Manisnya Bisnis Cokelat, Bahkan Bisa Tetap Bertahan di Tengah Pandemi

·Bacaan 4 menit

Fimela.com, Jakarta Kita bisa bersinar melalui setiap pilihan hidup yang kita buat dalam hidup. Baik dalam hal pendidikan, karier atau pekerjaan, dan pilihan soal impian serta cita-cita. Setiap perempuan bisa menjadi sosok tangguh melalui setiap pilihan hidup yang diambil. Seperti dalam tulisan Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Share Your Stories Oktober 2020: Menjadi Lady Boss Versimu ini.

***

Oleh: Aisa Marisa

Semua berawal di tahun 2018 ketika saya sudah mengalami kebosanan tingkat tinggi. Saat itu, status saya adalah anak rantau di sebuah kota kecil daerah jawa timur. Setelah melewati satu tahun pertama di 2017, secara perlahan saya bisa beradaptasi dengan budaya dan juga pekerjaan baru. Sama seperti pekerja lainnya, saya menghabiskan waktu sekitar 8 jam di kantor. Berangkat kerja pun tidak terlalu pagi sehingga saya punya banyak waktu luang sebelum dan sesudah bekerja.

Rutinitas seperti ini perlahan membunuh saya karena sedari dulu saya sudah terbiasa melakukan banyak hal dari pagi hingga malam. Rasanya aneh saja, berada di sebuah masa di mana saya banyak di rumah dan punya waktu cukup banyak (bahkan lebih) untuk rebahan.

Hati saya gelisah, otak terus berputar, mata dan tangan saya terus aktif mencari jawaban untuk pertanyaan yang muncul di tahun kedua perantauan. Apa yang bisa saya lakukan di malam hari setelah selesai bekerja?

Sebuah ide muncul di awal Februari tahun 2018. Di bulan penuh cinta tersebut, tentunya cokelat menjadi sesuatu yang paling dicari. Saya pun teringat di masa kuliah dulu, saya sempat menjaga booth di suatu bazar. Ya! Booth yang menjual buah berbalut cokelat. Well, saya percaya pengalaman di masa lalu bukanlah sebuah kebetulan. Saya mencari berbagai referensi dari beberapa sumber dan setelah itu dikombinasikan dengan ide saya. Saya mulai bersemangat dan merasakan aliran energi yang mendorong saya untuk serius merealisasikannya.

Setelah beberapa kali melakukan uji coba, lahirlah sebuah brand cokelat karya saya pribadi. Keunikan usaha saya adalah pembeli bisa melakukan custom packaging untuk coklat yang mereka pesan. Bahan baku yang saya gunakan cukup premium karena bagi saya taste adalah segalanya. Tidak perlu khawatir mengenai harga karena sangat terjangkau. Saya tidak ingin kehilangan momentum valentine ini, oleh karena itu saya langsung merekrut tiga orang untuk menjadi tim sales. Mereka adalah anak sekolah menengah dan juga anak kuliah. Saya memulai strategi marketing dengan membagikan tester. Dan tidak perlu waktu lama, dalam hitungan hari saya sudah mendapatkan banyak pesanan. Di tahun 2018 inilah, saya juga bersyukur bisa membantu tim saya mendapatkan tambahan uang saku. Tidak banyak memang namun cukup membantu.

Tawaran untuk membuka bazar di akhir pekan tidak saya lewatkan dan omset saya cukup lumayan di tiga bulan pertama. Sebetulnya dari awal, saya tidak terlalu fokus kepada target pendapatan karena tujuan usaha ini dibuat memang bukan untuk itu.

Bertahan di Tengah Masa Sulit dan Impian yang Lebih Baik

(c) Shutterstock
(c) Shutterstock

Saya sudah cukup puas ketika kreativitas & skill saya tersalurkan dengan baik serta bisa membantu orang lain. Namun sungguh benar pepatah yang mengatakan bahwa usaha tidak akan mengkhianati hasil. Berkat ketekunan dan kerja keras, saya bisa menikmati pendapatan tambahan sebagai imbalan atas prestasi kecil saya. Momen khusus seperti natal, hari raya, dan valentine adalah waktu tersibuk karena semua orang ingin merayakan kegembiraan. Selebihnya adalah pesanan individu atau badan usaha untuk keperluan internal.

Seiring berjalan waktu, saya mencoba berinovasi dalam dunia per-coklat-an ini. Sebuah ide muncul di bulan Mei tahun 2020. Ya di masa pandemi, usaha saya tetap eksis bahkan melahirkan produk baru. Saya bersyukur dipertemukan dengan supplier bahan baku minuman cokelat. Bahkan lebih dari itu, bahan baku ini berasal dari UMKM.

Rasanya senang luar biasa karena saya bisa membantu banyak orang secara tidak langsung. Berbekal pengalaman saat bekerja di coffee shop Kanada, saya meramu minuman cokelat versi saya. Setelah melakukan uji coba, lahirlah dua varian minuman cokelat yang rasanya bisa dibandingkan dengan brand mahal. Saya bersyukur rasa minuman cokelat ini bisa diterima dengan baik dan seketika daftar pesanan saya terus bertambah. Tidak pernah terbayang oleh saya bahwa inovasi yang dilakukan di masa pandemi berbuah manis. Dan ini membuat saya cukup survive di tahun 2020 ini. Keputusan saya memulai usaha di tahun 2018 lalu tidak pernah saya sesali.

Impian saya untuk usaha ini cukup besar. Saya ingin sekali punya chocolate clinic, di mana di dalamnya terdapat etalase produk, ruang produksi serta ruang belajar untuk anak-anak magang. Saya bermimpi, usaha saya bisa menjadi tempat pembekalan skill dan kreativitas bagi anak muda. Sehingga ketika nanti mereka terjun ke dunia kerja, setidaknya mereka punya kemampuan yang bisa "dijual". Pengembangan sumber daya manusia menjadi mimpi besar saya di masa depan. Ikut berkontribusi dalam membentuk anak bangsa menjadi tujuan sosial yang tidak akan saya lepaskan dalam usaha ini.

#ChangeMaker