Mahfud: Sanksi Pidana jadi Favorit Hukum Pelaku, Ini Menyebabkan Penjara Penuh

Merdeka.com - Merdeka.com - Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Mahfud MD menyebut, bahwa sanksi pidana masih menjadi model favorit untuk menghukum pelaku. Menurutnya, hal ini yang menyebabkan penjara penuh hingga tak bisa menampung luapan narapidana.

"Sanksi pidana masih menjadi model favorit untuk menghukum pelaku, ini pula yang menyebabkan penjara menajdi penuh sehingga tidak bisa menampung luapan narapidana yang terus menerus masuk ke dalam penjara," kata Mahfud di acara konferensi nasional keadilan restoratif, Selasa (1/11).

Maka dari itu, pendekatan restorative justice untuk menyelesaikan kasus hukum menjadi penting. Selain untuk mengurangi overcrowding penjara, bisa mencegah narapidana menjadi penjahat baru saat di lapas.

"Yang bisa dimasukkan pun terkadang menimbulkan problem baru sehingga anggapan bahwa penjara itu adalah sekolah kejahatan, karena harusnya seseorang itu diperbaiki di masyarakatkan malah menjadi penjahat baru dan belajar kepada penjahat lain itu sekarang masih sering muncul, itu sebabnya kita perlu restorative justice," tuturnya.

Mahfud melanjutkan, kelebihan dan kepadatan populasi lapas membawa masalah dalam berbagai aspek. Seperti keamanan, kesehatan dan biaya.

"Mahal sekali itu biaya dan ada ketentuannya makanan jenis makanan minimal gizi yang diperlukan untuk setiap penghuni lapas minimal sekian sehari itu ditanggung pemerintah, kesehatan, kemudian hari raya, dan seterusnya ada fasilitas fasilitas yang mahal sekali," ucapnya.

"Tetapi tidak menyebabkan orang menjadi bermasyarakat lagi pada umumnya, tidak kembali normal di dalam kehidupan masyarakat ada yang kapok sembuh tapi itu tidak banyak juga," ujar Mahfud. [ray]