atau kaya-miskin. Tua-muda dan kaya-miskin merupakan 2 paduan kata yang mempunyai arti berlawanan.

- Baik buruk perbuatannya akan mendapatkan balasan suatu saat nanti.

- Jangan pernah menilai seseorang hanya melihat benar salah perbuatannya.

- Memasrahkan hidup mati kepada Tuhan akan membuat hidup semakin tenang.

Kontradiksi Interminus

Majas pertentangan selannjutnya adalah majas kontradiksi interminus. Majas ini digunakan untuk menyangkal pernyataan yang disebutkan sebelumnya. Biasanya penggunaan majas ini disertai dengan konjungsi, seperti hanya saja atau kecuali.

Contoh:

- Semua murid boleh bermain, kecuali murid yang tidak mengerjakan tugas.

- Semua murid kelas 3 mendapat nilai buruk kecuali miftah seorang.

- Semua murid telah berkumpul di tengah lapangan , kecuali Miftah yang sedang sakit.

- Semua sudah siap berangkat kecuali budi.

- Rumah ini sangat sunyi tak terdengar suara apapun, hanya detakan jam dinding yang terdengar.

- Tak ada wanita didunia ini yang kucintai, kecuali dirimu seorang.

- Dia selalu sibuk setiap hari kecuali di akhir pekan.

- Setiap hari ayah selalu minum kopi tiap pagi, hanya sesekali meminum susu.

- Diskon ini berlaku untuk pembelian produk apa saja, kecuali produk digital.

- Setiap rabu dan kamis semua guru wajib menggunakan batik, kecuali guru olahraga.

Macam-Macam Majas Perbandingan

Ilustrasi Membaca | Credit: freepik.com
Ilustrasi Membaca | Credit: freepik.com

Hiperbola

Majas hiperbola juga termasuk sebagai salah satu majas perbandingan. Majas hiperbola digunakan untuk mengungkapkan sesuatu dengan cara yang berlebihan, bahkan sering tidak masuk akal.

Contoh:

- Pria itu memiliki semangat yang keras seperti baja, tentu ia akan menjadi orang sukses.

- Orang itu setinggi rumah.

- Kulitmu lebih lembut dari sutra.

- Badanmu kurus seperti tusuk gigi.

- Dia sangat senang , senyumnya lebar satu mil.

- Messi adalah pemain terbaik sepangjang masa.

- Saya sangat lapar hingga bisa makan gajah.

- Saya sudah membaca buku ini ribuan kali.

- Wow, tanganmu lebih kuat dari besi.

- Kamu adalah malaikat pelindung saya.

- Saya sudah capek membersihkan kelas ini jutaan kali.

Eufimisme

Berikutnya, majas perbandingan eufimisme. Eufimisme merupakan gaya bahasa yang digunakan untuk menggantikan kata-kata yang kurang baik dengan kata-kata yang lebih halus.

Contoh:

- Orang itu telah meninggal. (Meninggal = mati)

- Tuna netra itu berjalan menggunakan tongkat. (Tuna netra = buta)

- Di lampu merah kita bisa menemui tuna wisma. (Tuna wisma = gelandangan)

- Sejak kecil dia tidak pernah sekolah sehingga dia menjadi tuna aksara. (Tuna aksara = buta huruf)

- Walau hanya dengan satu tangan, tuna daksa itu tetap semangat berkerja . (Tuna daksa = cacat tubuh)

- Anak tuna ganda itu masuk ke sekolah luar biasa. (Tuna ganda = penderita cacat lebih dr satu kecacatan yaitu cacat fisik dan mental)

- Orang Tuna busana itu melewati pasar tanpa rasa malu. (Tuna busana = tidak memiliki pakaian)

- Anak tuna grahita itu tidak bisa masuk ke sekolah biasa. (Tuna grahita = cacat pikiran)

Metanomia

Majas perbandingan metanomia berupa gaya bahasa yang menyandingkan istilah sesuatu untuk mengacu pada benda umum. Bila haus, minumlah Aqua. Kata Aqua di sini dikenal sebagai sebuah merek dagang air mineral yang sudah cukup terkenal.

Contoh:

- Elpiji 12 kg seringkali langka di pasaran dan harganya semakin mahal

- Penjualan daikin melonjak tajam sejak iklannya bisa membunuh bakteri di udara

- Promo Sunco beli 2 gratis 1 di mal itu, laris manis di borong para ibu

- Semua perabot di dalam rumahnya menggunakan olympic

- Salesman itu menyakinkan pembeli, sharp terlaris di pasaran

- Ayah bingung, ingin membeli avanza atau ertiga

- Semua hadiah pemenang lomba mewarnai di sponsori Greebel

- Pameran kali ini, samsung dan polytron bersaing ketat

Simile

Selanjutnya adalah majas simile. Majas perbandingan yang satu ini umumnya menyandingkan suatu aktivitas dengan suatu ungkapan.

Contoh:

- Anak kecil itu menangis bagaikan anak ayam kehilangan induknya.

- Wanita itu bagaikan bunga mawar yang baru mekar .

- Pertemanan kami layaknya rantai yang kokoh .

- Engkau laksana cayaha yang menerangi kegelapan .

- Kamu seberani singa.

- Kakak adik itu bertengkar seperti anjing dan kucing .

- Jangan hanya duduk di sana seperti gundukan kayu.

- Kau dan aku berbeda seperti siang dan malam.

Alegori

Terakhir adalah majas perbandinan alegori. Majas alegori digunakan untuk menyandingkan suatu objek dengan kata kiasan.

Contoh:

- Mencari wanita yang sempurna seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami.

- Perpisahan adalah upacara menyambut hari-hari penuh rindu.

- Suami adalah nakhoda dalam mengarungi kehidupan berumah tangga.

- Perjalanan kehidupan manusia adalah ibarat sungai yang menyusuri tebing , jatuh melwati air terjun , berkelok kelok dan ahkirnya berhenti sampai di tepi laut.

- Segala kenikmatan di dunia ini merupakan fatamorgana yang semu.

Personifikasi

Merupakan gaya bahasa yang digunakan untuk menggantikan fungsi benda mati yang dapat bersikap seperti manusia.

Contoh:

- Daun papaya itu melambai-lambai seolah mengajak ku bermain bersama.

- Rumput itu bergoyang di tengah padang safana .

- Bendera merah putih itu melambai setelah dikibarkan .

- Daun daun berguguran menari saat akan jatuh ketanah .

- Api Kebakaran itu melahap seluruh rumah dikawasan itu.

- Pohon bambu itu berbisik saat tertiup angin .

- Angin sepoi sepoi itu membelai rumput lapangan sepakbola.

Metafora

Merupakan gaya bahasa yang digunakan sebagai kiasan yang secara eksplisit mewakili suatu maksud lain berdasarkan persamaan atau perbandingan.

Contoh:

- Pria yang sukses itu dulunya dianggap sampah masyarakat.

- Si jago merah berhasil melahap hampir semua perumahan yang ada di Depok.

- Salah satu sikap baik adalah memiliki perasaan yang rendah hati.

- Kita harus mampu belajar untu berlapang dada dalam menerima setiap ujian hidup.

- Orang yang memakai kacamata sering dijuluki kutu buku.

- Senyumannya seindah embun pagi yang menyegarkan.

- Perlu usaha keras untuk menjadi anak emas di kelas, yaitu dengan belajar.

Asosiasi

Merupakan gaya bahasa yang membandingkan dua objek berbeda, namun disamakan dengan menambahkan kata sambung bagaikan, bak, atau seperti.

Contoh:

- Wajah ayah dan anak itu bagaikan pinang dibelah dua.

- Perangainya keras seperti batu, percuma saja menasehatinya!

- Jumlah hutangnya bak tali yang melilit leher, entah bagaimana dia melunasinya.

- Dengan semakin banyaknya swalayan modern di pedesaan, nasib warung kelontong bagaikan telur diujung tanduk.

- Paras anak kembar itu bak pinang dibelah dua.

- Semua politikus sekarang seperti kacang lupa kulitnya, padahal dulu mengumbar banyak janji.

- Jangan dengarkan dia, perkataannya seperti tong kosong nyaring bunyinya.

Sinekdok

Merupakan majas yang terbagi menjadi dua yaitu sinekdok pars pro toto dan sinekdok totem pro parte.

Contoh:

- Untuk masuk kedalam bioskop perkepala harus membayar Rp45.000

- Ani tidak terlihat batang hidungnya seharian ini.

- Keluarga itu harus angkat kaki dari kontrakan rumah karena belum membayar tagihan.

- Paras cantik miftah telah mencuri hatiku .

- Penampilan pesulap itu mencuri pandangan mata para penonton.

- Sudah sejak lama aku tak menginjakan kaki di kota pahlawan ini.

- Putri Tanjung menjadi tangan kanan Presiden Joko Widodo.

Simbolik

Merupakan gaya bahasa dengan ungkapan yang membandingkan antara manusia dengan sikap makhluk hidup lainnya.

Contoh:

- Warna putih adalah warna kesukaan ibu karena melambangkan kesucian.

- Warna merah pada bendera negara Indonesia melambangkan keberanian.

- Anton selalu saja menjadi kambing hitam ketika ada permasalahan yang muncul dalam keluarganya. (kambing hitam = orang yang disalahkan)

- Pertikaian itu tidak kunjung selesai juga walaupun sudah dibawa ke meja hijau. (meja hijau = pengadilan).

- Laki-laki hidung belang itu sudah menipu banyak wanita di kampung ini. (hidung belang = suka mempermainkan wanita)

Macam-Macam Majas Penegasan

Ilustrasi membaca | Thought Catalog dari Pexels
Ilustrasi membaca | Thought Catalog dari Pexels

Pleonasme

Merupakan gaya bahasa yang menggunakan kata-kata dengan makna sama, terkesan tidak efektif tapi disengaja untuk menegaskan sesuatu.

Contoh:

- Ayo cepat naik ke atas, sebelum makanan mu menjadi dingin.

- Dia naik ke atas bangunan tersebut.

- Ibu masuk kedalam toko makanan.

- Kita harus wajib saling menghormati antar golongan.

- Ayah turun ke bawah bungker untuk menyimpan makanan darurat.

- Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri kejadian penjambretan itu.

Repetisi

Merupakan gaya bahasa yang mengulang kata-kata dalam suatu kalimat.

Contoh:

- Pria itu pencopetnya, dia pelakunya, dia yang mengambil dompet saya.

- Ia akan terus bekerja, bekerja dan bekerja untuk melunasi hutang keluarhanya pada rentenir.

- Aku akan selalu bersamamu, selalu bersamamu, selalu bersamamu dan akan terus selalu bersamamu disetiap kehidupan yang Tuhan ciptakan.

- Ditengah malam adik berteriak,”ibu, ibu, ibu” lantas akupun memanggil ibu untuk menolongnya.

- Salah lagi, salah lagi dan salah lagi, kenapa sulit sekali menemukan penyelesaikan dari soal kalkulus ini sungguh membuatku gelisah.

Retorik

Merupakan gaya bahasa dalam bentuk kalimat Tanya tetapi sebenarnya tidak perlu dijawab. Majas ini biasanya dipakai untuk penegasan sekaligus sindiran.

Contoh:

- Kalau kamu sholat subuh setiap kapan saja?

- Jadi ini orang yang selama ini kamu sukai?

- Jadi apa yang kamu rasakan saat jatuh kemarin, sakit?

- Kenapa kalian takut masuk ke makam , apa kalian pikir mayat mayat itu akan hidup lagi?

- Jangan berbuat dosa seperti itu , apa kamu siap jika kamu meninggal besok?

- Jadi menurutmu kamu tetap akan naik kelas walau main game setiap hari tanpa belajar?

Klimaks

Merupakan gaya bahasa yang menjelaskan lebih dari dua hal secara berurutan dimana tingkatannya semakin lama semakin tinggi.

Contoh:

- Pada saat itu semua orang, mulai dari bayi, anak-anak, remaja, orang dewasa, hingga lansia pergi mengungsi akibat gempa.

- Rapat hari ini dihadiri oleh karyawan, manager, dan direktur utama.

- Ratusan, ribuan, bahkan puluhan ribu suporter telah memadati Stadion Si Jalak Harupat.

- Perayaan Hari Kemerdekaan ini diikuti oleh anak-anak, remaja, dan orang dewasa.

- Dari Senin sampai Rabu, toko itu ditutup sementara.

- Rapat berlangsung dari pukul 13.00 hingga pukul 15.00.

- Sedari dulu hingga sekarang, gedung itu tetap berdiri tegak.

Antiklimaks

Merupakan gaya bahasa yang menjelaskan lebih dari tingkatan tertinggi ke tingkatan terendah.

Contoh:

- Setiap hari senin, mulai dari staff dan karyawan rutin melaksanakan upacara bendera.

- Semua anak di Indonesia berhak mendapat pendidikan yang layak, entah itu anak presiden, pejabat, orang kaya, bahkan anak miskin sekali pun.

- Rektor, dekan, prodi, dan dosen harus bisa memahami aspirasi para mahasiswa.

- Sepakbola merupakan olahraga yang digemari berbagai kalangan, baik dari itu orang tua, dewasa, remaja, dan anak-anak.

- Para pemudik telah memesan tiket kereta api, mulai dari kelas eksekutif, bisnis, dan ekonomi.

- Kopi disukai oleh berbagai kalangan, mulai dari orang tua hingga anak-anak.

Pararelisme

Merupakan gaya bahasa yang mengulang-ulang sebuah kata untuk menegaskan makna kata tersebut dalam beberapa definisi yang berbeda. Biasanya jenis majas ini digunakan pasa sebuah puisi.

Contoh:

- Kasih pasti murah hati, kasih pasti lemah lembut, kasih pasti memaafkan.

- Seorang sahabat yang baik akan selalu ada untuk sahabatnya dalam kesusahan maupun kesenangan.

- Dengan atau tanpa make up, aktris korea Song Jihyo sangat cantik.

- Senantiasa terus beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam keadaan sehat maupun sakit.

- Kaya dan miskin itu tidak hakiki karena roda kehidupan terus berputar. Orang kadang berada di atas kadang berada di bawah.

- Siang dan malam terus berganti tanpa dirimu disampingku.

Tautologi

Merupakan gaya bahasa yang mengulang kata yang bersinonim untuk menegaskan suatu kondisi atau maksud tertentu.

Contoh:

- Sejarah masa lalu pria itu sangat kelam.

- Pasangan pengantin baru itu mengikrarkan sebuah janji untuk selalu bersama dalam susah atau senang, dalam suka maupun duka.

- Istri tentara di sebelah rumahku begitu setia, menanti, menunggu, berharap suaminya pulang.

- Jika memakai produk kecantikan korea kulitmu akan lebih sehat, lebih bercahaya, lebih berkilau, dan lebih merona.

- Mari kita wujudkan bangsa Indonesia yang cinta damai dan bebas dari konflik.

- Mengapa kau menjadi cemas dan gelisah begitu?