Mantan atlet peraih emas Asian Games IV 1962 luncurkan buku

Mantan atlet peraih medali emas pada cabang olah raga loncat indah pada Asian Games IV 1962 di Indonesia, Lanny Gumulya meluncurkan buku berjudul "Lanny Gumulya, Kisah Gadis Kolam yang Terbang Mengibarkan Sang Merah Putih" untuk menginspirasi generasi muda Tanah Air agar selalu berprestasi.

"Nama Gumulya adalah nama yang diberikan oleh Bung Karno saat berkunjung ke pusat pelatihan di Bandung, tempat para atlet dipersiapkan untuk bertanding pada Asian Games IV 1962. Gumulya singkatan dari Goei yang Mulia, dari nama asli Goei Giok Lan," kata Lany kepada wartawan di Jakarta, Kamis.

Lanny juga mengatakan dirinya juga dipercaya membawa obor pada pembukaan Asian Games ke-18 2018 di Gelora Bung Karno, Jakarta.

"Sampai saat ini, saya masih sebagai peraih medali emas satu-satunya pada cabang olah raga akuatik loncat indah, sejak Asian Games IV 1962 berlangsung," ucap Lanny menjelaskan isi bukunya.

Baca juga: Pemprov DKI tingkatkan kualitas SDM lewat promosi literasi

Dia juga menceritakan pesan Presiden Soekarno yang masih terngiang-ngiang hingga kini.

“Terima kasih, kamu telah mempersunting bunga melati di sanggul Ibu Pertiwi," kata Lanny mengutip ucapan terima kasih Bung Karno terhadap dirinya atas prestasi menyumbangkan satu medali emas cabang olah raga akuatik loncat indah saat itu.

Saat itu jelas Lanny, dirinya juga diminta ikut menari lenso bersama para pejabat negara yang hadir pada acara perpisahan dengan para atlet usai Asian Games IV 1962.

Buku biografi berjudul “Lanny Gumulya, Kisah Gadis Kolam yang Terbang Mengibarkan Sang Merah Putih” ini ditulis oleh anak Lanny, Melanie Kartadinata sebagai hadiah ulang tahun ke-78 pada 13 November 2022.

Baca juga: Wali Kota Jakarta Selatan gencarkan literasi dengan gandeng komunitas

Melanie dalam buku itu mengisahkan sosok masa kecil ibunya hingga menjadi atlet, menikah, memiliki anak dan memilih hengkang dari dunia olahraga yang sudah sejak kecil menemaninya.

"Sosok tegar, kuat, berkarakter juara, lembut dan pantang menyerah. Membuat saya terpanggil menulis kisah ibu agar jadi penyemangat bagi putera-puteri Indonesia, khususnya para atlet loncat indah," katanya.

Pada sub-bab terakhir, Melanie menceritakan kisahnya dalam mencari makna hidup yang lebih otentik, sederhana dan bahagia setelah melihat sosok Ibunya, Lanny Gumulya.

Lany kini tinggal bersamanya, suami, dan anak-anak sepeninggal ayahnya yang berpulang pada 2019.

Baca juga: Wagub harap rumah literasi Jakarta jadi wadah berkumpulnya insan buku