Mantan Atlet Menjual Medali Emas Demi Pengobatan Anak

Riki Ilham Rafles
·Bacaan 1 menit

VIVAMantan atlet dayung Indonesia, Leni Haini mendadak ramai diperbincangkan. Sebabnya, dia memilih untuk menjual medali emas untuk biaya pengobatan anaknya, Habibatul Fasia.

Leni mengantarkan tim dayung Indonesia berjaya di ajang SEA Games 1997 dengan sumbangan dua medali emas dan satu perak. Dua tahun berselang di Brunei Darussalam, sumbangannya juga emas dan perak.

Begitu pensiun sebagai atlet, kehidupan Leni berubah drastis. Sampai sekarang dia harus membiayai pengobatan anaknya yang menderita penyakit epidermolysis bullosa.

Karena tidak memiliki penghasilan tetap, Leni kemudian coba menawarkan medali emas yang dia miliki. Kemudian masalah ini menjadi perhatian masyarakat dan viral di media sosial.

Mendengar kabar seperti ini, Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) langsung bergerak. Melalui Sesmenpora, Gatot S Dewa Broto, komunikasi dengan sejumlah lembaga dilakukan.

Gatot coba berkomunikasi dengan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) dan Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Jambi. Tujuannya agar sebagai wakil pemerintah, mereka bisa berkoordinasi dengan cepat.

Mengambil contoh apa yang pernah dialami oleh mantan atlet angkat besi Indonesia, Sri Winarni yang juga butuh bantuan untuk pengobatan anaknya. Ketika itu BPJS miliknya sempat mati, dan langsung diaktifkan kembali setelah dilakukan koordinasi.

Diakui Gatot, beberapa waktu lalu pemerintah, termasuk Kemenpora telah memberikan bantuan untuk Leni Haini dengan jumlah yang lumayan. Jika saat ini masih membutuhkan biaya, sudah pasti akan tetap diberi tambahan.

"Kami juga tidak boleh abai. Dia atlet pilihan dan pernah memberi medali emas untuk Merah Putih. Kami bagaimana caranya untuk berhubungan dengan dinas terkait dan BPJS, kemudian kalau perlu mendorong donasi dari masyarakat," tutur Gatot.

Donasi dari masyarakat menurut Gatot merupakan rujukan dari masalah yang sempat menimpa Sri Winarni. Ketika itu banyak yang tergerak memberi bantuan.

Bentuk dukungan dari masyarakat itulah yang menjadi awal kepedulian terhadap nasib mantan atlet Indonesia meningkat.