Magnussen Lelah Tak Kunjung Menangi Balapan F1

Luke Smith
·Bacaan 2 menit

Musim 2020 jadi akhir kiprah Kevin Magnussen di Formula 1. Usai memutuskan hengkang dari Haas, yang mana tim kemudian merekrut duet rookie Mick Schumacher dan Nikita Mazepin, Magnussen resmi bergabung ke Chip Ganassi Racing.

Pembalap Denmark itu akan tampil semusim penuh di IMSA 2021, serta bertandem dengan Renger van der Zande. Sedangkan debut bersama Chip Ganassi Racing bakal dimulai dalam balap ketahanan Tolex Daytona 24 Hours bulan ini.

Magnussen mengatakan, prospek memenangi balapan telah membuatnya bergairah lagi. Selama beberapa tahun terakhir, dia telah berjuang habis-habisan hanya untuk mencetak poin bagi Haas.

Kali terakhir Magnussen naik podium F1 adalah saat debut di Grand Prix Australia 2014. Sementara kemenangan terakhir yang dirasakannya ketika masih berlaga di Formula Renault 3.5 pada 2013.

“Saya benar-benar menantikannya, saya tidak sabar,” kata Magnussen kepada Motorsport.com.

“Itu membuat semuanya lebih mudah. Saya tidak merasa sedih karena Abu Dhabi menjadi balapan Formula 1 terakhir saya. Saya akan merindukan mengemudikan mobil, dan terutama saya akan merindukan orang-orang di tim. Tapi saya tidak bisa menutupi semangat saya untuk menantikan apa yang akan saya lakukan selanjutnya, daripada sedih karena tidak berada di F1.

“Semua orang ingin masuk ke Formula 1, saya juga demikian. Itulah yang selalu saya impikan. Namun setelah beberapa saat, jika Anda tidak bisa memenangi balapan, mencetak poin pun tidak begitu menyenangkan.

“Dengan Haas, kami telah melakukan itu cukup banyak. Akhir-akhir ini, tidak begitu banyak. Tetapi bahkan masuk ke 10 besar jadi cerita lama.

“Itu bukan target yang sebenarnya. Jika Anda seorang pemenang sejati, itu (cetak poin) tidak akan memuaskan Anda.”

Baca Juga:

Magnussen Ucapkan Selamat Tinggal kepada Formula 1 Pakai Dua Rookie, Haas Fokus Kembangkan Mobil untuk 2022 Haas F1 Kehilangan Sponsor karena Video Mazepin

Selama empat musim memperkuat Haas, Magnussen mencatatkan finis terbaik kelima (Bahrain dan Abu Dhabi 2018), serta hanya mendulang satu poin sepanjang 2020, berkat posisi ke-10 di GP Hongaria.

Haas sebaliknya terpuruk ke peringkat kesembilan konstruktor dalam dua tahun terakhir. Alih-alih bertarung di papan tengah, mereka justru berkutat di barisan belakang bersama Alfa Romeo dan Williams.

Magnussen menjelaskan, sulit bagi pembalap untuk membuat perbedaan karena kesenjangan performa mobil di F1. Karena itulah, dia mengaku gembira akan prospek untuk dapat memenangi balapan di IMSA.

“Di Formula 1, Anda harus memiliki mobil yang hebat untuk bisa memenangi balapan,” tuturnya.

“Tentu saja satu dari 1.000 kali itu bisa terjadi, seseorang bisa menang dengan bukan mobil terbaik, tapi itu lebih karena keberuntungan, dan Anda memerlukan keadaan yang cukup ekstrim agar itu terjadi. Anda tidak bisa keluar, lakukan sendiri, dan buat perbedaan itu. Benar-benar tidak mungkin.

“Saya benar-benar menantikan kembali ke situasi kemenangan lagi, di mana saya bisa bangun pada pagi hari dan memikirkan tentang betapa saya sangat menantikan untuk meraih kemenangan di Daytona atau Sebring atau Laguna Seca, dan lainnya.

“Itu adalah beberapa trek balap dan balapan yang cukup mengagumkan yang saya nantikan.”