Makan Mi Jagung yang Disimpan Setahun, Satu Keluarga Tewas Keracunan

·Bacaan 1 menit

Liputan6.com, Tiongkok - Hampir semua individu menyukai mi, teksturnya yang kenyal menambah kenikmatan bagi yang menyantapnya.

Namun sayang, makanan berbahan dari tepung terigu ini tidak boleh dikonsumsi terlalu sering karena menyebabkan masalah kesehatan.

Nahasnya, mengkonsumsi mi malah berujung duka bagi keluarga di Tiongkok. Sembilan anggota keluarga tewas akibat keracunan makanan yang dibuat sendiri.

Kisahnya bermula ketika sebuah keluarga yang beranggotakan 12 orang di Jixi, Heilongjiang, sarapan suan tang zi, mi khas Tiongkok bersama-sama.

Bahan olahan mi yang terbuat dari tepung jagung yang difermentasi sebelumnya telah disimpan di dalam kulkas selama hampir setahun.

Penyimpanan yang terlalu lama menyebabkan mi menjadi busuk dan mengeluarkan bau. Akibat dari reaksi inderanya, tiga anggota termuda menolak untuk memakannya. Sementara yang lainnya tetap menikmati hidangan mi itu.

Kata Pakar

(Liaoning TV/youtube.com)
(Liaoning TV/youtube.com)

Melansir Global Times, Jumat (23/10/2020), komisi Kesehatan Provinsi Heilongjiang mengungkapkan bahwa mi yang telah melalui proses fermentasi memiliki tingkat konsentrasi asam bongkek (bongkrekic acid) yang tinggi. Asam ini diketahui toksin sistem pernapasan yang lebih mematikan dari sianida.

Dan bila orang yang mengonsumsi makanan yang terkontaminasi asam ini akan mengalami tingkat kematian 40 hingga 100 persen.

Hasil pemeriksaan medis

Ilustrasi mi instan | Karolina Grabowska dari Pexels
Ilustrasi mi instan | Karolina Grabowska dari Pexels

Melansir dari Indian Times, orang yang selamat menyampaikan bahwa 7 anggota keluarganya meninggal pada 10 Oktober, sedangkan dua yang lainnya meninggal 1 hari setelahnya.

Dari insiden tersebut, Komisi Kesehatan China segera setelah mengeluarkan peringatan nasional untuk tidak membuat atau memakan makanan dari tepung terigu.

Dokter mengatakan bahwa toksin yang terkandung dalam asam bongkrek menyerang lambung mereka yang berakibat fatal pada kematian.

Penulis:

Ignatia Ivani

Universitas Multimedia Nusantara

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: