Mahasiswa Poltesa sulap sampah plastik jadi minyak

Mahasiswa Teknik Mesin Politeknik Negeri Sambas (Poltesa), Kalimantan Barat kembali membuat terobosan yakni mampu menyulap sampah plastik jadi bahan bakar minyak.

"Pengelolaan sampah plastik tersebut dengan metode phirolisis. Teknik ini merupakan teknik sederhana dengan memanaskan sampah plastik dalam kondisi minim oksigen. Khususnya jenis sampah plastik polietilen dan polipropilen yang mana jenis tersebut terbuat dari minyak bumi," ujar Ketua Tim, Diko Hanuarhan saat dihubungi di Sambas, Jumat.

Dalam tim, Diko Januarhan tidak sendiri melainkan bersama Azizul, Khairul dan Mulia Azhari. Tim tersebut dibimbing langsung oleh Elandi, selaku dosen Teknik Mesin Poltesa.

Baca juga: Usung inovasi model jembatan, mahasiswa UMM juara di ajang dunia

Ia menjelaskan inovasi yang mereka buat merupakan jawaban atau sebuah solusi pengelolaan sampah plastik. Kemudian minyak yang dihasilkan dari sampah plastik tersebut mengakselerasi target capaian baru energi.

“Dalam kegiatan ini kami mengambil sampel dari sampah plastik sebanyak 1 kg yang telah dicacah, kemudian dipanaskan dalam media tertutup dengan menggunakan kompor oli bekas. Sampah plastik yang dipanaskan dalam kondisi minim oksigen tersebut menghasilkan gas yang kemudian didinginkan menggunakan 3 tingkatan kondensor dan berubah menjadi fraksi cair yang mendekati fraksi bensin. Walaupun alat yang digunakan masih sangat sederhana, tetapi dapat mengolah sampah plastik menjadi 40 - 70 persen fraksi cair tergantung dari sampah plastik yang kita olah,” ujar kata dia.

Baca juga: Mahasiswa FTUI runner-up se-Asia Tenggara berkat inovasi sabun cair

Saat ini kegiatan pengolahan sampah plastik menjadi minyak yang dilakukan hanya dalam skala kecil karena terkendala alat yang digunakan masih sangat sederhana.

“Kami telah membuktikan dengan teknologi sederhana bahwa sampah plastik dapat kita olah menjadi minyak. Harapan kami, metode pengolahan sampah plastik menjadi minyak ini dapat diaplikasikan khususnya di daerah Kabupaten Sambas. Kami berharap pemerintah dapat memberikan peran dan dukungan sehingga kegiatan ini dapat berlanjut dan diimplementasikan ke ranah yang lebih luas,” kata dia.

Baca juga: Tim Parameswara Unri juara dua IIMS FRESC 2022 di Jakarta

Sementara itu Elandi, selaku dosen Teknik Mesin Poltesa menjelaskan bahwa sampah dalam ilmu kesehatan lingkungan sebenarnya hanya sebagian dari benda atau hal-hal yang dipandang tidak digunakan, tidak dipakai, tidak disenangi, atau harus dibuang, sedemikian rupa sehingga tidak sampai mengganggu kelangsungan hidup.

Peningkatan penggunaan sampah dalam hal ini yaitu sampah plastik merupakan konsekuensi dari berkembangnya teknologi, industri dan juga jumlah populasi penduduk. Di Indonesia, kebutuhan plastik terus meningkat hingga mengalami kenaikan rata-rata 200 ton per tahun.

“Sebenarnya sudah ada beberapa alternatif solusi dalam penanganan limbah sampah plastik agar dapat diolah dan didaur ulang. Sebagai contoh sampah plastik dijadikan kerajinan, bahan bangunan, dan lainnya. Akan tetapi dalam hal ini mahasiswa kami berfokus pada pengolahan sampah plastik menjadi minyak. Kampus terus mendukung inovasi mahasiswa," ucap dia.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel