Mantan dubes AS untuk Ukraina ajak mahasiswa tekuni diplomasi

WASHINGTON (AP) - Diplomat karir AS yang dicopot dari jabatannya di Ukraina oleh Donald Trump, kemudian dikritik oleh presiden AS itu ketika dia bersaksi di sidang pemakzulan, mendesak mahasiswa untuk mengikuti jejaknya karena AS “membutuhkan diplomat yang siap dan mampu."

“Negara ini membutuhkan kebijakan luar negeri yang kuat," kata Marie Yovanovitch, mantan duta besar AS untuk Ukraina, Rabu, ketika dia menerima Trainor Award untuk keunggulan dalam diplomasi dari Institute for Study of Diplomacy di Georgetown University.

Yovanovitch memuji "kerja diplomasi yang tenang" sebagai cara untuk memastikan perdamaian dan kemakmuran di dunia.

"Kedengarannya sangat kuno di dunia teknologi tinggi kita, tetapi diplomasi adalah tentang interaksi manusia dan menciptakan hubungan kepercayaan lebih penting dari sebelumnya," katanya. "Ini tidak semenarik mengirim marinir, tetapi lebih murah dan biasanya lebih efektif dalam jangka panjang."

Nama penghargaan itu diambil dari nama seorang mantan pejabat Walsh School of Foreign Service, Raymond "Jit" Trainor, diberikan setiap tahun kepada "seorang praktisi yang luar biasa" di bidang diplomasi. Penerima termasuk mantan Menlu AS Madeleine Albright, mantan Presiden Meksiko Ernesto Zedillo dan mantan Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan.

Thomas Pickering, mantan duta besar AS untuk PBB, mengatakan Yovanovitch menunjukkan keberanian tidak hanya di pos-pos diplomatik di Rusia dan di tempat lain, tetapi juga atas kesediaannya untuk bersaksi di depan Kongres, ketika ia secara terbuka dikecam di Twitter oleh Trump.

"Dia, dalam segala hal, bertindak dalam tradisi tertinggi dari mereka yang melayani negara kita," kata Pickering, yang juga penerima Penghargaan Trainor.

Yovanovitch tampil di publik pertama kalinya sejak kesaksiannya kepada Kongres tentang upayanya untuk menekan pemerintah Ukraina untuk mengatasi masalah kebijakan AS yang sudah lama ada tentang korupsi. Pada saat itu upaya saluran belakang yang dipimpin oleh Rudy Giuliani, pengacara pribadi Trump, berusaha untuk mendorong pemerintah negara Eropa Timur itu untuk menggali keburukan politik untuk membantu terpilihnya kembali Trump.

Giuliani adalah bagian dari kampanye yang mengarahkan presiden untuk memberhentikan Yovanovitch dari jabatan dubes, lebih cepat dari jadwal musim semi lalu. Trump tampaknya mengancamnya, dengan mengatakan bahwa dia "akan melalui beberapa hal," dalam pembicaraan telepon Juli dengan pemimpin Ukraina yang menjadi pusat kasus pemakzulan terhadap Trump.

Yovanovitch menerangkan panggilan itu selama upacara di Georgetown dalam salah satu dari beberapa referensi langsungnya untuk pemakzulan. "Ketika kamu melewati beberapa hal," katanya, sambil tertawa, "untuk kembali pada klise kamu harus menggali lebih dalam sedikit."

Yovanovitch, yang dicopot dari jabatannya pada Mei 2019 tanpa penjelasan publik, menggambarkan kepada Kongres sebuah "kampanye terpadu" terhadapnya berdasarkan "klaim tidak berdasar dan palsu oleh orang-orang dengan motif yang jelas dipertanyakan."

Trump secara terbuka mengkritiknya ketika dia bersaksi, mengatakan di Twitter bahwa "di mana-mana Marie Yovanovitch menjadi buruk."

Meski demikian, dalam 34 tahun karirnya di kementerian luar negeri, Yovanovitch
menerima banyak promosi baik saat pemerintahan Republik maupun Demokrat, dengan sejumlah jabatan termasuk duta besar untuk Kirgizstan dan Armenia.

Dalam sebuah kolom baru-baru ini di The Washington Post, dia menyebut bahwa suatu kehormatan untuk mewakili Amerika Serikat sebagai seorang imigran ke negara itu dan membela keputusannya, dan para pejabat senior lainnya, untuk berbicara di depan Kongres tentang apa yang mereka pandang sebagai kesalahan oleh pemerintahan.

"Ketika pegawai negeri sipil dalam pemerintahan saat ini melihat pejabat senior mengambil tindakan yang mereka anggap sangat salah dalam hal negara Ukraina, mereka menolak untuk mengambil bagian," tulisnya. "Ketika Kongres meminta kami untuk bersaksi tentang kegiatan-kegiatan itu, saya dan kolega saya tidak ragu, bahkan dalam menghadapi upaya administrasi untuk membungkam kami."