Mandiri Sekuritas Proyeksi Ekonomi Indonesia Tumbuh 4,4 Persen di 2021

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Mandiri Sekuritas memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 4,1 hingga 4,4 persen tahun ini.

Chief Economist Mandiri Sekuritas Leo Putera Rinaldy mengatakan, penetapan proyeksi pertumbuhan ekonomi ini didasari oleh pemulihan ekonomi domestik dan global yang terus berlanjut meski pandemi Covid-19 masih melanda Indonesia.

"Overall, full year forecast kita proyeksi 4,1-4,4 persen. Di tahun 2022, kita expect akan mencapai pre-Covid-19 level, slightly about 5 persen," jelas Leo dalam jumpa pers, Selasa (29/6/2021).

Pemulihan ekonomi yang dimaksud tercermin dari sisi konsumsi dan investasi. Menurut Leo, konsumsi masyarakat hingga Mei 2021 mengalami peningkatan meski masih didominasi konsumsi masyarakat kelas menengah atas.

"Namun mulai second quarter ini, konsumsi level mid to low juga akan membaik karena adanya fiscal spending pemerintah," lanjutnya.

Sementara dari sisi investasi, sifatnya lebih broad-based atau beragam. "Investasi swasta non konstruksi didominasi oleh sektor-sektor yang berbasis ekspor sehingga pertumbuhan investasi mengalami keberlanjutan," ujarnya.

Sri Mulyani Mulai Pesimis soal Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Warga berada di sekitar Spot Budaya Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Kamis (5/11/2020). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia pada kuartal III-2020 minus 3,49 persen, Indonesia dipastikan resesi karena pertumbuhan ekonomi dua kali mengalami minus. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)
Warga berada di sekitar Spot Budaya Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Kamis (5/11/2020). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia pada kuartal III-2020 minus 3,49 persen, Indonesia dipastikan resesi karena pertumbuhan ekonomi dua kali mengalami minus. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati mengaku pesimistis, proyeksi pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 8,3 persen di kuartal II-2021. Hal ini disebabkan oleh lonjakan kasus covid-19 yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.

Dia mengatakan, kenaikan kasus covid-19 di Pulau Jawa akan memberi konsekuensi terhadap pemulihan ekonomi nasional. Apalagi selama ini Pulau Jawa memiliki kontribusi terbesar kepada perekonomian, sehingga akan berpengaruh terhadap outlook dari pemerintah.

"Kuartal II yang disampaikan minggu lalu 7,1 sampai dengan 8,3 persen. Seiring dengan kenaikan covid, mungkin upper end-nya akan lebih rendah," kata dia dalam video conference APBN Kita, Senin (21/6/2021).

Meksi begitu, Sri Mulyani masih optimistis bahwa pertumbuhan ekonomi kuartal II tetap berada di zona positif. Berbagai indikator perekonomian mulai dari indeks manufaktur, keyakinan konsumen, konsumsi listrik, hingga penjualan kendaraan bermotor sudah tumbuh.

"Tapi kita mengetahui, bahwa kuartal II selain rebound dan recovery, tahun lalu kuartal II dalam sekali 5,3 persen kontraksinya, di satu sisi rebound atau natural base effect yang terjadi. Di sisi lain juga ada geliat perekonomian, kita harus lihat faktor penopang ini," ungkapnya.

Bendahara Negara itu menambahkan, kenaikan kasus covid-19 seperti yang terjadi di DKI Jakarta perlu menjadi perhatian serius dari pemerintah.

Jika tidak dilakukan penanganan secara serius, maka khawatir upaya pemulihan ekonomi yang sudah dijalankan sejak awal tahun bisa kembali tertekan.

"Jadi pusat perhatian minggu-minggu ini akan pengaruhi pertumbuhan ekonomi di kuartal II, karena kuartal II sampai Juni. Oleh karena itu, covid-19 harus dikendalikan, karena kalau enggak, enggak bisa kita normalisir apa pun, baik itu pendidikan, sosial, keagaman, maupun ekonomi," pungkas dia.

Reporter: Dwi Aditya Putra

Sumber: Merdeka.com

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel