Manipulasi Sejarah dan Kembalinya Dinasti Politik Korup Filipina

Merdeka.com - Merdeka.com - Ayahnya seorang diktator kejam. Ibunya terkenal karena koleksi sepatu mahalnya.

Ferdinand Marcos Jr, 64 tahun, atau yang lebih dikenal dengan nama Bongbong, maju sebagai calon presiden Filipina dalam pemilu yang akan digelar hari ini. Dan dia tampaknya akan menang.

Dalam kampanye di hari terakhir Sabtu kemarin para pendukungnya mengelu-elukan Marcos Jr sebagai calon kuat presiden Filipina berikutnya. Survei-survei menunjukkan dia bisa menang.

Namun peluang kemenangan Marcos Jr ini membuat khawatir para aktivis, pemimpin gereja dan pengamat politik yang menilai dia bisa berkuasa sama korupnya dengan sang ayah.

Dilansir dari laman BBC, Sabtu (7/5), kembalinya dinasti Marcos ke panggung politik dimotori oleh kemarahan publik atas kasus korupsi dan kemiskinan yang berlarut-larut di bawah pemerintahan diktator saat ini dan dukungan setia selama bergenerasi dan campur tangan media sosial.

Keluarga Marcos yang digulingkan lewat revolusi rakyat pada 1986 selama ini menjadi simbol dunia untuk korupsi.

Laporan independen dan dokumen pengadilan memberikan bukti tidak terbantahkan tentang terjadinya pelanggaran hak asasi dan penyalahgunaan kekuasaan di masa kepemimpinan Marcos.

Ketika massa revolusioner merangsek masuk ke Istana Presiden mereka menemukan foto keluarga mewah, jacuzzi berlapir emas, 15 mantel bulu, 508 gaun dan yang paling terkenal 3.000 pasang sepatu milik istri Marcos.

Kini Bongbong adalah salah satu kandidat presiden dan para pendukungnya mengabaikan fakta-fakta itu.

Kubu pesaing mengatakan itu karena pengaruh media sosial yang menyebarkan berita sesat dan menyelewengkan sejarah, tuduhan yang dibantah keluarga Marcos.

Namun selama bertahun-tahun, Facebook menjadi ajang unggahan propaganda dan akun anonim yang membela keluarga Marcos.

Manipulasi sejarah masa lalu ini begitu massif dan menyebar sehingga orang terbuai dan menganggap berita sesat adalah kebenaran.

Narasi yang kerap digaungkan adalah masa kepemimpinan Marcos merupakan era keemasan Filipina meski ekonomi sebetulnya sudah kocar-kacir dan utang negara menumpuk di bank asing.

Kesetiaan dan Warisan

Jesus Bautista, 71 tahun, asal Manila adalah pendukung Bongbong.

Bautitsta biasanya memulung sampah di gunungan sampah yang dikenal dengan nama "Gunung Asap" karena tempat itu adalah kumpulan sampah yang mudah terbakar dan berasap.

Pada 1983 dia ditawari bekerja penuh dan pensiun di dinas lalu lintas kota.

Pada saat itu Imelda Marcos, istri Marcos, ditunjuk sebagai Gubernur Metro Manila.

Dia mengatakan dirinya punya utang budi dengan Imelda karena telah memberinya pekerjaan itu.

Meski Imelda sudah didakwa bersalah atas penjarahan uang rakyat senilai USD 10 miliar, dia mengaku tetap akan memilih putranya dalam pemilu kali ini.

"Saya tidak pernah melihat korupsi," kata Bautista dengan senyumnya yang lebar seraya dia duduk di kursi bambu. "Itu cuma omongan orang saja, mungkin musuh mereka ingin merusak namanya, kan?"

Jurnalis Amerika Serikat Jim Laurie adalah salah satu wartawan yang ikut menyaksikan bagaimana massa menyerbu istana Marcos.

"Ketika masuk ke kamar Imelda orang melihat dia punya ratusan gaun mewah dan pakaian dengan label dari Bergdorf Goodman di New York dan toko terkenal lainnya di Paris dan Roma. Dia tidak pernah memakai itu semua. Tapi di negara yang miskin, kondisi itu sangat kontras dan melihat itu semua rasanya sungguh sangat vulgar," kata dia.

Rupanya itu hanya puncak dari gunung es.

