Mantan Karyawan Dapat Perlakuan Rasis, Tesla Harus Bayar Ganti Rugi Rp 1,9 Triliun

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Perusahaan pembuat mobil ternama, Tesla diminta membayar biaya ganti rugi hampir USD 137 juta (Rp 1,9 triliun) karena gagal menghentikan perlakuan rasis terhadap mantan pekerja keturunan Afrika-Amerika di pabrik Fresno.

Owen Diaz, operator lift Tesla yang bekerja di Tesla dari 2015 hingga 2016, menghadapi lingkungan kerja yang tidak bersahabat secara rasial, menurut pengadilan federal di San Francisco, Amerika Serikat.

Dikutip dari BBC, Rabu (6/10/2021) Diaz mengklaim pekerja Afrika-Amerika kerap menghadapi gangguan rasisme di pabrik dan mendapati grafiti bernada rasis di toilet.

Gugatan Diaz menuduh pekerja Afrika-Amerika "menghadapi pemandangan langsung dari era Jim Crow" di pabrik pembuat mobil listrik Fremont.

Disebutkannya juga bahwa rekan-rekan kerjanya menggunakan julukan rasial "setiap hari" dan melontarkan ejekan seperti: "kembali ke Afrika".

"Citra progresif Tesla adalah penutup fasad atas perlakuan regresif dan merendahkan karyawan Afrika-Amerika," ujar Diaz.

Meskipun ada keluhan kepada pengawas, pengadilan menemukan Tesla tidak mengambil langkah-langkah yang wajar untuk mengatasi masalah tersebut.

Pada Senin (4/10), pengadilan San Francisco memberikan Diaz uang sebesar USD 130 juta sebagai ganti rugi dan USD 6,9 juta untuk masalah tekanan emosional yang dihadapinya, menurut pengacara Diaz.

Salah satu pengacara, Lawrence Organ dari California Civil Rights Law Group, mengatakan dia berharap hukuman yang tinggi akan memacu perubahan.

"Sungguh menyenangkan mengetahui bahwa juri bersedia meminta pertanggungjawaban Tesla, salah satu perusahaan terbesar dan terkaya di dunia akhirnya diberi tahu, 'Anda tidak bisa membiarkan hal semacam ini terjadi di pabrik Anda,' " katanya kepada Washington Post.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Tanggapan Tesla

Foto yang diabadikan pada 26 Oktober 2020 ini menunjukkan kendaraan Tesla Model 3 yang diproduksi di China (made in China) di gigafactory Tesla yang terletak di Shanghai, China timur. (Xinhua/Ding Ting)
Foto yang diabadikan pada 26 Oktober 2020 ini menunjukkan kendaraan Tesla Model 3 yang diproduksi di China (made in China) di gigafactory Tesla yang terletak di Shanghai, China timur. (Xinhua/Ding Ting)

Dalam sebuah pesan kepada karyawan yang dibagikan di situs web resmi, vice president of people Tesla Valerie Capers Workman, mengatakan dia "sangat" percaya bahwa putusan itu tidak dapat dibenarkan.

Workman menjelaskan, Tesla telah menanggapi dengan cara yang tepat waktu untuk keluhan Diaz.

"Kami menyadari bahwa pada tahun 2015 dan 2016 kami tidak sempurna. Kami masih belum sempurna. Tapi kami telah menempuh perjalanan jauh dari lima tahun yang lalu," kata Workman.

Dijelaskannya juga bahwa pihak perusahaan telah menambahkan tim hubungan karyawan, yang didedikasikan untuk menyelidiki keluhan, dan tim keragaman yang berfokus untuk memastikan peluang yang sama di Tesla.

Karyawan keturunan Afrika-Amerika hanya 4 persen dari peran kepemimpinan Tesla AS dan 10 persen dari total tenaga kerjanya di negara tersebut, menurut laporan keragaman pertamanya yang diterbitkan pada Desember 2020.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel