Main di Miracle in Cell No 7, Vino G Bastian Didampingi 3 Psikolog Sekaligus

Liputan6.com, Jakarta Vino G Bastian tidak main-main dalam menerima tantangan peran yang ia terima dalam film Miracle in Cell No 7. Dalam film yang dibuat ulang dari sinema Korea ini, ia memerankan karakter seorang ayah yang memiliki disabilitas intelektual dan autisme.

Dalam mendalami peran di Miracle in Cell No 7 ini, Vino melakukan riset khusus secara langsung. 

"Ketika riset tidak lewat Google, tapi melihat langsung orang mana yang akan kita jadikan role model. Saat persiapan saya ambil satu orang, saya ikuti, saya videoin, untuk dibedah sama-sama," kata Vino dalam sesi virtual conference Miracle in Cell No 7, Senin (11/5/2020).

Tiga Psikolog

Miracle in Cell No 7 versi Indonesia (Instagram/ falconpictures_)

Tak hanya itu, selama proses persiapan hingga syuting berjalan, Vino G Bastian didampingi oleh tiga psikolog yang mengerti perihal disabilitas intelektual. Jadi sebelum beradegan, ia pun berkonsultasi untuk mendapatkan gestur yang meyakinkan. 

Diskusi Dulu

Miracle in Cell No 7 versi Indonesia (Instagram/ falconpictures_)

"Karakter saya penyandang intelektual disabilitas dibarengi dengan autisme. Ada tiga psikolog dilibatkan, setiap adegan yang kita ciptakan, kita diskusikan dulu mungkin atau tidak mungkin. Ketika psikolog memberi lampu hijau mungkin dengan alasan seperti ini, dan tidak mungkin dengan alasan seperti ini, baru masuk adegan," tutur Vino. 

Hati-Hati

Vino menyebut bahwa dalam proyek film ini, teman disabilitas intelektual ini memang dieksplorasi secara sangar hati-hati. 

"Kita hati-hati sekali mengambil satu gestur atau kegiatan. Karena takutnya orang yang melihat akan bertanya. Jadi ini harus jeli," tutur suami aktris Marsha Timothy tersebut.

Aspek Dramatisasi

Sementara itu sang sutradara, Hanung Bramantyo, mengatakan dirinya beruntung menemukan psikolog yang tepat. Karena ketiga psikolog tersebut juga pecinta film sehingga bisa mengerti kebutuhannya sebagai seorang sineas untuk melakukan dramatisasi.

"Yang harus digarisbawahi, psikolog ini juga penonton film. Jadi mereka memahami aspek dramatisasi. Mereka tidak kemudian menjadi saklek, mereka memberikan logika dasar untuk kita olah bersama," tuntas Hanung dalam kesempatan yang sama.

(Kapanlagi.com/ abs/pit)