Mahasiswa UIN Mataram diminta jaga persatuan di tengah keberagaman

Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram, Nusa Tenggara Barat, diminta untuk selalu menjaga persatuan di tengah keberagaman.

Hal ini disampaikan Kepala Dinas Sosial (Kadinsos) NTB Ahsanul Khalik saat menjadi narasumber dalam Studium Generale Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Mataram dengan tema "Dakwah Moderat dan Merawat Tradisi Akademik Untuk Memperkokoh Integrasi Kebangsaan", di Mataram, Selasa.

Ahsanul Khalik menyampaikan pesan kepada mahasiswa UIN Mataram untuk berbuat baik kepada semua orang, sebab Allah mengajarkan bukan berbuat baik hanya kepada mereka yang memeluk agama Islam, melainkan kepada semua orang tanpa membedakan suku, rasa, jenis kelamin, dan perbedaan lainnya.

Baca juga: Menko Muhadjir dorong UIN Mataram jadi pelopor Indonesia Emas 2045

Menurut dia, memperlihatkan wajah Islam yang teduh dapat ditunjukkan dengan menyebarkan nilai-nilai dakwah yang mencerminkan kebersamaan, saling menghargai serta tidak mengandung nilai kekuasaan berlebih serta dakwah tidak hanya dilakukan melalui tempat ibadah melainkan dengan cara berprilaku sudah mencerminkan nilai dakwah.

"Dengan demikian, tidak akan ada lagi kelompok-kelompok yang radikal," ujarnya.

AKA sapaan akrab Ahsanul Khalik menegaskan bahwa dakwah moderat harus dipahami sebagai suatu sikap dakwah yang memberi setiap nilai atau aspek yang berseberangan pada bagian tertentu tidak lebih dari porsi yang semestinya, tidak menghakimi, memanusiakan dan memuliakan manusia, serta hidup rukun damai dalam keberagaman.

Dalam pemaparannya tentang dakwah moderat dan bagaimana moderasi beragama serta bagaimana membangun tradisi akademik untuk memperkokoh integrasi kebangsaan, AKA menyampaikan pengalamannya dalam menyelesaikan konflik yang mengatasnamakan agama pada saat menjadi Camat Cakranegara, Kota Mataram.

Baca juga: Enam negara ikut konferensi di Lombok bahas pemulihan ekonomi

"Pada prinsipnya ada penguatan pemahaman kepada semua pihak yang berkonflik, dengan tidak menjadikan diri sebagai bagian dari konflik dengan memihak atau berdiri pada golongan tertentu saja, akan tetapi melalui pendekatan bagaimana menyelesaikan konflik yang ada dengan memahami nilai-nilai yang diyakini oleh masing-masing pihak dengan mempertemukan kesesuaian dan kesamaan universal yang dimiliki," katanya.

Sementara itu, peneliti dari Australia James Stevenson Bennett yang juga menjadi pembicara memaparkan hasil penelitiannya tentang masyarakat Sasak, Pulau Lombok yang hidup berdampingan dengan masyarakat Hindu Bali dengan kajian terkait sejarah Mayura dan berbagai adat istiadat yang berkembang pada masyarakat Sasak.

Ia mengatakan bahwa Suku Sasak tempo dulu sangat ramah terhadap berbagai jenis budaya yang masuk. Hal itu dibuktikan dengan motif-motif kain yang ada di Suku Sasak yang banyak didominasi dari India.

Baca juga: UIN Mataram lindungi 196 tenaga kontrak dengan program BPJAMSOSTEK

Hadir pada Studium Generale ini Rektor UIN Mataram Prof Masnun Tahir, Dekan Fakultas Dakwah Dan Ilmu Komunikasi UIN Mataram Dr Muhammad Saleh, para wakil dekan, para ketua jurusan, dan para dosen Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Mataram.