'Manatiang', Gaya Unik Pramusaji Restoran Padang yang Tersohor ke Penjuru Dunia

Liputan6.com, Padang - Ketika melihat restoran Padang, apa yang pertama kali terlintas dalam pikiran Anda? Beragam masakannya yang lezat sudah pasti, tetapi ada yang lebih menarik yakni cara unik penyajiannya.

Sebagian besar pramusaji di Restoran Padang selalu membawa piring dalam jumlah banyak di tangannya ketika menghidangkan makanan. Cara ini juga sering menjadi tontonan pengunjung terutama dari luar daerah Minangkabau.

Di Ranah Minang, menyajikan makanan dengan membawa piring dalam jumlah banyak ini biasa disebut manatiang.

Hasril Chaniago dalam buku Kisah Hidup Haji Bustaman Pendiri Restoran Sederhana mengungkapkan seorang tukang tatiang yang jago bisa membawa 25 piring di kedua tangannya tanpa mengurangi kelincahan ketika berjalan.

"Pelayanan khas rumah makan Padang adalah cepat dan sigap. Begitu tamu datang dan duduk, makanan langsung dihidangkan tanpa perlu memesan hendak makan pakai apa," tulis Hasril Chaniago.

Salah satu filosofi dari rumah makan Padang adalah, lamak di awak, katuju di urang yang berarti enak bagi kita dan disukai pula oleh orang lain.

Namun belakangan, dari hasil pantauan Liputan6.com sudah banyak rumah makan Padang yang mengganti cara 'manatiang'.

Di salah satu rumah makan yang direkomendasikan Pemerintah Kota Padang misalnya, tak ada lagi pramusaji yang manatiang piriang. Namun, cara itu diganti dengan sejenis rak yang memiliki roda. Di sana piring makanan diletakkan dan didorong ke meja pelanggan.

Salah seorang pramusaji rumah makan, Sofita mengatakan hal itu untuk menghemat waktu agar penyajian lebih cepat.

"Iya di sini sudah jarang disajikan dengan membawa piring dalam jumlah banyak," ujarnya.

Makna Manatiang di Restoran Padang

Penyajian yang unik dengan membawa piring dalam jumlah banyak, memiliki makna tersendiri, di antaranya agar pelanggan tidak menunggu lama.

Salah seorang pramusaji di rumah makan Padang, Putra, mengatakan mereka ingin menunjukkan semangat yang lebih kepada para pembeli dan pelanggannya.

Alasan lainnya yakni, pramusaji memiliki fokus yang tinggi, dan konsisten terhadap pekerjaannya sehari-hari.

"Saya juga mendengar cerita bahwa penyajian dengan membawa piring juga sebagai atraksi yang menarik bagi setiap pelanggan," jelasnya.

Kemudian, keunikan lain dari rumah makan Padang ialah porsi nasi yang lebih banyak ketika dibungkus daripada saat makan di tempat.

Keunikan ini dalam cerita masyarakat ada sejarahnya dan punya tujuan yang mulia. Yakni, zaman dahulu, hanya orang yang berduit yang mampu makan di restoran Padang.

Sedangkan, rakyat jelata memilih membungkus makanannya untuk dimakan di rumah. Sehingga, untuk membantu rakyat jelata ini, pramusaji memberi porsi lebih agar bisa dimakan bersama seluruh anggota keluarga.

Saksikan juga video pilihan berikut ini: