Maki Pejabat dan Singgung PKI hingga Ngamuk ke Satgas Covid-19, Ini Alasan Kades Jenar Sragen

·Bacaan 2 menit

Sragen - Sosok Kades Jenar, Kecamatan Jenar, Sragen, Samto, belakangan ini jadi sorotan. Ia melakukan sejumlah aksi kontroversial seperti memasang baliho berisi makian kepada pejabat dan tulisan lebih lebih enak zaman PKI.

Setelah itu ia datang ke Polsek Jenar untuk meminta maaf sebelum akhirnya kembali marah-marah kepada Satgas Covid-19 Jenar, Sragen yang membubarkan acara hajatan warganya. Ia juga mengaku tidak pernah memakai masker. Padahal dia adalah aparat pemerintah yang seharusnya memberikan contoh penerapan protokol kesehatan di tengan pandemi Covid-19 yang massif.

Samto membenarkan dirinya tidak pernah memakai masker. Menurutnya, memakai masker justru membuat dirinya sesak napas. Pasalnya, sudah dua tahun terakhir Samto mengalami penyakit stroke yang membuat napasnya terengah-engah.

Tidak hanya itu, penyakit stroke itu juga membuat ia tidak bisa berjalan dengan lancar. Untuk berjalan, ia harus dibantu tongkat. “Kalau saya pakai masker, saya semakin kesulitan bernapas. Itu saja pertimbangan saya mengapa tidak mau memakai masker,” jelas Samto, Sabtu (17/7/2021), dikutip Solopos.com.

Samto mengakui penyakit stroke itu pula yang membuat dia mudah terpancing emosi. Ia mengatakan tindakan kontroversialnya dipengaruhi emosi sesaat karena ia prihatin dengan kondisi warganya yang diperlakukan tidak adil dengan sejumlah kebijakan penanggulangan Covid-19.

Seperti diketahui, Ia membuat geger Sragen dengan memasang baliho berisi makian kepada pejabat dan menyebut zaman PKI lebih enak daripada zaman setelah reformasi.

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

Mudah Terpancing Emosi

Sehari setelah memasang baliho itu, ia datang sendiri ke Kantor Polsek Jenar untuk meminta maaf dan menyatakan mendukung program pemerintah dalam penanggulangan Covid-19. Dia mengakui permintaan maaf itu murni karena dorongan pribadi, bukan atas tekanan dari pihak luar.

Namun, sehari setelahnya, Jumat (16/7/2021), ia kembali terpancing emosi dengan mendorong dua meja saat Satgas Covid-19 membubarkan hajatan warganya.

“Saya sudah diingatkan dokter, kalau penyakit ini akan membuat saya mudah terpancing emosi. Ternyata benar, saya spontan mendorong meja itu. Seharusnya, hajatan itu dibubarkan setelah acara pertemuan pengantin selesai. Ini pengantinnya masih di emperan rumah, tapi malah dibubarkan. Akhirnya saya terpancing emosi,” ujarnya.

Terkait sejumlah kontroversi yang dibuat olehnya, Samto mengaku siap menanggung semua risikonya. Bahkan, siap jika harus berurusan dengan hukum.

“Saya siap berhadapan dengan hukum. Apa yang saya lakukan itu sebagai bentuk kekecewaan saya terhadap pemerintah yang mengambil sikap semena-mena kepada warga. Saya sendiri adalah Ketua Dewan Kesenian Kecamatan Jenar. Hidup saya itu di bawah tayub. Saya banyak menerima keluhan teman-teman sesama seniman karawitan dan campur sari karena mereka kehilangan penghasilan karena tidak boleh pentas,” ucapnya.

Dapatkan berita Solopos.com lainnya, di sini:

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel