Mahasiswa Edukasi Warga Mandiri Pangan, BCF Bikin Program Nyata

Ezra Sihite
·Bacaan 4 menit

VIVABakrie Centre Foundation (BCF) melakukan program nyata yang mendukung milenial untuk terus kreatif dan peduli di tengah pandemi COVID- 19. Salah satunya adalah dengan mengadakan Campus Leaders Program (CLP) yang merupakan program magang intensif selama kurang 3 bulan yang diikuti mahasiswa Universitas Bakrie.

Founder dan Chairman BCF, Anindya Novyan Bakrie mengatakan mendukung penuh Campus Leaders Program sebagai inisiasi BCF dalam menumbuhkan karakter empati bagi kalangan milenial. Teranyar, Bakrie Center Foundation (BCF) mendampingi mahasiswa Universitas Bakrie melakukan edukasi kepada warga RT 05 RW 05 Pondok Cabe Udik, Tangerang Selatan tentang pentingnya memulai kemandirian pangan dari rumah pada Sabtu 10 April 2021. Edukasi ini dilakukan dalam rangka meningkatkan kesadaran masyarakat khususnya di RT 05 Pondok Cabe Udik mengenai pentingnya mengelola sampah organik maupun anorganik.

Pelaksanaan CLP lanjut Anin, tidak hanya memberikan pengalaman kerja nyata kepada para pesertanya, namun para peserta juga didorong untuk langsung turun ke lapangan guna mengasah kemampuan berpikir kritis, kepemimpinan, serta memecahkan masalah. Seperti memulai kemandirian pangan di Pondok Cabe ini contohnya.

Sebelumnya, warga RT 05 Pondok Cabe Udik didampingi oleh Komunitas Darlingqu sudah belajar melakukan pemilahan sampah anorganik dengan menjadi nasabah Bank Sampah Darlingqu. Kini mereka diedukasi untuk mengelola sampah organik agar bisa digunakan kembali, misalnya menjadi kompos yang dapat digunakan untuk bercocok tanam di rumah. Hal memulai mandiri pangan dari rumah saat ini menjadi penting dalam mengantisipasi meningkatkanya harga kebutuhan pokok di waktu-waktu tertentu. Seperti harga cabai yang baru-baru ini melonjak di kisaran Rp 120 ribu sampai Rp 150 ribu rupiah per kilo.

Sesi edukasi mandiri pangan melibatkan 40 orang warga RT 05 Pondok Cabe Udik. Mereka didampingi 5 orang mahasiswa Universitas Bakrie yang saat ini sedang mengikuti program magang intensif Campus Leaders Program. Ke-40 orang warga tersebut dibagi ke dalam lima kelompok, setiap kelompok difasilitasi oleh satu mahasiswa. Para warga mulai diedukasi mengenai bagaimana menanam bibit cabai dan bayam agar dapat dimanfaatkan hasilnya sebagai bahan konsumsi rumah tangga.

“Saya juga semakin sadar bahwa dari kebiasaan kita dalam membuang sampah sembarangan ternyata menyebabkan banyak bencana alam bermunculan di bumi ini. Semoga melalui edukasi ini, saya dan tim berharap banyak masyarakat dan Milenial yang semakin sadar akan pentingnya mengelola sampah dan melakukan mandiri pangan dari rumah,” kata Ananda Nur Mariska, mahasiswi Universitas Bakrie yang juga menjadi ketua pelaksana kegiatan.

Sebelum acara edukasi dimulai, warga terlebih dulu ditingkatkan kesadarannya mengenai permasalahan sampah di Tangerang Selatan.

Menurut data Dinas Lingkungan Hidup Tangerang Selatan saat ini warga Tangsel menyumbang sampah sebanyak 800 ton setiap harinya dan berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipeucang. Warga diperlihatkan video bagaimana TPA Cipeucang kini sudah penuh bahkan beberapa kali longsor. Warga juga ditunjukkan video bagaimana cara mengolah sampah organik untuk dijadikan kompos dan dapat digunakan untuk bercocok tanam di rumah. Mereka pun diedukasi mengenai manfaat maggot dalam mengurai sampah organik, bahkan dapat mendatangkan keuntungan secara materi.

“Kegiatan edukasi dalam pengelolaan sampah yang bisa dimanfaatkan untuk pengembangan ekonomi kreatif di masyarakat baik sekali. Terlebih kalau edukasi tersebut diarahkan menuju konsep urban farming. Sehingga dapat mewujudkan ketahanan pangan,” kata Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Tangerang Selatan, Yepi Suherman saat menghadiri sesi edukasi.

Setelah mengikuti sesi edukasi pembibitan cabai dan bayam, warga pun diajak berkeliling kebun Komunitas Darlingqu, untuk melihat sendiri potensi yang dapat dihasilkan dari pemilahan sampah. Saat ini, Komunitas Darlingqu memiliki kebun yang di dalamnya terdapat kegiatan urban farming organik, peternakan ayam organik, serta daur ulang sampah plastik. Komunitas Darlingqu merupakan komunitas binaan BCF dalam bidang lingkungan dan merupakan peraih fellowship program LEAD Indonesia tahun 2019.

“Ini baru awal mula dari mimpi kami yang besar yaitu ingin agar seluruh warga di Tangerang Selatan bisa mengelola sampah dengan baik, baik anorganik maupun organik sehingga lingkungan kita akan terjaga, warisan untuk anak cucu di kemudian hari,” tambah Emilia, salah satu anggota Komunitas Darlingqu.

Sementara BCF berharap Komunitas Darlingqu bisa memperluas wilayah dampak kerja pengelolaan sampah mereka.

“Dalam hal ini, kami berharap Komunitas Darlingqu ke depan dapat memperluas wilayah dampaknya. Kalau saat ini bermula di RT 05 RW 05 dulu, dalam waktu satu tahun ke depan semoga bisa menjangkau seluruh Tangerang Selatan. Tentu banyak poin kesuksesan SDG’s 2030 yang akan dicapai melalui kegiatan ini,” kata Imbang J. Mangkuto, CEO BCF.

Komunitas Darlingqu memberikan satu buah polybag kepada setiap warga yang datang serta bibit tanaman cabai dan bayam, agar bisa langsung dikembangkan oleh warga di rumah. Selanjutnya, pihak RT dan RW setempat akan melakukan kunjungan berkala untuk memastikan warga merawat bibit yang diberikan dengan baik.

“Setelah hari ini, kami dari pihak RT 05 akan berusaha untuk terus mengedukasi masyarakat untuk lebih aktif memilah sampah dan juga mengembangkan bibit cabai dan bayam yang hari ini diberikan,” kata Ketua RT 05 Pondok Cabe Udik Tangerang Selatan, Dadang.

Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi program Kampus Merdeka Belajar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Bersama BCF, Universitas Bakrie menjadi mitra lembaga pendidikan dalam penyelenggaraan Campus Leaders Program angkatan pertama dan kedua ini.