Makin Banyak yang Taruh Duit di Fintech Syariah, Ini Buktinya

Raden Jihad Akbar
·Bacaan 2 menit

VIVA – Industri keuangan syariah semakin menunjukkan kinerja yang baik saat ini. Tidak hanya perbankan, hal itu juga terjadi pada perusahaan pear-to-pear landing atau pembiayaan financial technologi berbasis syariah.

Kinerja moncer itu salah satunya ditunjukkan oleh Indonesia Alami Fintek Sharia (Alami). Pada kuartal I 2021 fintech itu telah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp187 miliar.

"Pencapaian ini naik 20 kali lipat dibanding kuartal pertama tahun 2020," kata Chief Executive Officer (CEO) Alami Dima Djani dalam keterangannya di Jakarta, dikutip Jumat 9 April 2021.

Dima mengatakan, pencapaian positif juga tercermin dari pertumbuhan jumlah pendana (funders) baru pada awal tahun ini. Kenaikannya tidak tanggung-tanggung hingga 1.000 persen dibanding kuartal-I 2020.

Baca juga: Bos OJK Pastikan Sekarang Gampang Dapat Kredit Modal Kerja di Bank

Lebih lanjut menurut Dima, dari sisi teknologi, Alami sedang siap-siap meluncurkan aplikasi di Android dan IOS. Setelah selama ini layanan yang diberikan dalam aplikasi versi website.

Selanjutnya, akhir 2020, Alami juga terpilih sebagai Best P2P Financing Platform 2020 oleh The Asset Triple A Awards. Alami bersanding dengan bank dan lembaga keuangan ternama lainnya yang berada di Asia Pasifik, seperti Qatar Islamic Bank, Citibank dan HSBC.

Alami merupakan satu-satunya perwakilan startup Indonesia yang mendapatkan penghargaan ini. Perusahaan juga giat untuk membangun kultur spiritual melalui kegiatan diskusi rohani, kegiatan sosial, serta pengajian virtual.

Kinerja Alami pun ternyata di lirik dunia internasional. Pada Maret 2021, Pemerintah Turki melalui otoritas Kementerian Industri dan Teknologi Turki mengundang Alami untuk berdiskusi soal pembentukan ekosistem P2P lending syariah, berikut regulasinya.

"Mereka sangat terkesan dengan kenyataan bahwa Alami mampu berkembang cepat di Indonesia di tengah kondisi pandemi, kompetisi yang ketat, serta adopsi keuangan syariah di masyarakat kita yang belum optimal,” ujar Dima

Turki ingin bertukar pikiran soal kebijakan internal dan eksternal yang ada di Indonesia. Salah satunya untuk tetap kompetitif di tengah industri yang sudah marak dengan pemain tekfin konvensional.