Makna dan Filosofi Bamboo Dome, Bangunan Unik Lokasi Makan Siang Kepala Negara G20

Merdeka.com - Merdeka.com - Presiden Joko Widodo menjamu para pemimpin negara G20 di halaman belakang Apurva Kempinski, Nusa Dua Bali, Selasa (15/11). Tepatnya di bangunan Bamboo Dome, lokasi yang sama tempat diselenggarakannya forum Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20.

Terletak di tepi pantai, Bamboo Dome dapat dilihat dari anjungan lobi hotel. Dalam ruang makan seluas sekitar 800 meter persegi tersebut, disediakan 43 kursi.

Kursi dan meja besar disusun melingkar. Sehingga para pemimpin dan delegasi dapat menikmati suguhan makanan khas Indonesia bersama-sama.

Momen makan siang menjadi satu pertemuan penting dalam rangkaian KTT G20. Sehingga membutuhkan waktu dan konsep terbaik.

Visual Creative Consultant KTT G20, Elwin Mok menceritakan proses perencanaanya dilakukan hampir sepanjang tahun. Awalnya akan didirikan tenda-tenda di halaman belakang Apurva Kempinski karena permintaan Presiden Joko Widodo sangat sederhana.

"Waktu itu, permintaannya cukup sederhana, Presiden Joko Widodo ingin makan siang dengan pemandangan laut," kata Elwin lewat siaran persnya, dikutip di Bali, Rabu (16/11).

Ide untuk mendirikan tenda kemudian batal karena kekhawatiran kencangnya angin pantai yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia. Tim kreatif kemudian berdiskusi intens dengan koordinator Tim Asistensi dan Kemitraan G20, Wishnutama termasuk juga Sekretariat Negara.

Ide berikutnya adalah mendirikan bangunan yang berbahan bata dan batu. Tapi ide ini diurungkan dengan pertimbangan bangunan hanya bersifat sementara dan akan dibongkar seusai penyelenggaraan G20.

"Kami harus mencari sesuatu yang unik yang hanya dikhususkan untuk G20," kata Elwin.

Inspirasi bisa muncul dalam berbagai kesempatan saat dalam perjalanan singkat ke Pantai Melasti di selatan Bali, Elwin bersama timnya mendapat ide brilian. Mereka melihat sejumlah pekerja konstruksi menggunakan bambu dalam sebuah proyek bangunan setelah diskusi dengan tim diputuskan bambu menjadi bahan utama untuk lokasi makan siang.

Bambu menyimpan filosofi yang sangat dalam, mudah untuk dibentuk melengkung karena sifatnya yang lentur, elastis, dan gampang beradaptasi. Selain itu, bangunan bambu juga terkenal paling kuat terhadap guncangan gempa.

Tim segera membuat desain disesuaikan dengan kehidupan masyarakat Bali, "Sejak dari kecil sudah membuat mainan bambu," ujar Rubi Roesli, desainer Bamboo Dome.

Selain itu untuk mematangkan ide, Rubi dan Elwin kemudian menemui pengajar dan pakar perhitungan bambu Universitas Gajah Mada (UGM) Ashar Saputra. Mereka berdiskusi hingga mendapatkan bentuk yang tepat yaitu kubah setengah lingkaran atau dome.

“Jadi sesuai dengan lambang G20 berupa gunungan,” kata Rubi.

Apalagi bambu ramah lingkungan. Sehingga setelah KTT G20 Bamboo Dome dibongkar bambunya masih bisa dipakai ulang untuk keperluan lain.

Bukan hanya dari sisi arsitektur Bamboo Dome dapat sekaligus promosi Indonesia ke dunia internasional akan kualitas budaya Indonesia.

"Kami ingin menunjukkan bahwa di tengah dunia yang sintetis, ada Indonesia yang masih otentik," pungkas Elwin. [ray]