Mahasiswi Meninggal saat Pengaderan, Senat FKM Universitas Muslim Indonesia Dibekukan

Merdeka.com - Merdeka.com - Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar membekukan Senat Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) buntut meninggalnya satu mahasiswa baru (maba) saat pengaderan di Kabupaten Gowa. Kini kasus meninggalnya satu mahasiswi tersebut sudah ditangani kepolisian.

Wakil Dekan III FKM UMI, Muhammad Multazam mengakui pihaknya memberikan izin kegiatan terkait pengaderan dilakukan di Embun Pagi, Lingkungan Butta Toa, Kecamatan Tinggimoncong, Gowa. Dia mengungkapkan, pihaknya memberikan izin kegiatan tersebut selama tiga hari.

"Ada izinnya. Tapi ya namanya musibah," ujarnya kepada wartawan, Senin (25/7).

Dia menyebut pihaknya menyerahkan sepenuhnya kepada pihak kepolisian untuk melakukan penyelidikan terkait kasus tersebut. Jika nantinya ditemukan ada perpeloncoan dilakukan oleh panitia pengaderan, makan pihaknya akan membekukan Senat FKM.

"Kalau ada kekerasan atau perpeloncoan, kita minta polisi proses. Begitupun untuk lembaga senat yang menggelar pengkaderan bakal dibekukan," ujar Multazam.

Sebelumnya diberitakan, Seorang mahasiswi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, Zhafira Azis Syah Alam meninggal dunia saat mengikuti pengaderan di Malino, Kabupaten Gowa, Sulawesi selatan (Sulsel). Atas meninggalnya Zhafira tersebut, kepolisian baru memeriksa tiga orang panitia pengaderan.

Kepala Kepolisian Sektor (Polsek) Tinggimoncong, Ajun Komisaris Jumadi membenarkan terkait adanya mahasiswa FKM UMI Makassar yang meninggal dunia di Embun Pagi, Lingkungan Butta Toa, Kecamatan Tinggimoncong, Gowa. Berdasarkan pemeriksaan sementara Zhafira meninggal pada pukul 04.00 Wita, Minggu (24/7).

"Informasinya tadi subuh pukul 04.00 Wita kejadiannya," ujarnya kepada wartawan.

Atas kejadian tersebut, kata Jumadi, pihaknya baru memeriksa tiga orang panitia pelaksana pengaderan. Jumadi belum bisa memastikan kematian Zhafira saat mengikuti pengaderan akibat kelelahan atau ada tindak kekerasan.

"Kami masih melakukan penyelidikan. Baru tiga orang panitia yang kami periksa," kata dia.

Jumadi mengaku jasad Zhafira sudah dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Makassar untuk menjalani proses visum dan autopsi. Untuk itu, pihaknya masih menunggu hasil dari pemeriksaan Biddokes Polda Sulsel terkait jenazah Zhafira.

"Saya belum tahu soal itu (luka lebam). Dugaan sementara masih korban kecapean," tuturnya.

Sementara orang tua Zharida, Abdul Azis mengaku dirina baru mengetahui anaknya meninggal dunia pada pukul 06.00 Wita. Ia mendapatkan kabar anaknya meninggal dunia dari panitia pelaksana pengaderan.

"Panitianya yang menelpon saya langsung menyampaikan kalau anak saya meninggal. Awalnya saya tidak percaya karena takutnya itu penipuan, tapi setelah video call ternyata benar anak saya meninggal," ujarnya.

Azis mengaku sudah meminta kepada pihak kepolisian untuk dilakukan visum maupun autopsi terhadap jasad anaknya. Ia ingin mengetahui apakah anaknya meninggal karena kekerasan atau hipotermia.

"Saya hanya ingin tahu penyebab kematian anak saya. Ini juga agar tidak ada saling mencurigai, karena ada informasi berbeda antara panitia dengan pihak petugas puskesmas," sebutnya.

Berdasarkan informasi pengaderan FKM UMI Makassar diikuti sebanyak 61 orang, terdiri dari 20 orang panitia, 24 orang peserta dan 17 orang pengurus organisasi. Selain Zhafira, dikabarkan satu peserta pengaderan Muh Fahri juga harus dirawat usai mengikuti pengaderan tersebut. [fik]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel