Mahfud MD Jelaskan Pentingnya Motif dalam Kasus Pembunuhan Berencana Brigadir J

Merdeka.com - Merdeka.com - Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD mengatakan jika dalam kasus pembunuhan berencana Brigadir J yang dilakukan Ferdy Sambo dan para tersangka lainnya sudah jelas pokok perkaranya.

Pokok perkara menyangkut kasus dugaan pembunuhan berencana telah secara gamblang tergambar dalam kasus tersebut. Hal itu juga sebagaimana laporan dari Komnas HAM dan Komnas Perempuan dalam laporannya.

"Kalau dari laporan ini sudah jelas perencanaan pembunuhan pasal 340 dan 338. Sehingga soal motif itu tidak harus ada (motif)," kata Mahfud saat jumpa pers di Jakarta Pusat, Senin (12/9).

Namun demikian, Mahfud menilai jika perlunya motif diperuntukan ketika majelis hakim ingin tahu latar belakang terjadinya pembunuhan. Termasuk untuk membuktikan apakah perencanaan itu dibuat dalam keadaan seperti apa.

"Tapikan kadang kala hakim ingin tahu juga apakah pelakunya ini orang sehat atau gila kan gitu. Sehingga dicari motifnya, kalau sudah tidak gila sebenarnya cukup," kata dia.

"Tapi mungkin apakah emosional atau terencana dan seterusnya itu kita serahkan kepada polisi yang mengolah itu," tambah dia.

Menurutnya, soal motif nanti akan diungkap oleh pihak kepolisian sebagaimana duduk perkara demi kebutuhan pro justitia untuk persidangan nantinya.

"Dan polisi kan tau mana yang harus didalami atau tidak saya juga sudah koordinasi dengan polisi tentang ini semua," ujarnya.

Untuk diketahui, lima tersangka kasus pembunuhan Brigadir J, antara lain Bharada E alias Richard Eliezer Pudihang Lumiu, Bripka RR alias Ricky Rizal, Kuat Maruf alias KM, Irjen Ferdy Sambo alias FS, dan Putri Candrawathi alias PC.

Pada kasus ini, Bharada E dijerat dengan Pasal 338 KUHP tentang Pembunuhan Juncto 55 dan 56 KUHP.

Sedangkan, Brigadir RR dan KM dipersangkakan dengan Pasal 340 KUHP tentang Pembunuhan Berencana subsider Pasal 338 juncto Pasal 55 dan Pasal 56 KUHP.

Sementara Ferdy Sambo dipersangkakan dengan Pasal 340 subsider Pasal 338 jo Pasal 55, Pasal 56 KUHP. Selanjutnya, Putri Candrawathi disangkakan dengan Pasal 340 KUHP juncto Pasal 55 dan Pasal 56. [ded]