Majalah Sastra 'Surah' Diluncurkan di Yogyakarta  

TEMPO.CO, Yogyakarta - Majalah sastra Surah edisi perdana yang terbit dwibulanan diluncurkan di pendapa Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS) Yogyakarta, Rabu malam, 27 Februari 2013. Peluncuran majalah yang bersemboyan "medan sastra Indonesia" itu dihadiri seorang pendirinya, sastrawan Ahmad Tohari. "Saya bilang bagus atas terbitnya majalah sastra yang digawangi anak-anak muda ini. Sudah lama ditunggu-tunggu," kata Tohari seusai peluncuran majalah.

Hanya, lanjut Tohari, untuk mempertahankan intensitas penerbitan majalah tersebut, harus memperhatikan animo pembaca dan pengelolaannya. "Karena itu yang membuat majalah tetap hidup, berkembang, atau malah cepat mati," kata Tohari.

Solusi agar intensitas penerbitan terjaga, menurut Tohari, pembaca tidak sekadar membaca, melainkan juga menulis. Sekaligus menjadi agen yang menyebarkan dan aktif membayar biaya cetak majalah. "Karena prinsip lillahi ta'ala itu disalahartikan. Mau menerima, tapi enggak mau memberi," kata Tohari. Sentilan itu dimaksudkan bagi pembaca yang sekadar membaca, namun tak mau membeli karena tak mau membayar ongkos buku.

Pemimpin Redaksi Surah, Hamzah Sahal, menjelaskan, awal mula diterbitkannya majalah itu untuk membayar utang kepada mahasiswa kampus. Hamzah mengenang saat mahasiswa yang bergabung dalam Lembaga Pers Mahasiswa "Arena" dari Institut Agama Islam Negeri (sekarang disebut Universitas Islam Negeri) Sunan Kalijaga Yogyakarta mendatanginya di Pesantren Krapyak.

Mereka meminta materi sastra kepada Hamzah, yang belum bisa diberikan. "Jadi ini untuk nyaur utang. Makanya cita-cita kami adalah menemani anak-anak SMA dan mahasiswa untuk menulis sastra," kata Hamzah.

Majalah tersebut berisi aneka karya sastra, seperti cerita pendek dan puisi. Sejumlah budayawan lain juga hadir dalam peluncuran itu, antara lain Kris Budiman dari Yogyakarta, Acep Zam-zam Noor dari Tasikmalaya, juga Hairus Salim dari Yogyakarta.

PITO AGUSTIN RUDIANA

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.