Dokumen di dalam istana memperlihatkan keluarga Marcos punya jutaan dolar uang haram di bank Swiss dan sejumlah properti di kawasan elit Manhattan, New York.

Ditakdirkan jadi pemimpin

Bongbong sejak kecil sudah diarahkan untuk jadi pemimpin.

Rekaman video dokumen dari 1986, ketika usianya 28 tahun, Bongbong dengan gagah berdiri di samping ayahnya dengan pakaian militer di hari ketika keluarga terpaksa angkat kaki dari istana kepresidenan saat revolusi 1986.

Namun dalam salah satu catatan harian ayahnya pada 1972 terungkap kekhawatiran sang ayah terhadap anak laki-lakinya:

"Bongbong adalah sumber kecemasan kami. Dia terlalu ceroboh dan pemalas."

Pada 1975 Bongbong kuliah di Universitas Oxford mengambil jurusan filsafat, Politik, dan Ekonomi (PPE), bidang studi yang menjadi jalan untuk mencetak politisi. Tapi dia tidak sampai lulus--meski dia membantah soal ini.

Sebuah laporan dari situs berita Filipina Verafiles mengungkap diplomat Filipina melobi pihak kampus agar memberikan Bongbong gelar diploma khusus di bidang ilmu sosial setelah dua kali gagal dalam ujian.

Kisah kontroversial ini tidak membuatnya berhenti membangun karir politik di masa rezim ayahnya sampai akhirnya revolusi menghentikan itu semua.

Kini setelah kembali, dia semakin mendapat dukungan kuat.

manipulasi sejarah dan kembalinya dinasti politik korup filipina
manipulasi sejarah dan kembalinya dinasti politik korup filipina

Pasangan Bongbong dalam pemilu kali ini adalah Sara Duterte, perempuan 43 tahun, putri dari petahana Presiden Rodrigo Duterte.

Konstitusi Filipina melarang Duterte untuk maju kedua kalinya setelah berkuasa selama enam tahun sebagai presiden.

Sara Duterte berjanji akan bekerja sama dengan BongBong untuk mempersatukan bangsa agar menjadi negara yang "bangkit kembali".

Dampak media sosial

Untuk memahami mengapa Bongbong bisa mendapat dukungan politik kuat, bisa dilihat dari Provinsi Ilocos Norte, lokasi basis dukungan keluarga Marcos.

Banyak warga di sana masih sangat setia kepada keluarga Marcos karena mereka mendapat banyak dana bantuan di saat tempat lain mengalami kesulitan.

"Bayangkan ada angin topan yang menghancurkan seantero negeri tapi Ilocos Norte seperti tidak tersentuh sedikit pun," ujar seorang jurnalis.

Orang-orang di sana tidak percaya keluarga Marcos itu korupsi dan pelaku pelanggaran HAM akibat manipulasi di media sosial.

"Di media sosial, mereka mengalihkan pembicaraan. Tidak soal jika orang itu sangat korup, mereka akan bilang dia punya banyak jasa seperti membangun infrastruktur. Tak ada gunanya berdebat dengan mereka," kata Zsa Zsa Raval, pengacara magang yang mengaku tidak akan memilih Marcos.

"Banyak sekali pendengung di media sosial yang merundung saya. Saya bahkan dilecehkan. Mereka bertanya, mengapa? Kamu kan orang Ilocano, mengapa mau memilih orang lain? Jawaban saya mudah, karena saya orang Filipina."

Tak hanya narasi manipulatif yang menyebar di medsos.

Akun-akun anonim juga menggaungkan kabar sebaliknya dan menyerang para jurnalis dan mereka yang mengungkap fakta sebenarnya.

Contohnya, ketika Laurie mengunggah video laporan jurnalistiknya di masa darurat militer di YouTube, mereka banyak yang menentang.

"Mereka bilang, 'saya tidak percaya. Ini pasti video editan dari 1986, itu bohong," kata Laurie.

Pengkritik Bongbong mengatakan di masa kampanye kemarin dia sudah memperlihatkan ketidakjujurannya, menolak kritik, dan dikelilingi kroni-kroni yang sifatnya "asal bapak senang".

Jika dia terpilih, banyak kalangan khawatir tentang "buah jatuh tidak jauh dari pohonnya." [pan]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel