Madrasah Gratis Pertama untuk Transgender Dibuka Bangladesh

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Dhaka - Sekolah agama pertama untuk transgender telah dibuka di Dhaka, Bangladesh. Akan ada lebih dari 150 siswa yang belajar mengenai mata pelajaran Islam dan kejuruan secara gratis, di seminar yang dibiayai swasta atau madrasah di ibu kota.

Di negara Bangladesh kini banyak komunitas transgender yang mengidentifikasi sebagai jenis kelamin ketiga yang kini telah diakui secara resmi di negara tersebut. Mereka mempunyai hak untuk memilih dan mencalonkan diri dalam pemilihan, namun keadaan sosial yang konservatif masih membuat mereka sulit dalam mengakses pekerjaan ataupun pendidikan.

Beberapa dari mereka berimigrasi ke kota untuk menghidupi diri sendiri dengan bernyanyi dan menari di pesta pernikahan dan kelahiran dengan cara mengemis ataupun melalui pekerja seks. Sebutan mereka untuk orang yang transgender di Asia Selatan adalah hijra, dan pemerintah mengatakan, Bangladesh memiliki sekitar 10.000 hijra, namun perkiraan yang lainnya menyebutkan jumlahnya lebih dari 50.000 orang.

Hampir semuanya adalah pria yang menjadi wanita dan tidak ada batasan usia untuk melakukan hal tersebut.

Kelas di gedung tiga lantai itu dimulai pada Sabtu yang dihadiri petugas sekolah, anggota dewan dan tokoh masyarakat hijra dalam pembukaan madrasah 'seks ketiga' Dawatul Koran, yang berada di dekat jembatan Lohar di kawasan Kamrangirchar, Dhaka. Orang-orang dari segala usia di komunitas hijra dapat mendaftarkan diri di sekolah, diharapkan setelah melakukan pendidikan di sana, mereka mendapatkan kesempatan memasuki berbagai profesi yang berbeda-beda.

"Apakah seseorang dari jenis kelamin ketiga diidentifikasi pada usia yang cukup dewasa. Itu sebabnya kami tidak menetapkan batasan usia apapun. Siapa pun dapat diterima di sini segera setelah seorang transgender diidentifikasi, tidak peduli berapapun usianya," kata Sekretaris pendidikan dan pelatihan madrasah, Mohammad Abdul Aziz Hussaini, seperti dikutip dalam BBC, Sabtu (7/11/2020).

Karena Ada Penelantaran dari Keluarga dan Sosial

Ilustrasi ujian di sekolah. (Photo by Oussama Zaidi on Unsplash)
Ilustrasi ujian di sekolah. (Photo by Oussama Zaidi on Unsplash)

Seorang siswa baru bernama Shilpy mengatakan, sebagian besar dari komunitas transgender adalah buta huruf. "Tidak ada yang mau mempekerjakan kami. Jika kami memiliki pendidikan, kami bisa bekerja di tempat yang lebih baik. Tidak ada sistem pendidikan. Itulah sebabnya kami masih melakukan apa yang nenek moyang kami lakukan agar mendapatkan uang dengan cara menari dan bernyanyi," katanya.

Shilpy bersekolah hanya sampai usia sembilan tahun, lalu berhenti karena adanya bullying yang ia dapatkan. "Ketika saya menyadari bahwa saya adalah seorang transgender, kemudian semua orang di sekolahpun mengkritik dan membenci saya."

"Itu sebabnya saya tidak mau belajar lagi. Jika ada sistem membaca yang terpisah untuk kita, kemungkinan tidak ada orang yang akan menggoda,”"imbuhnya.

Di Bangladesh, transgender mengalami penelantaran dalam keluarga dan sosialnya. "Jika seseorang anak transgender lahir dalam sebuah keluarga, orang tua sering kali tidak akan menerima mereka. Terlebih lagi apa yang akan dilakukan orang luar? Tapi mereka tidak bisa dijadikan sebagai penyebab," kata Hussaini.

"Kami ingin mereka tidak menjadi beban bagi masyarakat. Karena itu kami memutuskan untuk mendirikan madrasah ini.. agar mereka dapat belajar mengaji dan bekerja dengan bermartabat," lanjutnya.

Shilpy menyambut hal tersebut dengan baik, terhadap inisiatif baik pemerintah maupun swasta untuk menyebarkan pendidikan di antara kelompok gender ketiga itu.

"Kami juga ingin seperti orang lain, dapat berjalan dengan bermatabat. Kami juga ingin berdiri di atas kedua kaki kami sendiri. Jika saya mendapatkan kesempatan itu, saya akan pergi ke sana," ujar Shilpy.

Reporter: Romanauli Debora

Saksikan VIdeo Pilihan di Bawah Ini: