Makna Mendalam Tradisi Ngapem di Kasultanan Kanoman Cirebon

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Cirebon - Kue Apem Cirebon merupakan salah satu kuliner khas yang keluar pada bulan Safar dalam kalender Jawa. Bagi warga Cirebon, bulan safar diyakini bulan tersebut penuh sial.

Biasanya, cobaan dan bencana alam datang pada setiap akhir bulan safar. Oleh karena itu, memasuki akhir bulan safar dalam kalender jawa, Keraton Kanoman menggelar tradisi tahunan.

Patih Kasultanan Kanoman Cirebon Pangeran Patih Raja Muhammad Qodiran menjelaskan, tradisi ngapem merupakan ritual tahunan yang diyakini sebagai upaya menolak bala atau kesialan.

"Kita bagikan kue apem ini kepada masyarakat gratis setiap akhir bulan Safar setiap Rebo Wekasan menjelang memasuki bulan Mulud," ujar Patih Qodiran, Rabu (6/10/2021).

Pada tradisi ngapem tersebut, keluarga keraton beserta kerabat dan perwakilan tokoh masyarakat berkumpul. Namun, sebelum menyantap Kue Apem, beberapa rangkaian ritual harus dijalankan telebih dahulu, seperti memberian uang atau dalam tradisi Cirebon bernama Tawurji.

Setelah Tawurji, mereka berdoa bersama keluarga kerabat dan masyarakat sekitar kemudian membagikan kue Apem untuk disantap bersama.

Tradisi makan kue Apem pada Rebo Wekasan tersebut diketahii memiliki pesan tersirat, yakni menjaga silaturahmi dan mendapatkan berkah. Pembagian Apem dilakukan pada Rebo Wekasan atau hari Rabu terakhir bulan Safar, karena dianggap merupakan hari yang penting.

"Memiliki nilai kekeramatan dan kepercayaan turunnya ribuan musibah pada akhir bulan Safar. Maka dari itu berbagi Kue Apem di rebo wekasan," kata dia.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Sedekah

Ngapem salah satu tradisi yang digelar keluarga Kasultanan Kanoman Cirebon tiap akhir bulan safar dalam kalender jawa. Foto (Liputan6.com / Panji Prayitno)
Ngapem salah satu tradisi yang digelar keluarga Kasultanan Kanoman Cirebon tiap akhir bulan safar dalam kalender jawa. Foto (Liputan6.com / Panji Prayitno)

Namun demikian, Patih Qodiran menegaskan makna filosofis dari tradisi ngapem adalah sedekah. Keluarga Keraton berbagi kue apem dan melempar koin kepada masyarakat.

Dalam tradisi ngapem, keluarga keraton bersama warga berdoa bersama di bangsal Paseban Keraton Kanoman Cirebon. Doa tersebut sebagai bagian dari upaya manusia memohon kepada pencipta agar tidak ada bencana.

"Bulan Safar biasanya banyak kejadian yang tidak mengenakan yang melibatkan tokoh Islam. Seperti tragedi cucunya Rasul kan di Karbala pada bulan Safar," ujar dia.

Dia mengatakan, tradisi ngapem yang dirangkaikan dengan Tawurji hanya ada di Cirebon. Baik keraton maupun warga Cirebon pada umumnya membuat kue Apem untuk dibagikan gratis kepada masyarakat umum.

Saksikan video pilihan berikut ini

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel