Malam Gelap dan Hamparan Jemaah Haji di Muzdalifah

Merdeka.com - Merdeka.com - Matahari mulai terbenam. Pertanda tanggal 9 Dzulhijjah atau waktu wukuf segera berakhir. Artinya, jemaah dari berbagai negara termasuk Indonesia harus segera diberangkatkan menuju Muzdalifah.

Jemaah tampak mulai sibuk di dalam tenda. Kembali mengemas barang yang dibawa. Sesuai urutannya, setelah prosesi wukuf di Arafah, jemaah akan bermalam (mabit) di Muzdalifah. Tidak lama, hingga pergantian waktu masuknya tanggal 10 Dzulhijjah.

Di sana, mereka akan mengambil batu kerikil dalam hitungan tertentu. Batu-batu itu kemudian mereka bawa ke Mina. Untuk nantinya dilemparkan saat melempar jumrah pada tiga-tiang. Ula, wustha dan aqobah.

Pantauan tim Media Center Haji (MCH) 2022, Sabtu (9/7) dini hari pukul 00.00 WAS, seluruh jemaah Indonesia sudah berada di Muzdalifah. Mereka duduk hingga tiduran dengan beralaskan karpet yang disediakan.

Tetapi ada pula jemaah yang memang membawa alas sendiri, dipersilakan memakainya. Mereka duduk di antara barang-barang yang dibawa. Sebab, bus yang mengantarkan mereka ke Muzdalifah berganti.

Banyak jemaah memilih waktu yang singkat itu untuk beristirahat meski tak benar-benar terlelap. Tetapi sebagian jemaah memilih berdoa atau menyantap makanan ringan yang dibawa. Ada juga, yang sekadar berbincang sesama jemaah.

Di Muzdalifah jemaah dapat membawa, mengambil sendiri batu kerikil yang akan dibawa untuk melempar jamarat. Tetapi, panitia sendiri dalam hal ini pihak syarikat juga sudah mempersiapkan.

Kurang lebuh pukul 00.30 WAS, jemaah kembali dinaikkan ke dalam bus. Mereka akan dibawa ke Mina untuk melempar jumrah pada tanggal 10 Dzulhijjah. Adapun khusus di tanggal 10 Dzulhijjah, tiang yang dilemparkan hanya Aqabah dengan jumlah batu sebanyak 7 butir. [eko]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel