Malang Heritage diharapkan putar ekonomi kerakyatan

Ahmad Buchori
·Bacaan 2 menit

Pembangunan kawasan wisata Malang Heritage, di Kota Malang, Jawa Timur, diharapkan mampu memutar perekonomian warga sekitar yang dibungkus dalam konsep wisata warisan budaya.

Wali Kota Malang Sutiaji mengatakan bahwa di sepanjang koridor Malang Heritage atau kawasan Kayutangan tersebut, tidak akan diperbolehkan pedagang kaki lima untuk beroperasi.

"Nantinya tidak ada pedagang kaki lima di sini. Jadi, pada saat wisatawan datang, ingin membeli makanan atau oleh-oleh, akan diarahkan ke perkampungan yang ada," kata Sutiaji, di Kota Malang, Jawa Timur, Rabu.

Sutiaji menjelaskan, perkampungan yang ada di sekitar kawasan Kayutangan tersebut, saat ini kondisinya sudah tertata rapi. Wisatawan yang berkunjung ke Kota Malang, bisa meluangkan waktu ke area perkampungan tersebut.

Area perkampungan itu, dulunya merupakan perkampungan kuno, yang dibuktikan dengan adanya prasasti ukir negara, dari masa akhir Kerajaan Kediri. Kampung Kayutangan merupakan hutan yang kemudian dibuka menjadi jalan setapak.

Pada tahun 1.800-an, jalan setapak tersebut diperbesar setelah pasukan Belanda masuk ke Kota Malang, yang pada akhirnya membuka perkampungan atau tempat tinggal di sepanjang kawasan Kayutangan.

Saat ini, di perkampungan itu, masih cukup banyak bangunan peninggalan era Hindia Belanda kokoh berdiri. Bangunan-bangunan tua tersebut, menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan untuk melakukan swafoto. Selain bangunan rumah, juga terdapat saluran air peninggalan Belanda yang menjadi titik favorit wisatawan.

Menurut Sutiaji, nantinya masyarakat perkampungan akan menjual makanan khas Malang, yang akan dikelola oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), dari tingkat Rukun Tetangga (RT) hingga Kelurahan.

"Jadi masyarakat nantinya tidak asing dengan Kayutangan. Nanti disiapkan kelompok-kelompok untuk berjualan," ujar Sutiaji.

Selain itu, lanjut Sutiaji, kawasan Malang Heritage juga bakal diintegrasikan dengan para wisatawan yang akan berkunjung ke Bromo Tengger Semeru (BTS). Pada umumnya, wisatawan baru akan memulai perjalanan ke kawasan BTS pada tengah malam.

"Orang yang akan ke Bromo, biasanya akan menunggu hingga dini hari. Sebelum berangkat, bisa menunggu di kawasan Malang Heritage ini," ujar Sutiaji.

Kawasan Kayutangan, atau yang saat ini dikenal sebagai Jalan Basuki Rachmad merupakan pusat perdagangan, dan pertokoan pada masa Hindia Belanda. Di kawasan tersebut, berderet bangungan tua yang memiliki nilai sejarah tinggi.

Proyek pembangunan Malang Heritage tersebut baru dilakukan 9 November 2020, yang bertujuan untuk penataan ulang koridor Kayutangan. Rencananya, koridor tersebut akan dibuat menyerupai Malioboro di Yogyakarta, atau Jalan Braga yang ada di Bandung.

Pendanaan proyek pembangunan Malang Heritage di kawasan Kayutangan tersebut, sebagian besar berasal dari pemerintah pusat yang disalurkan melalui Dana Alokasi Khusus (DAK), dengan total mencapai Rp23 miliar.

Baca juga: Rel trem era kolonial ditemukan di lokasi pembangunan Malang Heritage

Baca juga: Pembangunan kawasan wisata Malang Heritage dimulai

Baca juga: Malang segera miliki kawasan wisata heritage di tengah kota

Baca juga: Kayutangan diresmikan jadi "Ibu Kota Heritage Malang Raya"