Mahasiswa Unhas Gantung Diri Diduga karena Tugas Kuliah, Dekan: Tidak Ada Hubungannya

Merdeka.com - Merdeka.com - Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin (Unhas), Prof Akin Duli angkat bicara terkait kasus bunuh diri yang dilakukan mahasiswa baru (maba) Jurusan Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok Fakultas bernama Febriani Remak (18).

Akin Duli membantah dugaan penyebab Febriani gantung diri karena tekanan tugas perkuliahan dan pengaderan.

Akin menyebut tidak ada hubungannya penyebab Febriari gantung diri dengan tugas kuliah dan pengaderan. Dia mengaku sudah memanggil dan meminta klarifikasi Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FIB terkait kegiatan pengaderan.

"Bagaimana cara membuktikan. Tidak ada hubungannya? Di mana hubungannya? Coba anda baca di media itu, siapa yang bisa membuktikan tugas kuliah dan tugas pengkaderan itu gantung diri. Dan itu kan kita tidak mau bicara itu karena kejadiannya di rumah, jadi ditangani polisi," ujarnya kepada wartawan, Selasa (15/11).

Mantan Wakil Dekan III FIB Unhas ini mengungkapkan berdasarkan klarifikasi BEM FIB, sudah dilakukan tiga kali pengumpulan Maba. Dari absensi, sebanyak 100 orang dari 400 maba yang hadir.

"Ketika dicek absen, tidak hadir orang itu (korban). Saya sudah bilang ke Ketua BEM pegang ini absenmu ini, karena ini jadi bukti bahwa tidak hadir. Malah menurut BEM, dari prodi itu hanya tiga orang yang hadir (pengaderan)," tuturnya.

Akin juga memastikan saat pengaderan, BEM juga tidak memberikan tugas berat kepada maba. Ia menyebut pengumpulan maba pada sore hanya terkait pengenalan organisasi di kampus.

"Pengumpulannya sudah tiga kali, dan itu diawasi dosen saat sore. Dan itu hanya memberi arahan tentang organisasi di kampus. Tidak ada (tugas pengaderan), hanya beri arahan soal organisasi di kampus," tegasnya.

Dia juga meluruskan informasi Febriani gantung diri karena tugas perkuliahan. Akin menyebut setiap perkuliahan pasti memiliki tugas.

"Kalau dibilang tugas perkuliahan, semua perkuliahan ada tugas dan itu jelas kurikulumnya kan. Yang lain (maba) juga biasa-biasa saja," dalihnya.

Akin menduga korban kesulitan untuk mempelajari Bahasa Mandarin dan Budaya Tiongkok. Apalagi, Bahasa Mandarin dan Budaya Tiongkok merupakan program studi (prodi) baru di FIB.

"Cuma memang kalau kita pikir, memilih prodi ini, Bahasa dan budaya Mandarin mahasiswa kita dari nol kan. Iya ini prodi baru, jadi menghapal saja abjad, orang kira sudah begitu susah," pungkasnya.

"Saya sendiri kalau jadi mahasiswa baru pasti mikir 10 kali. Mungkin seperti itu, sulit dibuktikan karena semua mahasiswa juga diberikan tugas seperti itu," imbuhnya.

Meski menganggap kasus bunuh diri Febriani tidak ada hubungannya dengan tugas perkuliahan dan pengaderan, di saat bersamaan Dekan FIB mengeluarkan surat pengumuman larangan pengumpulan maba 2022. Surat pengumuman tersebut dikeluarkan pada 14 November 2022.

"Iya, itu surat pengumuman dikeluarkan tanggal 14 kemarin," bebernya.

Dalam surat pengumuman tersebut terdapat tiga poin yakni pimpinan fakultas melarang seluruh kegiatan pengumpulan, pengaderan mahasiswa baru angkatan 2022 oleh lembaga kemahasiswaan dalam lingkup FIB termasuk pada hari libur (sabtu dan minggu).

Kedua, telah dibentuk Satgas Tingkat Fakultas yang bertugas memonitoring dan mengawasi. Ketiga, bagi yang melanggar akan dikenakan sanksi akademik sesuai peraturan akademik yang berlaku.

Sementara Ketua BEM Keluarga Mahasiswa FIB (KMFIB) Syahril Lesbata meragukan penyebab kematian Febriani dengan cara gantung diri akibat tertekan tugas pengaderan. Syahrir mengatakan korban tidak sepenuhnya mengikuti kegiatan pengaderan dilakukan BEM KMFIB Unhas.

"Almarhum hanya mengikuti beberapa agenda awal yang berisi pemberian materi terkait pengenalan organisasi," tuturnya melalui keterangan tertulisnya.

Syahrir mengaku korban terakhir kali ikut pengaderan pada Jumat (11/11) kemarin. Saat itu korban sempat meminta izin ke panitia pelaksana untuk pulang karena mengeluh sakit perut.

"Esok harinya, almarhum kembali meminta izin ikut pengumpulan maba karena alasan sakit. Begitu juga hari berikutnya," kata dia.

Sebelumnya diberitakan, seorang mahasiswi baru jurusan Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin bernama Febriani Remak (18) ditemukan gantung diri. Febriani ditemukan tewas tergantung di kamar mandi sebuah rumah kosong Jalan Biring Romang Lr 8 No A1 09, BTN Resky, Kecamatan Tamalanrea, Kota Makakssar, Senin (14/11) dini hari.

Kepala Kepolisian Sektor Tamalanrea, Komisaris Saharuddin mengatakan pihaknya mendapatkan laporan penemuan mayat perempuan dalam kondisi gantung diri di kamar mandi sebuah rumah kosong pada pukul 01.00 Wita. Saharuddin mengaku pihaknya sudah memeriksa tiga orang saksi.

"Awalnya Bhabinkamtibmas mendapatkan laporan adanya mahaisiwa yang gantung diri di Jalan Biring Romang Lr 8, BTN RESKI. Laporan Bhabinkamtibmas ditindaklanjuti oleh anggota untuk olah TKP," ujarnya melalui pesan WhatsApp, Senin (14/11).

Saharuddin menjelaskan berdasarkan keterangan teman korban bernama Wesley berawal saat melihat kunci pagar dan rumah milik Febriani di atas kursi. Saat itu, Wesley mencari korban dan berusaha menghubungi teman-teman kuliahnya untuk menanyakan keberadaan.

"Ternyata Febriani tidak ikut kegiatan kampus karena alasan sakit. Pada pukul 23.00 Wita, teman korban lainnya bernama Ricenda datang dan memeriksa rumah kosong yang ada di belakang karena ada sendal milik korban," kata dia.

Saharuddin menambahkan saat itu Wesley dan Ricenda bersama rekan lainnya memeriksa rumah kosong tersebut. Saat itu pula, mereka menemukan korban dalam kondisi tergantung di dalam kamar mandi.

"Teman-temannya datang dan masuk ke dalam rumah kosong tersebut. Mereka menemukan korban dalam keadaan tergantung dibekas kamar mandi," bebernya.

Saharuddin mengaku masih mendalami penyebab korban nekat gantung diri. Sementara berdasarkan informasi beredar, korban mengalami stres akibat perkuliahan dan pengkaderan yang padat di FIB Unhas.

Sementara itu, Kepala Unit Reserse Kriminal Polsek Tamalanrea, Ajun Komisaris Nurtjahyana menerangkan bahwa korban sebelum mengakhiri hidupnya sempat mengeluhkan banyak tugas kampus yang harus diselesaikan. Selain itu, korban juga mengeluh sakit.

"Berdasarkan keterangan saksi bahwa korban sebelumnya sakit mengeluh lemas serta mengeluhkan banyaknya kegiatan kampus atau pengaderan yang harus diikuti oleh korban. Karena infonya korban ini masih mahasiswa baru," jelasnya. [cob]