Magelang - Yogyakarta - Surabaya: Perjalanan Merelakan Hati untuk Berpisah dari Suami

·Bacaan 2 menit

Fimela.com, Jakarta Setiap kali kita melakukan perjalanan, selalu ada cerita yang berkesan. Bepergian atau mengunjungi sebuah tempat memberi kenangan tersendiri di dalam hati. Tiap orang pastinya punya pengalaman atau kisah tak terlupakan tentang sebuah perjalanan, seperti tulisan Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba My Trip Story: Setiap Perjalanan Selalu Memiliki Cerita berikut ini.

***

Oleh: Miss Sunshine

Ini adalah kisah perjalananku bersama mantan suami untuk terakhir kalinya. Di usia pernikahanku yang ke delapan, aku memutuskan untuk jujur kepada mantan suami. Ada banyak hal yang ingin aku perbaiki dalam pernikahan kami. Maka, awal 2020 lalu aku memintanya untuk liburan bersama hal yang jarang kami lakukan setelah memutuskan menikah.

Kami memutuskan untuk berlibur ke Magelang, menyewa satu vila yang dekat dengan Borobudur. Kupikir, dengan suasana yang tenang kami lebih leluasa untuk bicara. Ternyata aku salah, dalam perjalanan kami lebih banyak diam. Sesekali bercakap hanya sekadar untuk membicarakan perlu berhenti di Indomaret tidak? Butuh ke toilet? Makan apa? Hanya formalitas itu.

Sampai di vila pun, kami lebih sering melakukan aktivitas sendiri. Ia lebih memilih bersepeda dan memotret di sekitar vila. Sementara aku, lebih banyak menghabiskan waktu dengan membaca. Kami menginap selama tiga hari di sana. Di hari ketiga sebelum pulang itulah akhirnya aku memberanikan diri untuk mengatakan niatku melakukan perjalanan ini.

Aku menanyakan kelanjutan hubungan kami.

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/Sargis+Zubov
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/Sargis+Zubov

“Bagaimana selanjutnya kita?” dan sampai kami pulang pun ia tidak menjawab pertanyaan itu. Dalam perjalanan pulang ia mengajakku mampir di Jogja yang akhirnya kuiyakan sebagai kompensasi ia mengiyakan liburan ke Magelang. Menambah satu hari liburan di Jogja.

Di Jogja inilah ia lebih leluasa bicara. Mungkin tepatnya, lebih tenang. Akhirnya ia bisa menjawab keinginan dan kelanjutan hubungan kami. Banyak hal yang kami bicarakan, dan berpisah adalah kesepakatan kami.

Esoknya aku memilih untuk pulang sendiri ke Surabaya. Ia tidak mencegah, atau apa pun. Mungkin ia terlalu tahu apa yang ada di dalam pikiranku. Kami berpisah di Stasiun Tugu. Ia pulang dengan mobilnya dan aku menuju Surabaya dengan kereta.

Dalam perjalanan pulang aku banyak berpikir. Mungkin ini bukan perjalanan terbaikku. Bukan juga paling menyenangkan. Tapi ini adalah perjalanan yang paling melegakan. Air mata yang sejak kemarin kutahan akhirnya tumpah juga. Aku pulang hari ini, tapi bukan ke rumah. Ternyata yang kusangka rumah hanya tempat singgah.

Perjalanan untuk dipatahkan hatinya mungkin bukan perjalanan yang menyenangkan, tapi akhirnya aku tahu kapan harus behenti untuk berjalan. Mengambil jeda dan memahami jika kadang perpisahan adalah sebaik-baiknya pilihan.

#ElevateWomen

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel