Makanan Penyebab Keputihan, Gejala, Pengobatan, dan Cara Mencegahnya

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta Makanan penyebab keputihan perlu kamu perhatikan. Pasalnya, bisa saja makanan tersebut adalah makanan kesukaanmu yang kamu konsumsi sehari-hari. Sebelum itu, kamu perlu memahami jenis keputihan terlebih dahulu.

Keputihan adalah cara alami tubuh untuk menjaga kebersihan dan kelembapan organ kewanitaan. Keputihan dapat dipengaruhi oleh proses normal tubuh ataupun karena infeksi. Keputihan sendiri adalah kondisi saat cairan keluar dari vagina.

Ada dua jenis keputihan, yaitu keputihan fisiologis atau alami dan keputihan patologis atau kelainan.

Keputihan fisiologis adalah keputihan yang bersifat normal dengan ciri-cirinya berjumlah sedikit, cair, bening, tidak berbau, dan tidak menyebabkan gatal. Hal ini biasanya terjadi karena perubahan hormon yang dipengaruhi siklus haid, stres, kehamilan, hingga aktivitas seksual.

Sementara itu, keputihan patologis merupakan keputihan yang tidak normal. Ciri-cirinya yaitu bau, gatal, dan jumlahnya cukup banyak. Hal ini dapat disebabkan karena proses infeksi, alergi, benda asing, atau tumor di saluran reproduksi.

Makanan penyebab keputihan perlu dikenali agar kamu dapat menghindarinya. Selain itu, kamu juga perlu mengenali penyebabnya agar dapat ditanangani dengan tepat. Berikut Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Rabu (3/11/2021) tentang makanan penyebab keputihan.

Penyebab Keputihan

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, penyebab keputihan bisa terjadi karena proses normal tubuh ataupun karena infeksi. Penyebab keputihan normal adalah perubahan hormon, rangsangan seksual, stress, hingga karena ibu menyusui.

Sementara itu, penyebab keputihan tidak normal atau akibat infeksi sering kali didipengaruhi oleh beberapa mikroorganisme seperti bakteri (vaginosis bacterial dan klamidiasis), jamur kandida (kandidiasis), dan protozoa (trikomoniasis).

Penyebab keputihan akibat infeksi ini biasanya disebabkan oleh kurangnya kebersihan pada area vagina, ketidakseimbangan kuman pada vagina, baik karena obat-obatan atau hormon, hingga karena hubungan seksual.

Makanan Penyebab Keputihan

Ilustrasi Junk Food Credit: pexels.com/Engin
Ilustrasi Junk Food Credit: pexels.com/Engin

Setelah mengenali penyebab keputihan, kamu juga perlu mengetahui makanan penyebab keputihan. Dilansir dari Merdeka, berikut makanan penyebab keputihan yang perlu kamu hindari:

- Konsumsi makanan junk food, seperti makanan yang mengandung banyak minyak dan makanan pedas secara berlebihan. Makanan penyebab keputihan ini tentu harus kamu hindari.

- Berbagai jenis makanan dingin. Menurut ahli, kebiasaan konsumsi makanan dingin dapat meningkatkan risiko keputihan pada wanita. Bahkan kebiasaan ini dapat membuat kondisi keputihan semakin buruk. Beberapa makanan penyebab keputihan yang bersifat dingin dan mengandung banyak air adalah Es krim, Es serut, Semangka, nanas, Pir, dan Tomat.

Makanan penyebab keputihan, yaitu makanan dingin yang dikonsumsi dapat memperburuk kondisi keputihan karena merusak fungsi organ limpa dan lambung. Dalam hal ini, proses metabolisme air menjadi terhambat dan tidak dapat bekerja dengan lancar. Kondisi ini akan menyebabkan penumpukan air dan kelembapan di dalam tubuh sehingga akan memperparah masalah keputihan.

Gejala Keputihan

Setelah mengetahui berbagai makanan penyebab keputihan, kamu tentunya juga perlu mengenali berbagai gejala keputihan normal dan tidak normal.

Gejala keputihan normal:

- Bau tidak menyengat

- Tidak berwarna (bening) atau warna normal (warna putih biasa)

- Tekstur cairan keputihan tergantung dengan siklus menstruasi

- Meninggalkan bercak kekuningan di celana dalam

Gejala keputihan tidak normal:

- Bau menyengat

- Keputihan memiliki warna (contoh: hijau, keabuan)

- Keputihan keluar lebih banyak dari biasanya

- Keputihan menggumpal seperti keju

- Nyeri hingga gatal pada area vagina

- Nyeri saat buang air kecil

- Pendarahan saat menstruasi

- Pendarahan setelah berhubungan seksual

Gejala keputihan juga dapat dibedakan berdasarkan penyebab keputihan yang mendasarinya:

- Keputihan yang disebabkan oleh jamur kandida biasanya tidak berbau atau berbau asam, bersifat gatal, dan menyebabkan kemerahan di luar vagina.

- Keputihan yang disebabkan oleh vaginosis bakterialis biasanya memiliki cairan keputihan yang berwarna keabu-abuan dan berbau amis.

- Keputihan yang disebabkan oleh klamidia menyebabkan rasa nyeri pada tulang panggul atau saat buang air kecil.

- Keputihan yang disebabkan oleh penyakit menular seksual trikomoniasis biasanya berwarna kekuningan atau kehijauan, berbuih, berbau amis, dan disertai rasa perih saat buang air kecil.

Cara Mengatasi Keputihan

Ilustrasi Dokter Credit: pexels.com/Medith
Ilustrasi Dokter Credit: pexels.com/Medith

Pengobatan keputihan yang tidak normal harus disesuaikan dengan penyebab keputihan. Berikut cara mengobati keputihan sesuai dengan penyebabnya:

- Keputihan karena jamur kandida, dokter memberikan obat antijamur dalam bentuk gel yang dimasukkan ke vagina, atau antijamur tablet yang diminum.

- Keputihan akibat vaginosis bacterial, dapat diobati dengan antiobiotik jenis metronidazol atau klindamisin, baik diberikan melalui vagina atau diminum. Fungsinya untuk menghilangkan bakteri.

- Keputihan akibat klamidia, diobati dengan antibiotik azitromisin satu kali minum atau doksisiklin selama 7 hari. Ini dapat menghilangkan bakteri penyebab keputihan. Pasangan seksual harus diobati juga

- Keputihan akibat trikominiasis, Dokter akan memberikan obat metronidazol. Pada klamidia dan trikomonas, pasangan seksual harus diobati juga.

Cara Mencegah Keputihan

Sebelum mengalami keputihan akibat infeksi atau keputihan yang tidak normal, tentunya kamu bisa melakukan berbagai tindakan pencegahan. Hal ini tentunya bisa kamu lakukan dengan mengenali penyebab keputihan, sehingga kamu bisa jadi lebih paham.

Keputihan dapat dihindari dengan menerapkan beberapa hal, sebagai berikut:

- Bersihkan vagina dengan sabun tanpa pewangi dan bahan kimia

- Keringkan vagina setelah buang air dengan handuk bersih atau tisu

- Hindari terlalu sering menggunakan cairan pembersih vagina

- Bersihkan vagina dari arah depan ke belakang

- Pilih celana dalam yang berbahan katun

- Tidak berganti pasangan seksual atau menggunakan kondom agar terhindar dari risiko infeksi menular seksual

- Lakukan pemeriksaan kesehatan vagina secara rutin kepada dokter kandungan.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel