Mahfud: Pemikiran geopolitik Bung Karno perlu dihadirkan kembali

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) Mahfud MD mengatakan bahwa pemikiran geopolitik Soekarno perlu dihadirkan kembali saat ini.

Hal tersebut disampaikan dalam kesempatan diskusi ilmiah "Pemikiran Geopolitik Bung Karno dalam Suara Kebangsaan" yang diselenggarakan Kedeputian VI Kemenkopolhukam di Jakarta, Jumat.

"Progressive Geopolitical Coexistence itu yang sekarang perlu kita hadirkan lagi karena masalah di dalam kita banyak dan Bung Karno sudah punya konsep bagaimana mengelola di dalam yang beragam itu," kata Mahfud yang dijumpai usai diskusi di Hotel Borobudur Jakarta.

Mahfud menilai bahwa kerangka pemikiran geopolitik Soekarno futuristik yang dapat menjadi acuan dalam menyelesaikan berbagai permasalahan saat ini.

"Bagaimana melihat ke depan sehingga kita menjadikan geopolitik itu sebagai masa depan, kerangka masa depan kita, sebenarnya ada di geopolitik Bung Karno itu," ujarnya.

Dengan demikian, kata Mahfud, diskusi terkait pemikiran geopolitik Soekarno tersebut penting untuk didiskusikan dan disosialisasikan, terutama penting bagi dirinya yang bertugas di bidang politik.

Baca juga: Hasto paparkan disertasi pemikiran geopolitik Bung Karno
Baca juga: Hasto: Pemahaman geopolitik Bung Karno relevan untuk perdamaian dunia

"Politik salah satu yang terpenting dari pembangunan adalah bagaimana memantapkan ideologi dan konstitusi kita," katanya.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP PDI Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto mengatakan bahwa seluruh dimensi pemikiran geopolitik Soekarno memiliki esensi untuk membangun kepemimpinan Indonesia bagi dunia.

"Karena itulah mempelajari geopolitik ini kita membangun kepemimpinan di bidang pendidikan, di bidang olahraga, pentingnya penguasaan ilmu pengetahuan, dan teknologi, pentingnya bagaimana membangun kekuatan diplomasi," tuturnya.

Hasto mengatakan gagasan geopolitik Soekarno merupakan pemikiran yang membangun peradaban dunia agar lebih demokratis dan bebas dari segala bentuk penjajahan serta dunia yang menempatkan setiap bangsa duduk setara.

"Kemudian dibangun solidaritas melalui suatu kerja sama antarbangsa bagi kemakmuran umat manusia sedunia," kata Hasto.