Malaysia Waspada COVID-19 Varian Lambda, Diprediksi Bisa Lebih Parah dari Delta

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Kuala Lumpur - Pemerintah Malaysia sedang memantau varian COVID-19 yang pertama dideteksi di Peru. Strain ini disebut varian Lambda.

"Satu strain baru yang dikatakan lebih bahaya daripada varian Delta dilaporkan telah ditemukan di lebih 30 negara sejak 4 minggu lalu," tulis akun resmi Kementerian Kesehatan Malaysia, Senin 5 Juli 2021.

"Strain Lambda dilaporkan berasal dari Peru, negara yang mencatatkan laju kematian tertinggi di dunia," lanjut Kemenkes Malaysia.

Kemenkes Malaysia membagikan artikel dari media Australia, yakni news.co.au. Artikel itu menyebut Lambda sudah menyerang Australia.

Varian itu terdeteksi dari orang-orang yang datang dari luar negeri di New South Wales. Penelitian tahap awal menyebut varian itu belum tersebar di Australia.

Profesor Pablo Tsukayama dari Universitasi Cayetano Heredia berkata Lambda sudah meledak di Peru. Varian baru itu kini menjadi 82 persen kasus di Peru.

"Itu menunjukan bahwa laju transmisi lebih tinggi dari varian lain," ujarnya.

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

Kasus COVID-19 Varian Delta Naik, Warga California AS Diimbau Kembali Pakai Masker

Orang-orang mengunjungi Museum Grammy pada hari pertama dibuka kembali setelah lebih dari setahun ditutup akibat COVID-19 di Los Angeles, Jumat (21/5/2021). Mulai 15 Juni, California akan mencabut sebagian besar pembatasan pandemi, termasuk jarak sosial dan penggunaan masker. (Frederic J. BROWN/AFP)
Orang-orang mengunjungi Museum Grammy pada hari pertama dibuka kembali setelah lebih dari setahun ditutup akibat COVID-19 di Los Angeles, Jumat (21/5/2021). Mulai 15 Juni, California akan mencabut sebagian besar pembatasan pandemi, termasuk jarak sosial dan penggunaan masker. (Frederic J. BROWN/AFP)

Di California, pejabat kesehatan masyarakat Los Angeles County mengimbau warga untuk memakai masker bila berada dalam ruang tertutup di tempat umum.

Dikutip dari VOA Indonesia, Senin (5/7) langkah tersebut dilakukan untuk menangani naiknya kasus COVID-19 varian delta, yang menyebar cepat di negara bagian California, Amerika Serikat.

Tidak tanggung-tanggung, imbauan itu juga berlaku bagi warga yang telah divaksinasi.

Hanya dua pekan setelah otoritas California mencabut sebagian besar pembatasan terkait Virus Corona, pejabat kesehatan di negara bagian itu mengimbau agar masyarakat tetap memakai masker di tempat umum karena varian delta yang menyebar.

Imbauan tersebut terlihat di laman Twitter Departemen Kesehatan Los Angeles pada 28 Juni 2021.

Imbauan itu membuat bingung sekaligus kesal banyak warga Los Angeles. Namun, banyak yang mengikutinya karena kekhawatiran akan risiko penyebaran COVID-19 varian Delta.

Pada Mei 2021, hanya sekitar empat persen dari mereka yang tertular COVID-19 varian delta.

Kemudian pada Juni 2021,angka itu naik menjadi 14,5 persen.

"Varian virus ini jauh lebih menular daripada, katakanlah, flu biasa. Sifat varian baru delta ini lebih mirip protein manusia. Itu sebabnya varian ini sangat menular," kata Dr. Alexander Ljubimov pada Rumah Sakit Cedars-Sinai.

Infografis COVID-19:

Infografis 11 Aplikasi untuk Konsultasi Online dan Obat Gratis Pasien Isolasi Mandiri Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)
Infografis 11 Aplikasi untuk Konsultasi Online dan Obat Gratis Pasien Isolasi Mandiri Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)
Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel