Mahasiswa IPB produksi tas jinjing dari ampas tebu

·Bacaan 2 menit

Tim mahasiswa IPB University berhasil membuat inovasi dan memproduksi tas jinjing dari ampas tebu yang dijual seharga Rp10 ribu per buah serta melayani pemesanan melalui media sosial.

"Tas jinjing dari bahan baku ampas tebu ini ramah lingkungan, sekaligus bisa menambah nilai ekonomis ampas tebu," kata Ketua Tim Mahasiswa IPB Depicha Zambustya Zamborita, sebagaimana keterangan tertulis Humas IPB University di Bogor, Jawa Barat, Senin.

Mereka memasarkan produksinya melalui media sosial instagram dengan akun bag.gase dan merupakan kegiatan Program Kreativitas Mahasiswa bidang Kewirausahaan (PKM-K) 2021 di kampusnya.

Tim mahasiswa IPB yang membuat tas jinjing dari ampas tebu ini adalah Depicha Zambustya Zamborita, Siti Ira Sinta Wati, Habib Vian Niswara, dan Garnish Eka Prastyaningrum. Tim tersebut dibimbing oleh dosen pendamping Dr Burhanuddin.

Menurut Depicha, tas jinjing dari ampas tebu ini adalah inovasi mahasiswa, sebagai tas ramah lingkungan untuk menggantikan penggunaan tas palstik kresek yang saat ini banyak digunakan masyarakat.

Pembuatan tas jinjing dari ampas tebu dengan pertimbangan, karena ampas tebu adalah limbah padat dari pengolahan industri gula tebu.

Pemanfaatan tebu, kata dia, juga masih terbatas pada industri pengolahan gula yang hanya mengambil airnya, sedangkan ampasnya sekitar 35-40 persen dari berat tebu yang telah digiling, hanya dimanfaatkan sebagai bahan bakar industri atau dibuang menjadi limbah.

“Pabrik gula tidak dapat mengelola limbah yang dihasilkan, karena hanya beberapa bagian yang dapat diolah untuk bahan bakar, sehingga ampas tebu belum terkelola dengan baik dan belum memiliki nilai ekonomi yang baik,” katanya.

Mencermati hal tersebut, Depicha dan tim, membuat tas jinjing dari ampas tebu untuk menambah nilai ekonomi ampas tebu tersebut.

"Dengan mensosialisasikan pemanfaatan produk dari bahan ramah lingkungan dapat membantu pemerintah untuk mengurangi pemanfaatan produk plastik yang limbahnya sulit diurai," katanya.

Depicha yang masih kuliah di semester lima Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia (SKPM FEMA) IPB ini menyatakan, tas dari ampas tebu tersebut dirancang sesuai dengan budaya nusantara dan tradisi daerah, sehingga menambah keindahan produk tas jinjing.

"Dengan desain yang menarik ini, meskipun tas jinjing telah rusak, dapat dimanfaatkan sebagai barang seni rupa, yakni dikliping, kemudian dibingkai sehingga dapat menjadi hiasan dinding,” katanya.

Dalam pemasarannya, Depicha dan tim menggunakan promosi melalui media sosial instagram dan WhatsApp masing-masing anggota tim.

Depicha mengatakan atas produksi itu, konsumen memberikan respons positif dan menyadari bahwa ampas tebu, limbah pabrik gula, ternyata dapat dijadikan tas dengan desain unik.

Dosen pendamping, Dr Burhanuddin, mengatakan tas jinjing dari ampas tebu ini lahir dari kreativitas mahasiswa untuk memanfaatkan limbah ampas tebu dan mengurangi penggunaan plastik yang berdampak negatif pada lingkungan.


Baca juga: Ada tas dari kaleng di acara Bag Days
Baca juga: Mahasiswa IPB pelopori gerakan pengurangan kantong plastik
Baca juga: Produk daur ulang sampah di Padang tembus mal dan swalayan

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel