Mahathir Mohamad Beberkan Cara Mengambil Kebijakan Kurang Populer untuk Malaysia

Merdeka.com - Merdeka.com - Mantan Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad mengungkap cara dia mengelola dinamika politik. Ketika kerap kali mendapat pertanyaan atas sejumlah kebijakan yang dirasa kurang populer di masyarakat.

"Sebelum ini saya sering ditanya bagaimana saya membuat keputusan- keputusan yang kurang populer, semasa saya menjadi Perdana Menteri Malaysia," kata Mahathir dalam acara rakernas NasDem, di JCC Senayan, Jakarta Pusat, Jumat (17/6).

Lulusan Sultan Abdul Hamid College dan The University of Malaya di Singapura menjelaskan caranya dalam mengambil kebijakan selalu memakai paradigma pengobatan dengan terlebih dahulu mendiagnosa akar permasalahan.

"Saya terangkan sebagai seorang yang terlatih menjadi dokter pengobatan saya melihat sesuatu isu ataupun masalah daripada sudut perobatan," katanya.

"Pertamanya kita perlu diagnose ataupun mengkaji. Apakah penyakit yang menjangkiti ataupun diidap oleh rakyat dan negara," tambahnya.

Meski kerap kali tidak populer kebijakan yang diambilnya karena dinilai berisiko, namun sebagai perdana menteri dirinya harus melakukan itu dengan memilih obat yang tepat berdasarkan diagnosa yang telah dilakukan.

"Setelah kita paham apakah penyakitnya kita perlu mencari remedi ataupun obatnya, supaya penyakit itu dapat kita obati. Adakalanya, penyakit itu sudah terlalu lama dan menular. Sehingga perlu dipotong ataupun di-amputated untuk menyelamatkan bagian-bagian badan yang lain," katanya.

Walaupun, lanjut dia, dirasa akan menyakitkan. Namun harus disadari jika pilihan kebijakan itu harus diambil demi menyelamatkan hal lain yang lebih penting.

"Keputusan itu melakukan amputation ini perlu dibuat walaupun dianya amat sukar pedih dan menyedihkan. Begitulah juga kedudukan seorang pemimpin yang memegang tampuk kepemimpinan nasional," bebernya.

Oleh karena itu, Mahathir menegaskan jika seorang pemimpin harus mampu memiliki keberanian dalam mengambil sebuah kebijakan. Sebab jangan menjadi pemimpin yang hanya memilih jalur mudah dengan selalu mengambil keputusan populis.

"Namun kita tahu terdapat ramai pemimpin yang tidak mempunyai keberanian yang hanya akan mencari jalan mudah yang populis dan hasilnya rakyat akan terlena buat seketika tanpa segan negara sedang rusak dan akhirnya akan binasa ketika itu rakyat lah yang akan membayar harga yang amat mahal," tuturnya. [eko]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel