Malu Terlilit Utang Padahal Dikenal Tajir, Motif Suami Bunuh Istri & Anak di Serang

·Bacaan 2 menit

Merdeka.com - Merdeka.com - Kasus Supriadi, pria 44 tahun yang membunuh Tumijem (43) istri dan anaknya yang masih berusia 9 tahun masih diusut Polda Banten. Teranyar, diketahui motif pelaku tega menghabisi nyawa orang terkasihnya karena depresi.

Diketahui, pelaku sehari-hari mempunyai usaha jual beli kain dan berjalan lancar bahkan berkecukupan. Namun, dalam beberapa tahun belakang, usaha konveksinya drop, ada permasalahan ekonomi yang membuatnya berutang.

Demikian dikatakan Kabid Humas Polda Banten Kombes Shinto Silitonga.

Faktor kedua, kata Shinto, yaitu kesehatan tersangka dalam beberapa bulan ini secara fisik mengalami kondisi sakit pada bagian pundak, leher dan kepala, namun belum dilakukan pemeriksaan ke dokter sehingga belum mendapatkan diagnosa.

"Kemudian, faktor ketiga secara psikis tersangka merasa malu karena dikenal mapan ternyata mempunyai utang dan tekanan juga terjadi karena tersangka diisukan mempunyai wanita idaman lain," ungkapnya.

Pun, Shinto mengungkap kondisi kesehatan tersangka Supriadi kini berangsur membaik. Namun, pada saat di Rutan Polres Serang penyidik juga menganalisa kondisi kejiwaan tersangka.

"Maka penyidik berkoordinasi dengan bagian psikologi Biro SDM Polda Banten, sehingga dilakukan uji kejiwaan dengan orientasi dan wawancara baik terhadap tersangka maupun terhadap lingkungan tempat tinggal dan keluarganya," katanya.

Shinto mengatakan, penyidik juga membuat 'second opinion' dengan membawa tersangka melakukan uji kejiwaan di RSUD Drajat Prawiranegara.

Menurut Shinto, kesimpulan dari hasil uji kejiwaan terhadap tersangka SA dinyatakan dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya meski dalam kondisi depresi.

"Kesimpulan dari Bagian Psikologi Biro SDM Polda Banten bahwa tersangka mengalami depresi yang diakibatkan oleh beberapa faktor," katanya. Shinto Silitonga.

Shinto mengatakan, dari ketiga faktor pendorong masalah tersebut, mengakibatkan tersangka depresi yang kemudian melakukan aksi kekerasan terhadap istri dan anaknya hingga meninggal dunia.

"Namun kondisi tersangka yang depresi ini tidak menutup pertanggungjawaban pidana yang dilakukan oleh tersangka atas peristiwa tersebut," kata Shinto.

Shinto menambahkan, penyidik telah melakukan pemeriksaan terhadap 5 orang saksi termasuk anak tersangka IH (15) dan pada saat pemeriksaan didampingi oleh keluarga dan psikolog dari Polda Banten.

"Atas perbuatannya, maka tersangka SA dipersangkakan Pasal 44 ayat 3 UU No. 23 Tahun 2004 tentang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga dengan ancaman pidana 15 tahun penjara kemudian dilapis dengan Pasal 338 KUHPidana tentang pembunuhan dengan ancaman pidana 20 tahun penjara," kata Shinto. Seperti dikutip Antara.

Sebelumnya, SA (44) seorang pria warga Kecamatan Kragilan, Kabupaten Serang harus berurusan dengan kepolisian. Dia diduga telah membunuh istrinya TJ (43) dan anaknya yang berusia 9 tahun di rumahnya pada Jumat (8/4) pukul 01.30 Wib. [rhm]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel