Mahfud MD kenang Kiai Dimyati Rois sebagai sosok sederhana

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD menyampaikan duka cita atas wafatnya Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Dimyati Rois dan mengenang beliau sebagai sosok yang senantiasa tampil sederhana.

"Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Saya sedang berada di KBRI Den Haag saat ada berita KH Dimyati Rois wafat. Seperti kiai NU pada umumnya, almarhum adalah kiai yang selalu tampil sederhana," tulis Mahfud dalam akun Twitter pribadinya @mohmahfudmd, sebagaimana dipantau di Jakarta, Jumat.

Dia pun mengatakan mengenal KH Dimyati Rois dengan baik dan sering mengunjungi pondok pesantren (ponpes) yang beliau asuh, yakni Pondok Pesantren Al-Fadlu wal Fadhilah Jagalan, Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah.

"Saya kenal baik dan sering berkunjung ke ponpesnya di Kaliwungu. Insya Allah husnul khotimah, amin," kata Mahfud.

Baca juga: Stafsus Wapres: Dimyati Rois kiai kharismatik

Baca juga: Prof Zainal Abidin: KH Dimyati Rois kiai karismatik yang rendah hati

KH Dimyati Rois meninggal dunia di Rumah Sakit Telogorejo Semarang, pada Jumat dini hari. Dia lahir di Bulakamba, Brebes, Jawa Tengah, pada 5 Juni 1945.

Kabar duka itu pertama kali disiarkan dalam akun media sosial Pondok Pesantren APIK Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah, pada Jumat dini hari.

Selain menjadi mustasyar, yaitu kumpulan kiai sepuh dan ulama penasihat PBNU, KH Dimyati Rois juga merupakan Ketua Dewan Syuro DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Berdasarkan informasi, rencananya, jenazah pria yang akrab disapa Mbah/Abah Dim ini direncanakan dimakamkan di kompleks Pondok Pesantren Al-Fadlu 2 di Srogo, Kendal, Jawa Tengah.

Kiai Dimyati tercatat sempat terpilih sebagai salah satu dari sembilan anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) dalam gelaran dua Muktamar NU tahun 2015 dan 2021.

Baca juga: Kader PKB diminta gelar sholat gaib atas wafatnya KH Dimyati Rois

Pada Muktamar Ke-34 NU di Lampung akhir tahun 2021, Dimyati terpilih sebagai anggota AHWA.

Meski mendapat suara terbanyak pada saat itu, yakni 503 suara, bersama delapan kiai lainnya, ia memilih Miftachul Akhyar untuk mengisi posisi Rais Aam PBNU.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel