Makna Natal Komunitas Kristen Indonesia di Australia Saat Pandemi

Renne R.A Kawilarang, ABC Indonesia
·Bacaan 5 menit

Perayaan Natal di New South Wales (NSW), negara bagian Australia dengan penduduk terbanyak dan beribukota Sydney akan terasa berbeda pada tahun ini.

"Lockdown" ketat telah diberlakukan di kawasan Northern Beaches akibat wabah baru virus corona.

Hari Rabu kemarin, Pemerintah NSW telah membagi kawasan pantai utara di kota Sydney menjadi dua zona.

Dalam pengumumannya, Premier Gladys Berejiklian memberikan sedikit pelonggaran bagi warganya agar bisa saling mengunjungi selama tiga hari untuk merayakan Natal.

Namun ada perbedaan peraturan di tiap zona soal siapa dan berapa banyak orang yang boleh ada dalam satu rumah.

Pdt Kian Holik, Pastor Gereja Macquarie Indonesian Trinity Church (MITC) mengatakan kepada ABC Indonesia bahwa kalangan jemaat Indonesia merasakan ketidakpastian untuk perayaan Natal tahun ini.

"Jemaat lebih merasa ketidakpastian, karena rencana pergi atau tidak pergi beribadah [jadi] suatu pertanyaan," ujarnya saat dihubungi Erwin Renaldi dari ABC Indonesia di Melbourne.

MITC Sydney - Pendeta Kian
MITC Sydney - Pendeta Kian

Pendeta Kian Holik dari gereja MITC Sydney mengatakan akan kembali memberlakukan aturan empat meter persegi per satu orang untuk ibadah Natal besok (25/12). (Supplied: Kian Holik)

Rencananya mereka akan merayakan Natal dengan bergabung bersama induk gereja Trinity Chapel Macquarie yang akan digelar di gereja mereka di sebelah Macquarie University, Jumat (25/12) besok.

Meski kawasan ini tidak memberlakukan "lockdown" ketat karena lokasinya jauh dari Northern Beaches, ia mengatakan tetap ada pembatasan karena aturan di Greater Sydney.

"Kita kembali lagi memberlakukan aturan empat meter persegi per satu orang," ujarnya.

Ia juga mengatakan jika jemaat yang datang tidak boleh menyanyi.

"Nanti akan ada performer yang boleh nyanyi, tanpa pakai masker, maksimal lima orang dengan jarak dengan jemaahnya lima meter," jelasnya.

Khusus untuk kalangan jemaat Indonesia sendiri, Pastor Kian mengatakan sudah digelar dua perayaan Natal pada akhir pekan lalu, dengan menggabungkan ibadah secara daring dan tatap muka.

Menerapkan sistem "ticketing" pada ibadah Natal tatap muka Ps Robin dari GMS Sydney mengatakan segala aturan pembatasan yang ditetapkan oleh Pemerintah adalah untuk kebaikan bersama. (Supplied: GMS Sydney)

GMS Sydney - Ibadah Biasa WL dan Singer
GMS Sydney - Ibadah Biasa WL dan Singer

Wakil gembala Gereja Mawar Sharon (GMS) Sydney, Ps Robin Widoyo mengatakan persiapan perayaan Natal sudah dilakukan beberapa bulan sebelumnya, karena tahu perlu ada penyesuaian di tengah pandemi COVID-19.

Salah satunya adalah dengan tidak mementaskan pertunjukan drama seperti tahun-tahun sebelumnya, melainkan dengan merekamnya dalam bentuk video.

GMS SYDNEY - Ps Robin
GMS SYDNEY - Ps Robin

Wakil Gembala GMS Sydney, Ps Robin Widoyo dan istrinya, Yenny Wasisto. (Supplied: Robin Widoyo)

"Mulai Oktober kemarin sudah ada shooting dan di-edit, jadi nanti pas hari Jumat [Natal] kita tayangkan videonya," kata Ps Robin.

Karena pembatasan kembali diberlakukan di kawasan Greater Sydney, Pastor Robin mengatakan ibadah Natal besok akan dibagi menjadi dua dengan masing-masing dibatasi 60 orang.

Mereka akan diperiksa suhu tubuhnya sebelum masuk dan wajib menggunakan masker saat mengikuti ibadah.

"Kami melakukan sistem ticketing yang harus ada reservasi dulu … dan sekarang sudah penuh dipesan," ujarnya.

Ps Robin mengaku jika jemaatnya masih merasa khawatir dengan pandemi COVID-19 di Sydney, takut akan ada wabah baru.

Sehari sebelum Natal, NSW mencatat sembilan penularan baru virus corona, tujuh terkait dengan wabah di Northern Beaches, hingga totalnya sekarang menjadi 104 kasus.

"Ada beberapa jemaat yang bekerja di bidang hospitality, akomodasi yang mulai ramai kembali, tapi mereka khawatir kalau tiba-tiba harus di-lockdown dan kehilangan pekerjaan lagi," ujarnya.

Ia mengaku selama pandemi, gerejanya juga melakukan kegiatan amal bernama Mawar Sharon Peduli, salah satunya dengan memberikan dukungan kepada pelajar internasional dengan pembagian makanan gratis setiap harinya.

Menyiapkan rencana cadangan di tengah ketidakpastian

Sementara aturan pembatasan COVID-19 telah dilonggarkan di negara bagian Victoria.

Bulan September lalu, Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Melbourne awalnya berencana untuk mengadakan ibadah Natal secara online, karena masih ada penularan harian dan saat itu aturan "lockdown" sedang diberlakukan secara ketat.

"Kami berdoa supaya boleh 50 orang jemaat yang datang, karena waktu itu cuma boleh lima pemain musik sehingga ibadah mingguan hanya melalui rekaman," kata Ps Debbie Gunawan, gembala gereja tersebut.

Namun setelah Melbourne tidak mencatat penularan lebih dari 50 hari dan dilonggarkannyaa aturan di bulan November, pemimpin gereja tersebut mengambil "keputusan besar" untuk mengadakan ibadah tatap muka.

Malam ini (24/12) dan besok pagi (25/12), pintu gereja tersebut akan terbuka bagi sekitar 70 jemaat, namun tetap menerapkan protokol kesehatan, seperti pendataan identitas, imbauan jaga jarak, dan penyediaan masker dan hand sanitiser.

GPDI MELBOURNE
GPDI MELBOURNE

Gladi bersih ibadah Natal GPdI Melbourne yang perayaannya akan berlangsung malam ini (24/12). (Supplied: GPdI Melbourne)

Pastor Debbie mengaku "masih deg-degan" akan kemungkinan berubahnya aturan dan sudah menyiapkan rencana cadangan.

"Saya bilang juga sama panitianya untuk bersiap-siap kalau tiba-tiba peraturannya berubah, cuma Victoria mungkin tidak berubah, karena biasanya diumumkan hari Minggu," kata dia.

"Tapi kami tetap siap-siap untuk kalau memang harus online, "Worst case scenario" [kemungkinan terburuk]nya adalah jemaat beribadah online di rumah, seperti dulu lagi."

Pastor Debbie mengaku merasa beruntung karena dapat mengadakan ibadah tatap muka di tengah beberapa gereja di Melbourne yang tetap melangsungkan ibadah Natal online.

"Jadi kami termasuk yang beruntung? Entah beruntung, entah berani, entah nekad," ujarnya sambil tertawa.

Pesan Natal dari Australia

Menurut Pastor Debbie, tahun 2020 yang "spesial" ini mencerminkan makna Natal yang sesungguhnya.

"Inilah Natal yang sesungguhnya, seperti 2.000 tahun yang lalu, kelahiran Yesus terjadi dalam kesederhanaan dan kecemasan," kata Pastor Debbie kepada Natasya Salim dari ABC Indonesia.

"Selama ini Natal selalu identik dengan pesta, hadiah, dan pengumpulan dana untuk membeli makanan dan kado ... semoga dengan keadaan ini kita semakin menjadi lebih bijaksana, saling tolong menolong dan berempati ke sesama."

Ps Debbie Gunawan
Ps Debbie Gunawan

Ps Debbie Gunawan (kiri) bersama Ps Krisno Wibowo, gembala GPdI Melbourne. (Supplied: Debbie Gunawan)

Pendeta Kian dari MITC Sydney mengingatkan jika di tengah kesulitan yang hadapi jemaat, "Tuhan itu tetap berkuasa".

"Jangan takut, walaupun kehidupan kita akan tidak pasti dalam waktu ke depan, tapi Tuhan itu selalu berkuasa dan Dia itu Maha Kuasa," ujarnya kepada ABC Indonesia.

"Juga mengucap syukur, berterima kasih atas apa yang kita peroleh, situasi kita jauh lebih dibandingkan negara lain, walaupun ada pembatasan dan tiba-tiba ada wabah, tetap harus bersyukur."

Sementara, Ps Robin dari GMS Sydney mengajak warga Indonesia di Australia untuk tetap taat kepada peraturan Pemerintah Australia.

"Sebagai gereja, kita percaya akan kebijakan Pemerintah Australia dengan segala aturan pembatasan yang dilakukan itu untuk kebaikan kita sesama," jelasnya.

"Di tengah ketidakpastian pandemi, kita harus terus memberitakan injil keselamatan, kasih setia Tuhan, kebaikan Tuhan, kepada setiap orang yang membutuhkan."